Ratusan Ribu Pekerja Slovenia Menggelar Pemogokan

Sekitar 100.000 pekerja sekor publik di Slovenia, pada hari Rabu (18/4/2012), menggelar aksi pemogokan untuk menyelamatkan sektor publik dari serangan pemerintahan sayap kanan.

Pemogokan ini disebut-sebut yang terbesar dalam sejarah Slovenia. Pemogokan ini menghentikan layanan 600 sekolah, kepolisian—yang juga ikut pemogokan–hanya bekerja pada kejadian darurat saja, dan memperlambat pelayanan bea-cukai di perbatasan.

Hampir semua perusahaan yang dijalankan oleh negara berhenti bekerja. Demikian pula dengan pekerjaan layanan publik, seperti pencataan administratif, pengurusan identitas, dan pembuatan paspor, juga terhambat.

Serikat buruh menggelar aksi massa besar-besaran di Ljubljana dan kota-kota besar lainnya di bekas negeri sosialis tersebut. “Kami tidak akan membiarkan mereka (pemerintah) membunuh negara kesejahteraan,” kata Branimir Strukelj, Presiden Konfederasi Serikat Buruh Sektor Publik di depan kantor pusat pemerintah.

Menurutnya, kebijakan penghematan pemerintahan sayap kanan telah mengorbankan sektor publik dan kesejahteraan rakyat.

“Kami ingin lebih banyak kerjasama dan sedikit kompetisi. Kami tidak ingin kapitalisme liberal yang brutal, yang menghasilkan kemiskinan dan pengangguran,” katanya.

Dua puluh tiga serikat buruh, yang  mewakili sedikitnya 160 ribu anggotanya, menyerukan pemogokan setelah pemerintah sayap kanan berniat memangkas anggaran publik sebesar 7% sebagai jalan penghematan. Ini juga berdampak pada pendidikan dan kesehatan.

Pemerintah sayap kanan juga berencana memotong tunjangan hari libur, memangkas uang cuti dan pensiun, mengurangi anggaran untuk penganggur, dan memotong anggaran publik sebesar €1 milyar (£818 juta) tahun ini.

Veteran sosialis dan bekas pimpinan gerakan buruh Slovenia, Dusan Semolic, mengatakan, langkah-langkah penghematan ini persis seperti yang dikehendaki oleh Bank Sentral Eropa dan Dana Moneter Internasional (IMF).

Ia menegaskan, langkah itu akan menciptakan krisis yang lebih besar di masa mendatang, juga menghasilkan pengangguran dan kemiskinan. Sedangkan kekayaan elit bisnis bertambah besar.

Serikat buruh menuding para konglomerat telah membajak negara dan mendorong pemerintah melahirkan kebijakan anti-sosial.

Pemerintah berusaha merespon pemogokan ini dengan mengajak serikat buruh duduk di meja perundingan. Tetapi, banyak pihak yang pesimis perundingan itu bisa menghasilkan kesepakatan.

RAYMOND SAMUEL

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut