Pemuda Harus Bangkit dan Sadar Politik

Kemerdekaan hari ini tidak bisa dilepaskan dari peran pemuda, baik itu mahasiswa, pelajar, santri ataupun diluar klasifikasi tersebut. Jika melihat dari perspektif sejarah, peran pemuda sangat penting dalam perjuangan merebut kemerdekaan dari penjajah imperialis dan kolonialis.

Pada bulan mei 1908 berdiri organisasi perkumpulan pelajar yaitu Boedi Oetomo, yang merupakan titik awal dari bangkitnya rasa ingin bebas dari penjajah. Secara umum mereka digambarkan sebagai pelopor perjuangan jika menunjuk narasi secara umum. Namun sebelum Boedi Oetomo-pun perlawanan pemuda begitu masif, terutama di daerah-daerah yang menjadi kantong-kantong petani.

Seandainya kita ditanya oleh orang, siapakah tokoh kemerdekaan yang menginspirasi ? Secara tidak langsung pasti kita akan menyebutkan nama, seperti Soekarno, Hatta, Sjahrir dan lainnya. Namun kita tidak bisa melupakan sosok lain seperti Tirto, Tan malaka, Semaoen, Darsono, Musso, Mas Marco Kartodikromo, Haji Misbach, Kyai Hasyim Asy’ari dll, sebagai sosok penting dalam usaha merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Walaupun hari ini nama mereka telah dilupakan karena baik persoalan ideologi, maupun ketidaktahuan akan sejarah alternatif. Mereka adalah tokoh yang mewakili kaumnya, baik yang merah maupun hijau. Saling melengkapi tanpa memiliki sentimen, anti-komunis, anti-islam, dan anti-anti lainnnya.

Kita tahu sendiri dalam berbagai literatur yang sering kita baca, ketika memasuki tahun 1926–1927 golongan merah melakukan perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda. Anehnya generasi sekarang secara umum memaknai hal tersebut sebagai pemberontakan. Padahal mereka melakukan perlawanan terhadap kolonialisme dan imperialisme, sayangnya dalam catatan sejarah Orba yang digawangi oleh Tuan Nugroho Notosusanto mereka ditulis sebagai pemberontak. Tidak salah memang jika generasi sekarang sering salah tafsir akan hal tersebut, bahkan seringkali dijadikan justifikasi untuk melakukan persekusi.

Perlu dicatat bahwa pemuda-pemuda yang resah akan masa depan negerinya berkolaborasi, hingga menghasilkan sebuah pandangan yang visioner dan revolusioner terkait masa depan ibu pertiwi ini. Peran pemuda tidak berhenti di tataran gagasan saja, namun selanjutnya diimplementasikan sebagai gerak perlawanan. Tepatnya pada oktober 1928, para pemuda yang berasal dari persatuan pelajar dari berbagai daerah melakukan kongres perhimpunan pelajar-pelajar Indonesia, yang sekarang kita maknai sebagai hari sumpah pemuda.

Sumpah pemuda hadir sebagai reaksi atas persamaan nasib, memiliki rasa sakit yang sama terkait penjajahan, walaupun berbeda latar belakang budaya dan tempat. Pada intinya mereka memiliki kesamaan, persaudaraan, satu ibu pertiwi, melawan karena penjajahan. Hal tersebut telah dijabarkan melalui teori nation dalam buku imagined community (2006) karya Alm. Benedict Anderson.

Jika kita mencoba kembali sekali lagi ke masa lampau, para pemuda inilah yang menginisiasi kemerdekaan Republik Indonesia. Tanpa ada inisiatif dari mereka kemerdekaan hanya sebatas dongeng imajinatif untuk pengantar tidur anak. Golongan tua kala itu lebih memilih jalan yang diplomatis serta kompromis, padahal jika tidak segera memproklamirkan kemerdekaan, asumsi logisnya Indonesia akan diambil alih oleh Sekutu sebagai pemenang perang. Sementara di sisi lain tujuan penjajah fasis Jepang memang ingin mempertahankan status quo, sesuai dengan perjanjian pasca perang antara fasis Jepang dan sekutu (Ricklefs, 2008).

Pemuda-pemuda seperti  Chaerul Saleh, Wikana, Soekarni, dan kawan-kawan berinsiatif untuk menculik Soekarno dan Hatta. Bersama Syodanco Singgih salah seorang dari pasukan Pembela Tanah Air (Peta), Soekarni dan Wikana membawa tokoh golongan tua tersebut ke rumah Djiauw Kie Siong di Rengasdengklok. Para pemuda memiliki pemikiran yang progresif terkait kemerdekaan, meraka sudah memetakan serta melihat konsekuensi jika golongan tua tidak segera bersikap terkait kemerdekaan. Penculikan dilakukan untuk mengintimidasi golongan tua agar cepat memproklamirkan kemerdekaan, alhasil akhirnya golongan tua berhasil dikontrol dan kemerdekaan Indonesia diproklamirkan sesuai dengan rencana (Tempo, 2010).

Pemuda Sebagai Generasi Perubahan

Uraian diatas merupakan gambaran bagaimana pemuda sadar akan ekploitasi dari penjajah kolonial kala itu. Pendidikan memang menjadi dasar dari kesadaran yang masif, karena dengan pendidikan suatu hal yang tidak mungkin menjadi mungkin. Pendidikan tidak harus formal namun dapat informal, kontekstual dan berdasarkan realitas. Selain itu ideologi juga menjadi dasar berpijak untuk membebaskan diri dari ekploitasi kaum kolonial. Karena ideologi merupakan dasar berpikir dan berpijak, jika perjuangan tanpa ideologi hanya akan jadi tindakan separatis kecil dan temporer, karena tidak punya dasar berpijak. Semua itu merupakan uraian dari politik itu sendiri, karena politik adalah sebuah upaya atau usaha untuk menggapai apa yang diharapkan.

Perbedaan pemuda zaman dahulu dan kekinian adalah persoalan cara pandang dalam pendidikan. Pasca transisi dari zaman Orde Soekarno ke Orde fasis Soeharto terjadi perubahan budaya yang sangat keras. Dalam buku karya Wijaya Herlambang Kekerasan budaya pasca 1965 (2013), terjadi pergeseran budaya yang sangat drastis, dipengaruhi oleh upaya hegemoni kolektif melalui karya seni seperti film. Sebagai upaya untuk menghapuskan kesadaran secara kolektif, dibentuk lagi sesuai dengan keinginan rezim fasis. Salah satu hasilnya ialah dimana ada pergeseran budaya masyarakat dari yang majemuk menjadi tunggal, dalam perkara pandangan terkait suatu ideologi. Sekolah juga menjadi tempat indoktrinasi budaya palsu Orba yang mengubah orientasi pandangan pemuda. Dimana pemuda mulai diarahkan ke sektor pragmatis dan oportunis melalui pendidikan itu sendiri.

Dampaknya ialah semangat untuk perjuangan pembebasan dari penindasan telah luntur, seiring perubahan pola kebudayaan dalam pendidikan. Sekarang ini pendidikan telah berubah menjadi sektor jasa bukan lagi sektor vital negara, sebagai pembangunan manusia untuk berkontribusi dalam cita-cita revolusi Indonesia. Pemuda sekarang sebagian besar mungkin terjebak dalam alur pragmatisme dan budaya individual yang memang merupakan buah dari imperialisme dan kapitalisme pada saat ini.

Jika terdahulu para pemuda sadar untuk bersatu padu dan bergerak melawan, maka pemuda hari ini adalah sibuk memikirkan roda hidup dan berdebat terkait persoalan kepantasan dalam berjuang. Pragmatisme pemuda dapat dilihat dari perjuangan yang hanya sebatas eksistensialis semata, kebanyakan dari mereka hanya ingin panjat sosial. Ketika diajak turun ke basis masyarakat terdampak konflik, mereka mengelak dan menolak secara halus dengan alasan-alasan klise. Kebanyakan dari mereka beranggapan bahwa zaman telah berubah, sudah tidak zaman lagi untuk turun ke jalan. Karena dapat menganggu arus lalu lintas mobil-mobil pribadi para kelas menengah yang selalu paling benar, oportunis dan selalu ingin menang.

Peran pemuda yang apolitis dan apatis menjadikan kondisi Republik semakin runyam. Keterbukaan pemuda sekarang sangat minim, bebal dan tidak mau mengeksplorasi hal baru. Kebanyakan dari mereka menganggap bahwa politik itu terkait pemerintahan dan elit oligarki partai. Padahal secara tidak langsung mereka tak acuh dan diam adalah bentuk politik dan eksploitasi di ranah ini. Politik telah dijadikan hal yang tabu, penuh intrik dan kejam, namun tanpa perjuangan politik tidak akan ada perubahan yang berarti.

Sama seperti ketika mereka masih bersitegang dengan perkara sejarah, bahwa sejarah hanya satu perspektif. Salah satu bentuk dari ketegangan ini, ialah sikap apriori pemuda terhadap pembunuhan tujuh jenderal, yang dengan renyah mereka mengamini bahwa nyawa tujuh orang tersebut dapat ditebus dengan jutaan nyawa manusia tak berdaya berdosa. Mereka juga mengamini bahwa investasi itu untuk perbaikan nasib rakyat miskin, namun melupakan relasi kapitalnya. Bagaimana rakyat tergusur dari lahannya, ruang hidup mereka dirampas oleh negara yang berkolaborasi dengan kapitalis. Pemikiran mereka cederung satu arah, pragmatis dan melupakan fenomena utuh yang menyusunnya.

Pemuda sekarang merupakan cerminan dari pendidikan itu sendiri, dampak dari komersialisasi pendidikan telah mengubah cara pandang serta tindakan. Pendidikan telah kehilangan ruh revolusionernya, sebagai alat pembebasan kaum tertindas. Memang mengerikan upaya hegemoni negara atas rakyatnya, demi mempertahankan kekuasaan dan relasi ekonominya. Justru hal tersebut harusnya menyengat para pemuda, sebagai tonggak perjuangan. Tanpa peran pemuda tidak akan ada perubahan, mungkin sampai saat ini kita masih dibawah ketiak Belanda. Bahkan tanpa pemuda tidak akan ada yang namanya reformasi, mungkin kita masih terkungkung dalam cengkeraman Soeharto. Oleh karena itu penting kiranya merekonstruksi pemikiran kita sebagai kaum muda, untuk sadar berpolitik sebagai upaya istiqomah dalam amar ma’ruf nahi munkar. Membebaskan manusia dari penindasan, melawan untuk kebebasan dan keadilan.

Wahyu Eka Setyawan, anggota Laskar Mahasiswa Republik Indonesia (LAMRI) Surabaya

Refrensi

Anderson, Benedict. (2006). Imagined Communities: Reflections on The Origins and Spread of Nationalism Revision Edition. London: Verso.

Herlambang, Wijaya. (2013). Kekerasan Budaya Pasca 1965: Bagaimana Orde Baru Melegitimasi Anti-Komunisme Melalui Sastra dan Film. Tangerang: Marjin Kiri.

Ricklefs, M. C. (2008). Sejarah Indonesia Modern . Jakarta: Serambi.

Tim Buku Tempo. (2010). Dua Wajah Dipa Nusantara. Jakarta: KPG.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut