Pementasan Teater Bertema Perempuan

Kelompok teater dari Kampus Unisma Bekasi, yaitu “teater Korek”, menggelar pementasan akhir tahun di kampusnya. Mereka mengangkat persoalan penindasan perempuan, diambil dari naskah Riska Ayu Rindiatika berjudul “Koyak”.

Pementasan ini diperankan oleh tiga perempuan, termasuk sang penulis buku dan dua orang temannya. Kisah ini bercerita mengenai perempuan yang memperjuangkan kesetaraan, tetapi harus berhadapan dengan kodrat-nya.

Si penulis naskah ini, Riska Ayu, menjelaskan bahwa sebagian besar perempuan masih tunduk kepada apa yang disebut “kodrat”-nya. Dalam banyak hal, katanya, mereka akhirnya pasrah berada di bawah bayangan laki-laki.

“Naskah ini berusaha merubah pola fikir tersebut dan menanjurkan perjuangan untuk kesetaraan perempuan dan laki-laki,” katanya.

Sementara Botiey, salah satu pemeran dalam pementasan ini, mengaku bahwa perempuan masih diperlakukan seperti barang komoditas untuk diperjual-belikan dan terlecehkan.

“Dengan kesetaraan gender, kaum perempuan akan punya ruang untuk mengekspresikan diri,” ujarnya.

Lukman Hakim, salah seorang pendiri teater ini, menyatakan bahwa tema pementasan ini berusaha menceritakan perempuan apa-adanya, sehingga menjadi bahan refleksi bagi perempuan lain untuk membicarakan ketertindasan dan solusinya.

Acara ini mendapat sambutan cukup luas, terutama kalangan pekerja seni dan mahasiswa. Selain pertunjukan teater, acara malam hari ini juga disertai dengan musikalisasi pusisi oleh teater Korek.

Dendi, pekerja teater dari Komunitas Pisau Dapur, menyimpan harapan agar acara semacam ini bisa melahirkan sutradara perempuan yang cerdas dan kreatif. “Masih ada semacam ketimpangan antara perempuan dan laki-laki dalam berkarya,” katanya.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • imajiner kanov

    tetap terus berkarya.sepertinya kaum perempuan harus di perjuangkan hak-haknya, perempuan adalah rahim dari segala aktivitas di muka bumi dan berpenghuni sampai titik tak kenal henti. seperti terkandung dalam filosofis,” perempuan adalah induk dari setiap generasi penerus bagi lelaki dan perempuan-perempuan baru hidup secara seirama, perempuan juga harus tegas menyikapi sebuah emplemen hidup dan lelaki harus menghormati tentang gender kekuatan perempuan. tak ada perempuan belum tentu ada kaum lelaki!!