Penggusuran Srikandi: Dua Aktivis SRMI dan 9 Warga Ditangkap

Penggusuran paksa terhadap 142 Kepala Keluarga di Kampung Srikandi, Jatinegara Kaum, Pulogadung, Jakarta Timur, Rabu (22/5/2013)

Penggusuran paksa terhadap 142 Kepala Keluarga di Kampung Srikandi, Jatinegara Kaum, Pulogadung, Jakarta Timur, diwarnai dengan aksi kekerasan, pemukulan, penganiayaan, penembakan gas air mata, dan penangkapan dua orang aktivis Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI) dan 9 warga Srikandi.

Kedua aktivis SRMI yang ditangkap adalah Wahida Baharuddin Upa (Ketua Umum SRMI) dan Nuradim/Aris Clowor (Sekretaris SRMI Jakarta Barat). Sedangkan nama-nama warga yang tertangkap, yaitu Siagian (56 thn), Asep Nova (25 thn), Haerul Umam (15 thn), Saiman (24 thn), Fikri Ardiansyah (17 thn), Yanto (24 thn), Allank (21 thn), Wasa (39 thn), dan Iwan (15 thn).

Menurut Agus Pranata, aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang ikut berada di tengah-tengah warga, penggusuran itu berlangsung sekitar pukul 07.00 WIB. “Saat itu, warga masih sarapan. Karena pemberitahuan resmi penggusuran itu pukul 09.00 WIB,” kata Agus.

Namun, tiba-tiba sekitar 3000-an anggota Polisi, TNI, dan Satpol PP sudah merengsek masuk ke pemukiman warga. Mereka membawa serta dua alat berat (eskavator). Karena merasa dibohongi dengan jadwal penggusuran, warga pun sponton berusaha memberikan perlawanan. Saat itu, Satpol PP mulai melempar, menyerang dan memukuli sejumlah warga.

Situasi makin bertambah panas saat dua alat berat menerobos pintu pagar kantor PT. Buana Estate dan merengsek ke arah pemukiman warga. Sejumlah warga, umumnya ibu-ibu dan anak-anak, berusaha menghalangi kedua eskavator itu. Bahkan, mereka menaiki eskavator untuk mencegah penggusuran.

Namun, Polisi justru melepaskan tembakan air mata ke arah warga. Banyak ibu-ibu dan anak-anak kecil terkena gas air mata. Tak hanya itu, polisi dan Satpol PP mulai menangkap dan menganiaya warga. Akibatnya, 11 orang ditangkap dan 2 orang mengalami luka.

Teriakan histeris ibu-ibu dan anak kecil mewarnai penggusuran ini. Sejumlah ibu-ibu juga tak henti-hentinya meneriakkan “Allahu Akbar” untuk menghentikan laju eskavator yang mulai menghancurkan rumah mereka.

Tak lama kemudian, Polisi memerintahkan warga untuk mengeluarkan dan mengamankan barang-barang serta perabot rumah tangga. Akhirnya, warga berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan barang-barang dan perabot rumah mereka yang berharga.

Hingga berita ini diturunkan, proses penggusuran masih terus berlangsung. Dua alat berat masih terus merobohkan rumah-rumah warga. Sementara sebagian warga masih tetap bertahan di lokasi.

Menurut Agus Pranata, warga Srikandi akan membangun tenda di atas lokasi penggusuran. Tidak hanya itu, mereka berencana menggelar aksi pendudukan di Balai Kota DKI Jakarta besok.

Untuk diketahui, penggusuran terhadap warga Srikandi ini dilakukan oleh PT. Buana Estate milik Probosutedjo. Probosutedjo sendiri adalah adik kandung mantan diktator Orde Baru, Soeharto.

Warga sendiri sudah menempati daerah itu sejak tahun 1998. Menurut warga, mereka membeli lahan dari seorang pemilik girik nama Achmad Nian. Proses jual-beli pun menggunakan notaris resmi dari PPAT.

Namun, beberapa tahun kemudian, pemerintah mengeluarkan Hak Guna Bangunan (HGB) nomor 123 kepada PT Buana Estate. Akhirnya, terjadi sengketa antara pemili girik dengan PT. Buana Estate.

Dalam proses pengadilan, PT. Buana Estate diputuskan menang. Tapi, warga yakin, PT. Buana Estate menyuap pengadilan. Pasalnya, HGB yang dipergunakan PT. Buana Estate itu bodong alias palsu.

Andi Nursal

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut