Partai Kiri Berkuasa Di Negara Bagian Jerman

Bodo Ramelow

Untuk pertama kalinya, sejak 25 tahun setelah runtuhnya tembok Berlin dan negara komunis Jerman Timur, partai kiri kembali berkuasa di sebuah negara bagian di Jerman. Tepatnya di negara bagian Thuringia.

Jum’at (5/12) kemarin, Bodo Ramelow, seorang politisi dari Partai Kiri (Die Linke), dilantik menjadi Perdana Menteri di negara bagian Thuringia. Ia berkuasa setelah mendapat restu dari koalisi merah-merah-hijau (red-red-green coalition), sebuah koalisi dari Partai Sosial Demokrat (SPD), Partai Hijau (Green), dan Die Linke (Partai Kiri).

Penunjukan Ramelow ini dianggap tonggak sejarah penting bagi kebangkitan politik kiri di Jerman. Untuk diketahui, selama 25 tahun lebih, negara bagian Thuringia diperintah oleh konservatif: Uni Demokratik Kristen (CDU).

Selama ini, kendati ikut memerintah sebagai ‘mitra junior’ dalam koalisi dengan SPD di Berlin dan Bradenburg, Die Linke tetap dianggap partai ‘pariah’ dalam lingkungan politik Jerman. Partai ini selalu diasosiakan dengan sisa-sisa komunisme di Jerman Timur dan stalinisme.

Die Linke dibentuk pada tahun 2007 sebagai hasil dari unifikasi dua kelompok kiri, yakni Partei des Demokratischen Sozialismus atau PDS (Partai Demokratik Sosialis) dan Wahlgemeinschaft Arbeit und Soziale Gerechtigkeit atau WASG (Aliansi Elektoral untuk Pekerja dan Keadilan Sosial). PDS adalah bekas partai berkuasa di wilayah Jerman Timur (Saat itu masih bernama Republik Demokratik Jerman/DDR). Sedangkan WASG merupakan gabungan dari bekas pentolan SPD (Sosial-Demokrat) yang kecewa dan aktivis kiri di Jerman Barat.

Tak mengherankan, penunjukan Ramelow telah membuat barisan partai kanan, terutama Kristen Demokrat (CDU), seperti ‘jerit kegemparan’. Sebelum pemilu lokal bulan September di bekas wilayah Jerman Timur, kanselir Jerman Angela Merkel telah memperingatkan kepada para pemilih untuk tidak membiarkan ‘Karl Marx kembali berkuasa sebagai Perdana Menteri’.

Presiden Jerman Joachim Gauck tidak ketinggalan berkomentar. Ia menuding Die Linke sebagai partai yang tidak bisa dipercaya dan terlibat dengan berbagai kejahatan represif semasa rezim Stalinis di negara bekas komunis Jerman Timur.

Serangan terhadap Die Linke tidak hanya datang dari elemen anti-komunis, tetapi juga dari bekas pejabat dan agen rahasia STASI, agen rahasia Jerman Timur (DDR). Die Linke juga mendapat serangan dari kelompok ultra-nasionalis.

Namun, kebencian terhadap Die Linke lebih banyak ke kebijakan politiknya. Untuk diketahui, partai ini sangat anti-neoliberalisme dan anti-kapitalisme. Partai ini juga menyokong penguatan peran negara dan belanja sosial yang lebih besar.

Tak hanya itu, partai ini aktif mengecam kebijakan pro-bisnis Uni Eropa, termasuk perjanjian Lisbon. Juga menentang keanggota Jerman dalam Fakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Baru-baru ini Die Linke mengeritik kebijakan pemerintah Jerman yang menyokong rezim fasistik di Ukraina.

Tak pelak lagi, di tengah krisis ekonomi yang mengguncang Eropa, program Die Linke menjadi daya tarik. Pada pemilu 2009, partai meraih suara cukup signifikan, yakni 11,9 persen atau 76 kursi di Bundestag (Parlemen Jerman). Sayang, di pemilu 2013, perolehan suara Die Linke merosot menjadi 8,6 persen.

Yang cukup menarik ditelaah, hubungan Die Linke dengan SPD (Sosial-Demokrat). Kendati di beberapa pemilu lokal kedua partai ini sering bersekutu, tetapi di level nasional keduanya berseberangan. Pimpinan SPD konsisten menolak koalisi dengan Die Linke.

Sikap SPD ini agak aneh. Jika mengacu ke hasil Pemilu Federal tahun 2013 lalu, perolehan suara SPD, Hijau, dan Die Linke sebetulnya cukup untuk mengantarkan mereka berkuasa, yakni 320 kursi dari 631 kursi Bundestag. Sayang, pimpinan SPD menolak berkoalisi dengan Die Linke. Sebaliknya, SPD lebih memilih menjadi mitra junior dalam koalisi dengan CDU di bawah pemerintahan Angela Merkel.

CDU dan Angela Merkel sangat neoliberal. Di bawah pemerintahannya, Jerman sangat aktif dalam mendorong kebijakan penghematan di kawasan Eropa. Dukungan SPD kepada Merkel memperburuk dukungan partai ini, terutama di kalangan buruh. Untuk diketahui, dalam dua pemilu terakhir, 2009 dan 2013, suara SPD tidak pernah melampaui 30 persen. Padahal, di era 80-an dan 90-an, partai ini selalu meraup suara antara 30-an hingga 40-an persen.

Di Thuringia, Die Linke cukup populer. Program mereka yang anti-neoliberal sangat relevan untuk menjawab persoalan pengangguran dan upah rendah di wilayah tersebut. Di pemilu terakhir, Die Linke meraih suara 28,2% dan merebut 28 kursi. Kristen Demokrat/CDU meraih 33,5% suara atau 34 kursi. Sementara SPD hanya 12,4% atau 12 kursi. Hasil ini cukup untuk menghantarkan Die Linke menjadi partai terbesar di Thuringia.

Bodo Ramelow adalah bekas aktivis serikat buruh di Jerman Barat. Ia tidak pernah menjadi anggota PDS sebelum keruntuhan Jerman Timur. Namun, mata-mata Jerman Barat menuding Ramelow punya hubungan dengan Partai Komunis Jerman (DKP). Ia juga kerap berpidato dengan patung Karl Marx disampingnya.

Dalam beberapa wawancara media, Ramelow digambarkan sebagai seorang yang pragmatis. Ia hanya berjanji memperjuangkan pemerintahan yang baik dan program rekonsialisasi. “Kita perlu rekonsiliasi ketimbang terbagi-bagi,” kata Ramelow kepada media massa.

Namun demikian, penjunjukannya sudah membuat media kanan seperti jerit kegemparan. Hampir semua media kanan internasional menyebut penunjukan Ramelow sebagai kembalinya komunisme di Jerman.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut