Para Pencari Popularitas

Kalau ada survei menanyakan, siapakah tokoh politik paling populer bulan ini? Jawabannya adalah Dahlan Iskan dan Dipo Alam. Keduanya benar-benar sukses menghiasai pemberitaan hampir semua media massa. Bahkan, di sejumlah media besar, aksi mereka menjadi topik khusus.

Dengan demikian, tujuan mereka tercapai: mencari popularitas. Bahkan, lebih dari itu, sebagian orang memuja mereka bak pahlawan. Dukungan media juga turut membantu memuluskan target kedua tokoh itu. Lagi pula, objek yang diserang, yakni DPR dan Kementerian, memang lembaga yang sudah cukup dibenci publik.

Tetapi tidak semua orang terkecoh dengan manuver Dahlan-Dipo tersebut. Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA), lembaga non-profit yang aktif mengontrol transparansi anggaran, melihat aksi Dahlan-Dipo dengan perspektif cukup kritis. Aktivis FITRA, Yuna Farhan, menuding Dahlan-Dipo hanya mencari panggung politik sebagai bekal menuju Pilpres 2014.

Menurut Yuna, sebagai orang-orang pemerintahan, keduanya seharusnya membenahi sistem di dalam lembaganya. Dengan banyak bicara di hadapan publik, Dahlan-Dipo justru tak menyelesaikan masalah. Laporan keduanya tidak menuju langkah penegakan hukum, melainkan kepentingan politik saja. “Apa yang dilakukan selama ini tidak ada konteksnya ke penegakan hukum, tapi lebih ke politik,” kata Yuna.

Kita bisa tak setuju dengan pendapat di atas. Tapi, belakangan Dahlan melakukan revisi terhadap nama-nama anggota DPR yang diduga pemeras BUMN. Artinya, data yang diajukan oleh Dahlan masih butuh verifikasi. Begitu pula dengan laporan Dipo Alam yang hanya melahirkan “kegaduhan politik”.  Kalau memang Dipo menghendaki pemerintah bersih, kenapa ia tidak berkoar-koar meminta agar Wapres Boediono diadili terkait kasus Bank Century?

Popularitas menjadi faktor penting dalam politik saat ini. Tak heran, banyak pesohor tiba-tiba hijrah ke politik. Mereka berharap, berbekal popularitas tadi, maka tingkat dukungan politik mereka akan tinggi. Mereka pun bisa menutup buku kehidupannya dengan cerita dari gelanggang politik.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan mengapa popularitas bisa menjadi senjata efektif dalam pertarungan politik. Pertama, perkembangan teknologi informasi, khususnya televisi dan internet, telah menyebabkan para pesohor menjadi public figure di tengah-tengah masyarakat. Sementara, pada sisi lain, orang makin skeptis dengan politisi dan partai politik.

Kedua, dengan menumpangi pengaruh media massa, ahli-ahli strategi komunikasi bisa menkontruksi “popularitas” seseorang sesuai keinginannya. Sekalipun hasil konstruksinya itu bertentangan dengan realitas. Ini terjadi lantaran ketergantungan rakyat yang makin besar terhadap media. Saat ini, industri media telah memainkan peranan penting dalam sirkulasi dan produksi pengetahuan.

Dan, Dahlan Iskan, seorang raja media, tahu betul hal itu. Berkat bantuan media massa, publik mengenal Dahlan Iskan sebagai orang sederhana: suka naik ojek, rela berdesak-desakan di KRL, suka makan di pinggir jalan, pernah menginap di rumah petani, dan lain-lain. Tapi, sedikit sekali yang tahu bahwa menteri yang “merakyat” itu berobat untuk saki flu-nya di Singapura.

Inilah jaman ketika ketika kesadaran sudah berpindah ke dalam media. Sumber-sumber pengetahuan yang lain, seperti komunikasi langsung, buku, realitas sosial, dan lain-lain, makin ditinggalkan. Kita telah kehilangan kesadaran atas ruang dan waktu. Inilah jaman ketika iklam kampanye di media lebih diandalkan ketimbang penggalangan massa dari pintu ke pintu.

Ketiga, media massa, termasuk jurnalisnya, lebih tertarik kepada konflik atau skandal politik ketimbang ide-ide besar. Akhirnya, seperti dikatakan ilmuwan politik Thomas Patterson, hal-hal yang berbau kontroversi mendapat peliputan lebih banyak ketimbang hal-hal yang bersifat substantif. Gosip-gosip politik lebih digemari ketimbang pemikiran-pemikiran politik. Inilah politik eranya “politik hiburan”.

Lebih parah lagi, orang sangat gampang percaya pada celoteh dunia maya ketimbang artikel yang dilahirkan melalui kajian dan disiplin verifikasi. Akibatnya, orang lebih mengetahui hal remeh-temeh dari seorang tokoh ketimbang gagasan-gagasan dan sepak-terjang politiknya. Orang makin malas berfikir yang serius.

Proses “pendangkalan” berfikir ini menyebabkan orang gampang ditipu oleh kepentingan politik di balik media massa. Orang tak bisa membedakan mana manipulasi dan mana kenyataan.

Dalam kasus Dahlan-Dipo, misalnya, jarang sekali media massa berusaha mengulas pemikiran dan sepak-terjang politik mereka. Padahal, di balik kepahlawanannya mengungkap pemeras BUMN, Dahlan Iskan adalah seorang pendukung privatisasi. Dan dalam banyak kasus, isu korupsi BUMN sengaja dibesar-besarkan sebagai dalih untuk membenarkan privatisasi.

Dipo Alam sendiri “orang-nya” SBY. Di sinilah keganjilan muncul: Dipo Alam menyerang institusi yang berada di bawah naungan Presiden. Artinya, kalau kabinet atau kementerian bermasalah, maka kepemimpinan Presiden lah yang patut dipertanyakan. Dan, sepanjang kasus ini menggelinding, Presiden SBY kelihatannya sama sekali tak terganggu. Dengan demikian, aksi Dipo Alam ini pun masih dalam koridor setting drama yang dikehendaki SBY.

Tetapi itulah panggung politik. Kegaduhan dan setting belakang panggung punya sinergitas untuk menciptakan “drama” yang menarik. Dengan begitu, rakyat tetap sukarela mau menyerahkan suaranya tiap lima tahun sekali.

Aditya Thamrinpenggiat kelompok diskusi “Mardika”. Email: aditya.praksis@gmail.com

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut