Oposisi Ekuador Pakai ‘Massa Bayaran’ Untuk Gulingkan Presiden

Ecuador Opposition March-7

Aksi demonstrasi yang digalang oleh oposisi sayap kanan di Ekuador masih terus berlanjut hingga Jumat (26/6/2015). Kali ini oposisi mulai mengarahkan massanya ke Istana Kepresidenan Ekuador.

Kelompok oposisi mengusung bendera hitam dan bendera nasional Ekuador di tengah-tengah massa mereka. Mereka juga tidak henti-hentinya meneriakkan, “Keluar, Correa, Keluar!”.

Tidak hanya itu, massa yang sebagian besar kelas menengah dan kaum kaya ini juga membawa poster bergambar Presiden Ekuador Rafael Correa dan diberi tulisan ‘Diktator’.

Sementara di sekitar Istana Carondelet, nama Istana Kepresidenan Ekuador, sudah berkumpul ribuan massa pendukung pemerintah disamping barikade aparat keamanan. Mereka bertekad melindungi Istana Kepresidenan dari gangguan oposisi.

Dalam aksi massa kelompok oposisi yang berlangsung di hari Jumat (26/6), dua politisi terkemuka, yaitu Walikota Quito Mauricio Rodas dan Walikota Guayaquil Jaime Nebot, hadir di tengah-tengah massa demonstran.

Jaime Nebot, seorang pengusaha dan mewakili oligarki di Ekuador, menjadi tokoh penggerak aksi oposisi untuk menuntut penggulingan Presiden Rafael Correa. Dia menjadi Walikota dengan bermodalkan kekayaannya melalui Partai Kristen Sosial.

Sejak Rancangan Undang-Undang (RUU) Redistribusi Kekayaan mulai diwacanakan oleh pemerintahan Correa awal Juni lalu, Jaime Nebot menjadi orang pertama yang menyerukan protes melalui jejaring sosial, televisi, dan iklan-iklan berbayar.

Yang menjadi ironi juga, seperti dilaporkan oleh media setempat, El Telegrafo, kelompok oposisi berusaha menyuap warga miskin Ekuador agar berpartisipasi dalam aksi protes. “Mereka meminta saya membawa tiga orang dan kemudian mereka akan memberikan uang begitu tiba di aksi,” kata seorang warga bernama Gabriel Suarez kepada El Telegrafo.

Laporan serupa telah dikonfirmasi oleh Jean Carlo Franco, yang berbicara kepada El Telegrafo, bahwa dirinya dibujuk oleh oposisi untuk mengikuti aksi protes dengan iming-iming bayaran sebesar 30 US dollar.

Bahkan sebuah foto yang mempelihat bukti pembayaran yang diberikan kepada demonstran bayaran diunggah di jejaring sosial. Uniknya, bukti pembayaran itu menggunakan gambar wajah tokoh oposisi, Jaime Nebot.

Sementara itu, Presiden Rafael Correa mengajak rakyat Ekuador, termasuk oposisi, untuk memperdebatkan RUU Redistribusi Kekayaan tersebut. Sejak minggu lalu, Rafael Correa meluncurkan debat nasional untuk menperdebatkan isi RUU tersebut.

“Bagaimana bisa kita mengatakan negeri ini demokratis jika 2 persen warga negara menguasai 90 persen aset bisni,” kata Rafael Correa. Ia menegaskan, penumpukan kekayaan di tangan segelintir orang tidak bisa ditolerir dan dipertahankan.

Sedikitnya 15.000 pemerintahan lokal dan berbagai organisasi sosial, termasuk masyarakat pribumi, menyatakan bergabung dalam debat nasional tersebut. Mereka menolak rencana oposisi yang menunggangi penolakan RUU untuk menggulingkan pemerintahan.

Pemberontakan Kaum Kaya

Aksi oposisi sayap kanan Ekuador mulai berlangsung sejak tanggal 8 Juni lalu. Awalnya mereka menggelar aksi di kantor pusat partai Aliansi PAIS, partai berkuasa di Ekuador saat ini, di Quito.

Pemicu dari aksi protes oposisi ini adalah RUU Redistribusi Kekayaan yang akan menyasar ‘kelas atas’ Ekuador yang jumlahnya tidak melebihi 2 persen dari jumlah penduduk Ekuador.

RUU redistribusi kekayaan ini menerapkan model pajak progressif terhadap nilai kekayaan dan pendapatan. Termasuk dalam kasus pajak warisan. Dalam RUU yang baru ini, nilai warisan di atas 35,400 USD akan dikenai pajak 2,5 persen. Sedangkan nilai warisan di atas 849.600 USD akan dikenai pajak 47,5 persen jika pewarisnya anak-anak dan 77,7 persen untuk dewasa.

Correa mengklaim, kebijakan ini untuk mengurangi ketimpangan ekonomi dan sosial di Ekuador. Dengan pajak progressif terhadap harta warisan, kekayaan Ekuador yang terkonsentrasi di tangan segelintir orang akan terdistribusi ke banyak orang.

“Ini menarget si kaya, untuk redistribusi kekayaan. Ini tidak akan mempengaruhi kelas menengah dan kaum miskin,” ujar Correa kepada media lokal seperti dikutip teleSUR.

Untuk diketahui, di Ekuador, 2 persen warga negara mengontrol 90 persen kakayaan negara. Selama ini mereka nyaris tidak membayar pajak atas kekayaan mereka. Situasi ini menyebabkan kekayaan dan kekuasaan istimewa kaum kaya ini tidak terganggu.

Pemerintah sudah menghitung, hanya 3 dari 100.000 orang Ekuador yang memiliki harta warisan di atas 50.000 USD. Merekalah yang akan terkena langsung oleh kebijakan ini. Sementara pihak oposisi mengklaim, 1 dari 3000 orang Ekuador akan terkena kebijakan pajak baru ini.

Yang juga menarik, beberapa tokoh yang menjadi penggerak aksi oposisi ini justru merupakan bagian dari kaum kaya Ekuador yang tidak tersentuh kekayaannya.

Salah satunya adalah Guillermo Lasso, bekas calon Presiden dari sayap kanan yang dikalahkan oleh Correa di pemilu lalu. Dia adalah seorang bankir dengan pendapatan 70.000 USD per bulan atau setara dengan gaji seorang pekerja Ekuador selama 16 tahun. Pada tahun 2014, nilai kekayaan Lasso mencapai 15 juta USD atau setara dengan seorang buruh Ekuador yang bekerja selama 3500 tahun.

Tetapi Correa tetap bergeming dengan kebijakannya. Baginya, memerangi ketimpangan adalah keharusan bagi terwujudnya keadilan sosial. “Menumpuk kekayaan secara berlebihan itu tidak adil dan tidak bermoral,” tegasnya.

Ekonom peraih nobel, Joseph Stiglitz, juga mengakui bahwa pajak harta warisan merupakan metode paling efektif untuk memotong kesimbungan kekayaan di segelintir tangan.

“Jika pajak warisan bisa efektif ditegakkan, maka dia akan menjadi instrumen penting dalam mencegah penciptaan kesinambungan rezim plutokrasi,” tegasnya.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut