Pak Potret*

Sabtu, 29 Mei 2010 | 12.27 WIB | Suluh

Oleh: Juang

Orang-orang bilang dia datang dari Kediri. Dari mana pastinya, orang-orang desa tak ada yang tahu. Dia datang untuk mencari rumah tinggal dan bekerja tapi bekerja yang aneh bagi orang-orang desa yang kebanyakan hanya mengenal mengolah tanah. Menggambar. Ya, menggambar. Dia bilang, tukang gambar tapi ia tak menggambar gunung dan sebagainya. Ia hanya menggambar orang. Itupun hanya setengah badan. Itulah keahliannya dan ia tak bekerja untuk yang lain-lain sebagaimana orang-orang desa lainnya yang selain bertani, juga beternak atau bekerja sebagai buruh di pabrik-pabrik tenun.

Dia pun mulai menempati ruangan kecil cukup untuk tidur dan bekerja menggambar sesuai keinginannya di samping rumah induk Mbah Bei yang kosong. Dulu ruangan itu ditempati salah satu anak lelaki Mbah Bei tapi anak itu sudah pergi. Orang-orang desa juga tak tahu ke mana anak itu pergi. Orang-orang desa segan menanyakan soal itu pada Mbah Bei, baik Mbah Bei Kakung ataupun Putri yang juga jarang bergaul dengan orang-orang desa tetangganya. Pergaulan mereka hanya sebatas hubungan kerja. Lagi, kebanyakan orang-orang desa ini bekerja sebagai petani-petani penggarap di sawah-sawah Mbah Bei. Mereka pun segan dan jarang menginjakkan kaki-kaki petani mereka di halaman rumah Mbah Bei yang luasnya hampir seluas lapangan sepak bola.

Hanya ada dua peristiwa yang membuat orang-orang desa berkesempatan memasuki halaman rumah yang luas itu dan sesekali melongok ruangan dalam rumah induk Mbah Bei. Pertama, di saat musim panen dan disusul sesudah itu ritual melempar uang recehan Mbah Bei sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan. Udhik-udhik, begitulah orang desa menyebutnya.

Di saat panen itulah, orang-orang desa akan memasuki halaman rumah Mbah Bei membawa hasil panenan padi dan sebagainya menuju gudang yang memang dibangun khusus untuk menyimpan hasil panenan. Itupun sangat jarang mereka bisa bertemu muka dengan Mbah Bei baik Mbah Bei Kakung ataupun Putri. Yang mengatur segala seluk-beluk yang berhubungan dengan panenan dan pembagian upah adalah anaknya yang terkecil, seorang perempuan yang sudah saatnya menikah. Tapi, siapakah orang desa yang berani melamarnya? Tatapan matanya saja sudah seperti Nyi Blorong dari Pantai Selatan!

Tamu-tamunya justru datang dari jauh dan kebanyakan orang-orang “besar”. Di sebut orang-orang besar karena tamu-tamu itu datang bermobil yang saat itu sangat jarang lewat di desa. Bila ada mobil lewat, anak-anak desa yang bermain di pintu gerbang desa akan ikut berlari-lari kecil di belakang atau di samping kanan-kiri mobil sambil berteriak gembira: “Ada mobil lewat!” berulang-ulang. Mereka akan berhenti berlari dan berteriak ketika mobil mulai memasuki halaman rumah Mbah Bei yang luas. Begitulah terus setiap ada mobil yang melewati desa. Dan semua anak-anak dan orang-orang desa tahu, mobil itu pasti menuju rumah Mbah Bei.

Sesudah musim panen tiba, tak lama sesudah itu ritual udhik-udhik itupun tiba. Di saat itulah, sepasang suami-istri Mbah Bei Kakung dan Putri menampakkan diri secara terbuka di hadapan penduduk desa. Sepasang suami istri ini akan melemparkan berbagai uang recehan pada orang-orang desa: tua, muda dan anak-anak yang berkumpul di halaman rumahnya. Dulu sekali, ketika mereka masih sepasang suami-isteri dengan kelima anak mereka yang menawan, upacara ritual ini akan diikuti juga anak-anak mereka. Tahun berganti tahun. Sepasang suami-istri kaya dan dipercaya masih keturunan ningrat ini semakin jarang ditemani anak-anaknya dalam ritual udhik-udhik. Keempat anak lelaki mereka sudah terbang entah kemana. Tak ada penduduk desa yang tahu dan tampak mereka memang tak peduli. Untuk apa? Ah.. hanya penduduk desa. Beberapa tahun terakhir sebelum peristiwa itu, anak terkecil perempuan bermata Nyi Blorong itulah yang dengan setia menemani ritual udhik-udhik.

Rumah dengan kebun dan halaman luas itu memang semakin sunyi dan angker bila dilihat orang-orang desa. Apalagi bila tampak Mbah Bei Kakung dan Putri yang semakin putih rambutnya itu tampak berjalan-jalan di halaman rumah. Anak-anak pun semakin tak berpikir akan menginjakkan kaki-kaki mereka di halaman rumah Mbah Bei. Namun, dengan datangnya orang aneh yang mengaku tukang gambar itu halaman rumah dan rumah yang angker itu pun pelan-pelan berubah. Tukang gambar yang aneh itu mulai sering menampakkan diri di halaman rumah yang asri itu dengan segala perlengkapan gambarnya. Dari pagi sampai sore, ia bekerja di situ: menggambar. Karena ia sering berdiri di situ, orang-orang desa pun semakin sering melihat kerja tukang gambar itu. Anak-anak desa pun satu persatu yang semula melihat dari jauh semakin berani mendekat. Tukang gambar itu pun dengan senyum ramah, memanggil anak-anak itu mendekat.

“Hai, sini. Mau belajar menggambar?”

Anak-anak desa yang tak sekolah atau masih bersekolah di Sekolah Rakyat pun mulai mengerubungi tukang gambar itu. Dengan mata-mata mereka yang polos dan tak pernah melihat tukang gambar bekerja, mereka mulai berbisik-bisik.

“Mbah Bei Kakung dan Putri.”

Tukang gambar itu terus bekerja dengan tenang; tak peduli pada berisik anak-anak. Begitulah hari berganti hari. Ia terus menggambar di halaman rumah itu dan anak-anak berkumpul mengelilinginya: menonton. Makin lama tak hanya anak-anak, tapi orang-orang muda dan tua pun mulai ikut nimbrung menontong tukang gambar yang tetap dalam kebisuannya itu bekerja menggambar orang setengah badan.

“Bukankah ini potret Mas Joyo? Anak tertua Mbah Bei?” Tukang gambar itu tersenyum dan terus bekerja.

“Dan ini, Ayu. Rahayu? Anak perempuan Mbah Bei?”

“Wah..Benar-benar matanya seperti Nyi Blorong.”

Begitulah setiap hari, halaman rumah Mbah Bei itu semakin ramai dan terkenal. Hasil-hasil gambar potret tukang gambar yang aneh itu terus di pajang di halaman rumah. Orang-orang desa bisa melihat, termasuk tamu-tamu “besar” Mbah Bei. Itulah gambar-gambar potret Mbah Bei Kakung dan Putri serta anak-anak Mbah Bei. Tukang gambar itu pun semakin terkenal dan desa itu pun semakin terkenal karena di situlah tinggal seorang pelukis potret.

Makin lama anak-anak, remaja dan pemuda desa yang tak malu pun mulai belajar melukis potret. Pelukis potret itu pun dengan baik hati menyediakan kertas-kertas gambar dengan pensil dan krayon merk konte yang dia miliki. Puluhan anak-anak dan remaja desa berderet di sisi kiri dan kanannya; menggambar dengan tenang. Ia, yang mulai dikenal sebagai pelukis potret itu, sesekali berjalan meninjau hasil-hasil gambar murid-muridnya itu. Dan tak jarang untuk itu, ia sering dipanggil Pak Guru. Orang-orang desa pun mulai berdatangan kepadanya untuk meminta tolong agar dilukis potret. Mereka pun, mulai menyerahkan potret-potret pribadi mereka. Pelukis potret itupun tak menuntut bayaran. Tapi beberapa orang desa yang mampu, tak jarang memberikan sejumlah uang untuk hasil kerjanya itu.

***

Tak lama kemudian sesudah itu, pelukis potret itu menikahi anak perempuan Mbah Bei yang memang sudah waktunya menikah menurut orang-orang desa. Beberapa bahkan berpendapat sudah menjadi perawan kasep. Tapi, pesta pernikahannya, tak akan pernah dilupakan orang-orang desa. Ki Narto Sabdo sendiri datang untuk memeriahkan pesta perkawinan anak ragil putri Mbah Bei itu. Semua, keempat anak lelaki Mbah Bei yang entah bekerja di mana, juga datang, bersama anak-anak mereka. Mbah Bei, sepasang, tampak semakin sumringah dan sehat. Ritual udhik-udhik itupun digelar lebih ramai dan lebih banyak uang recehnya daripada ritual-ritual udhik-udhik sebelumnya.

***

Peristiwa itu akhirnya sampai juga di telinga orang-orang desa. Beberapa Jendral di Jakarta dibunuh dan dimasukkan ke sebuah sumur oleh gerombolan yang menamakan diri G 30 S. Lalu pembunuhan dan penangkapan terhadap orang-orang komunis. Lalu, orang-orang yang dituduh merah dan pendukung setia Bung Karno.

Dan akhirnya, peristiwa yang tak akan pernah dilupakan orang-orang desa yang sederhana itu: sore hari menjelang maghrib; banyak orang: polisi, tentara dan orang-orang biasa yang tak mereka kenal yang mungkin datang dari desa tetangga yang agak jauh berkumpul ramai di halaman rumah Mbah Bei. Tentu mereka tak datang untuk ritual udhik-udhik. Teriakan mereka ramai bersaut-sautan: “Bakar rumah Mbah Bei! Bakar rumah Mbah Bei. Antek PKI. Lekra!”

Tapi, rumah itu tak dibakar. Ada pejabat-pejabat tertentu entah di mana tak menghendaki rumah itu dibakar, hanya pelukis potret itu yang dibawa polisi untuk diamankan, begitu cerita orang-orang desa. Sejak peristiwa itu pula, orang-orang desa paham, pelukis potret itu adalah seorang anggota Lekra yang dikirim dari Kediri untuk membangun sanggar seni di desanya. Tapi, apa bahayanya dengan lukisan-lukisan potret setengah badan dari pensil potlot hitam atau krayon hitam itu? Orang-orang desa tak pernah paham. Sampai sekarang kebanyakan dari mereka pun masih menyimpan di rumah-rumah mereka, lukisan-lukisan potret diri mereka buatan pelukis potret yang tak pernah kembali ke desa itu lagi.

***

Aku lahir di desa itu. 3 tahun sebelum peristiwa itu. Dari pelukis potret itulah, aku belajar menggambar. Di rumah orang tuaku yang sederhana di desa, sering lama-lama kulihat dua lukisan potret ayah dan ibuku buatan pelukis potret itu yang menempel di dinding dalam ukuran poster.

“Teknik dusel. Ya dia menggunakan teknik dusel!” Begitu kata seorang pelukis muda yang kini mulai berhasil dari desaku.

Aku pun tahu. Teknik dusel alias teknik gosok yang bisa menimbulkan efek macam-macam, tergantung kemampuan pelukis dan tujuan yang hendak dicapai dengan tingkat-tingkat gradasinya. Tapi tak pernah aku tahu nama pelukis potret itu. Orang-orang desa tak pernah bercerita tentang namanya yang sebenarnya. Orang-orang hanya memanggilnya Pak Potret. Bila, aku pulang dan lewat rumah Mbah Bei dengan halaman rumahnya yang luas itu, aku ingat masa kecilku yang ramai dan menyenangkan. Tapi, rumah itu kini nampak tua; kembali sunyi dan tampak angker.

Aku tak tahu bagaimana mereka, Mbah Bei Kakung dan Putri mati. Aku juga tak tahu dan tak ingat bagaimana anak-anak Mbah Bei melanjutkan hidup mereka. Ke mana dan di mana? Yang aku ingat hanya, sesudah Pak Potret itu dibawa pergi, ritual udhik-udhik pun pergi dari desa kami.

Jakarta, 9 Januari 2008

*Lampiran untuk Menggapai Matahari Bagian VI

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut