Pendidikan LMND Baubau: Membangun Generasi Yang Progresif

Pemuda punya kontribusi penting dalam sejarah perjuangan nasional Indonesia. Itulah inti pidato seorang mahasiswa ketika berusaha meyakinkan kawan-kawannya tentang penting perjuangan pemuda.

Mahasiswa itu adalah Amirudin. Ia adalah mahasiswa Universitas Dayanu Ikhsanuddin (Unidayan) Bau-Bau. Saat itu, Amir sedang memberi sambutan untuk pembukaan pendidikan calon anggota Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND).

Ia dengan bersemangat bercerita tentang mahasiswa-mahasiswa di negeri Belanda, mahasiswa-mahasiswa Stovia, dan kelompok-kelompok studi. “Sejak awal pembentukan ide kebangsaan ini, para pemuda sudah terlibat. Mereka menjadi inti organisasi pergerakan politik kala itu,” ujarnya.

Ia juga tidak lupa berkisah dengan gerakan mahasiswa tahun 1998. Katanya, mahasiswa saat itu telah berhasil menggulingkan rejim orde baru dan membuka pintu menuju demokrasi.

Pendidikan LMND itu diikuti oleh 27 orang peserta. Mereka berasal dari berbagai kampus di Baubau. “Kawan-kawan ini adalah kontak-kontak yang terbangun saat aksi-aksi politik yang digelar oleh LMND,” kata Dedy Ferianto, ketua LMND Baubau.

Bitha, seorang aktivis LMND Baubau, menjelaskan tentang bagaimana membangun organisasi mahasiswa progressif dan revolusioner. “Kita harus membangun kontak dengan massa rakyat. Kita tidak boleh eksklusif dan elitis. Setiap kader harus punya basis pengorganisiran,” tegasnya.

Ia juga bercerita panjang lebar mengenai prinsip sentralisme-demokrasi. Baginya, prinsip sentralisme demokrasi ini menjadi roh organisasi LMND. “Kita memutuskan segalanya secara demokratis. Kita pun menjalankan keputusan dalam satu kesatuan aksi,” ungkanya.

Pembicara lainnya adalah Pepeng. Ia menjadi pemateri soal filsafat materialism dialektika historis (MDH). Dengan bangga, ia menjelaskan bahwa filsafat MDH merupakan senjatanya klas tertindas untuk membongkar selubung ideologi klas berkuasa.

“Jika filsafat borjuis hanya menafsirkan dunia, maka filsafat MDH sudah sampai pada usaha mengubah masyarakat,” ujar Pepeng mensitir ucapan Karl Marx, bapak pendiri Marxisme itu.

Materi lain yang diajarkan adalah sejarah gerakan mahasiswa, sejarah masyarakat Indonesia, Marhaenisme, dan filosofi pasal 33 UUD 1945.

Pendidikan ini juga tergolong menarik. Para peserta diberi kesempatan dan keleluasaan untuk berdiskusi. “Sebagian besar porsi diskusi kita letakkan dalam diskusi interaktif. Ini supaya peserta lebih aktif menggeledah persoalan-persoalan yang masih kabur,” ujar Dedi Ferianto.

Pendidikan ini berlangsung tiga hari, yaitu dari tanggal 29 Oktober hingga 31 Oktober 2011. Tempat pelaksanaan pendidikan pun cukup unik, yakni di sebuah laboratorium biologi milik sebuah SMU di Baubau. Dalam ruanga yang agak tertutup itulah, para peserta menguras otak untuk menyerap semua materi yang diturunkan oleh panitia.

Memang, saat pendidikan berlangsung, ada seorang peserta yang harus dilarikan ke Mushollah sekolah. Penyebabnya, peserta bernama Martini itu tiba-tiba terserang penyakit asma.

Pendidikan ini juga sempat terganggu. Sekelompok pemuda kampung tiba-tiba memasuki ruangan. Mereka tampak mabuk. “Ada orang di sini yang mengeluarkan kata-kata kasar kepada warga di sini,” kata pemuda tersebut kepada panitia.

Tetapi panitia segera menjelaskan bahwa hal itu tidak pernah diucapkan oleh peserta. Panitia pun menyakinkan bahwa hal ini hanyalah sebuah kesalah-pahaman kecil. Pemuda kampung itu pun meninggalkan lokasi pendidikan.

Akan tetapi, demi menjaga kelangsungan dan kenyamanan peserta pendidikan, panitia pun memindahkan pendidikan ini ke kantor Partai Rakyat Demokratik (PRD) Baubau. Di sana, pendidikan kembali dilanjutkan.

Pendidikan ini ditutup dengan pemutaran film dan lagu-lagu perjuangan. Panitia juga sempat membuat acara pengukuhan anggota baru.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • metris

    ayo..maju terus pantang mundur…. SALAM PANCASILA