Pahlawan-Pahlawan Soviet di Benteng Brest

The Brest Fortress
Sutradara            : Alexander Kott
Tahun Produksi : 2010
Penulis cerita     : Aleksey Dudarev, Vladimir Eremin.
Pemain                  : Аlyosha Kopashov, Pavel Derevyanko,Andrei Merzlikin, Alexanser Korshunov.

TUJUH puluh tahun yang lalu. Benteng Brest, atau populer disebut benteng Brest-Litovsk, adalah salah satu benteng pertahanan Soviet dalam perang melawan fasisme. Saat itu, Juli 1941, selama 8 hari, pasukan Soviet bertempur mati-matian dan begitu heroik melawan serbuan fasis-Jerman.

Kisah heroik itu diceritakan kembali oleh Sashka Akimov (Аlyosha Kopashov). Saat itu, Sashka masih seorang anak kecil dan menjadi peniup terompet di benteng Brest. Kisah ini kemudian diangkat ke layar lebar oleh sutradara Alexander Kott dan diproduksi oleh Asosiasi Radio-Televisi Rusia dan Belarus. Kisah kepahlawanan ini mulai terkenal setelah ditulis oleh wartawan Moskow, Sergei Smirnov.

Cerita dimulai saat serangan pertama terhadap benteng Brest pada 22 Juli 1941. Hari itu, karena tidak pernah diperkirakan sebelumnya, bom dan serangan artileri berhasil menghancurkan sebagian benteng dan membunuh banyak orang.

Salah seorang komandan resimen, Pyotr Mikhailovich Gavrilov, sudah memperkirakan serangan ini. Tetapi sangat sedikit yang mempercayai apa yang dikatakan oleh Pyotr Gavrilov. Karena serangan itu tidak diperkirakan, dan karena itu tidak ada persiapan, serbuan itu membuat kepanikan luar biasa di kalangan pasukan Soviet. Akibatnya, banyak yang tewas di tengah-tengah massa yang berlarian.

Pyotr Gavrilov berhasil menenangkan pasukan yang panik itu. Dikumpulkannya seluruh pasukan-pasukan yang masih tersisa dan mulai mengorganisir pertahanan. Pyotr Gavrilov, bersama dengan Efim Moiseevich Fomin (Pavel Derevyanko) dan kepala pos perbatasan 9, Andrey Mitrofanovich Kizhevatov (Аndrey Merzlikin), berhasil mengkonsolidasikan pertahanan.

Setelah berhasil mengorganisir pertahanan, pasukan Jerman pun tertahan di sebuah jembatan. Akan tetapi, masalah lain pun muncul ketika pasukan Soviet bertahan di dalam benteng, yaitu ketiadaan air minum dan bahan makanan. Meskipun begitu, tidak satupun pasukan Soviet yang terlihat menyerah dan mau meletakkan senjata.

Betapa heroik dan kuatnya pasukan Soviet yang bertahan itu, seorang komandan Divisi Infanteri ke-45 Jerman mengatakan, “tidak mungkin untuk maju lagi hanya dengan pasukan infanteri karena serangan-serangan terorganisir melalui senapan mesin dan pistol..satu-satunya cara untuk membuat pasukan Rusia menyerah adalah membuat mereka kelaparan dan kehausan.” Rusia pun meracuni air bawah tanah, sehingga tidak bisa dimanfaatkan oleh pasukan Soviet.

Para pasukan di Benteng ini menolak untuk menyerah. Bahkan, ditengah kelaparan dan kehausan, pasukan Soviet masih sempat melakukan serangan serentak terhadap posisi Jerman. Akan tetapi, karena kondisi persenjataan yang kalah dan posisi yang sudah dikepung, serangan itu berhasil dipatahkan dan banyak pasukan Soviet yang gugur.

Hingga akhirnya, karena tetap tidak bisa ditaklukkan, Jerman akhirnya mengirim pesawat-pesawat tempur untuk melakukan pemboman. Hingga hampir seluruh bagian benteng itu hancur. Sebagian besar pasukan yang tersisa pun tewas, dan hanya menyisakan beberapa orang.

Komisaris Efim Moiseevich Fomin, yang mengaku komisaris, seorang komunis dan Yahudi, akhirnya dieksekusi pasukan NAZI di depan pintu gerbang Holmsky. Tahun 1957, dia diberi penghargaan order Lenin. Mayor Pyotr Mikhailovich Gavrilov ditangkap pasukan NAZI pada hari ke-32 pertempuran. Setelah NAZI kalah, Gavrilov menderita dibawah represi Stalin dan dikeluarkan dari partai komunis. Tetapi, tahun 1957 ia juga mendapat penghargaan dan mendapat gelar pahlawan Soviet. Andrey Mitrofanovich Kizhevatov, yang gugur dalam pertempuran terakhir, juga mendapat penghargaan dan gelar pahlawan Soviet tahun 1957.

Sebagai film tentang kisah kepahlawanan, Alexander Kott boleh dikatakan telah berhasil. Hampir semua alur film ini menceritakan soal kepahlawanan pasukan Soviet yang tak kenal menyerah. Dalam sebuah pertempuran, misalnya, diperlihatkan bagaimana NKVD (agen intelijen Soviet) bertempur dengan pasukan Soviet dengan bayonet, sekop, kapak dan bahkan kursi.

Di film ini juga tergambar bagaimana kekejaman NAZI-Jerman. Pasukan NASI menembaki setiap orang yang ditemukan, termasuk warga sipil dan petugas kesehatan. Bahkan, untuk menaklukkan pasukan Soviet, pasukan NAZI berusaha menjadikan petugas medis dan pasien sebagai sandera.

Mungkin karena dibuat paska runtuhnya Soviet, maka warna utama film ini adalah nasionalisme, bukan sosialisme. Barangkali coretan di dinding benteng bisa mewakili heroisme pasukan soviet saat itu: “Aku akan mati tetapi tidak menyerah. Selamat tinggal, Ibu Pertiwi!”

Dari segi pengambilan gambar dan penggambaran perang, film ini tidak kalah dengan film-film Hollywood. Di sini, Alexander Kott juga mencoba menggambarkan keindahan alam kota Brest saat itu. Lebih membanggakan lagi, bahwa keseluruhan pendanaan film ini ditanggung oleh negara: Rusia (60%) dan Belarusia (40%). Bandingkan dengan film-film perjuangan Indonesia, yang sebagian besar mandek karena soal pembiayaan.

Karena itu, meskipun mungkin telat untuk diresensi di sini, tetapi tidak ada salahnya bagi pencinta film perang dan nasionalisme untuk menonton karya besar Alexandor Kott ini. Terima kasih!

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • hidayatullah

    aku turut berduka atas gugurnya para pahawan soviet bukan karena komunisnya tapi karena kecintaan mereka pada tanah air mereka karena mereka mempertahankan ibu pertiwi dan harga diri mereka dengan mati secara terhormat apakah rakyat kita akan begitu tuk suatu hari nanti tanpa menjadi penjilt dan koruptor