Obama Dan ASEAN

Malam ini, sekitar pukul 19.30 WITA, Presiden AS Barack Obama akan tiba di Denpasar, Bali. Kunjungan ini bersamaan dengan pelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) negara-negara ASEAN.

Selain kehadiran Obama, sejumlah pemimpin negara lain juga hadir, seperti Perdana Menteri Tiongkok Wen Jiabao, Presiden Korsel Lee Myung-bak, PM Jepang Yoshihiko Noda, dan PM India Manmohan Singh. Obama sendiri dijadwalkan akan membuat pertemuan khusus dengan perwakilan pemerintah Rusia.

Kunjungan Obama ini bertepatan dengan krisis besar yang sedang melanda Amerika Serikat dan zona Eropa. Sampai sekarang, belum ada tanda-tanda kapan krisis besar ini akan segera berakhir. Bahkan, pimpinan International Monetery Fund (IMF), Christine Lagarde, memperingatkan bahwa krisis utang Eropa akan membawa ekonomi dunia dalam dekade yang hilang (lost decade).

Dalam dua forum internasional yang sudah berlangsung sebelumnya, yakni Pertemuan G-20 di Cannes Prancis dan KTT APEC di Honolulu Amerika Serikat, desakan ke arah “liberalisasi perdagangan” semakin kencang. Obama sendiri di negerinya, Amerika Serikat, mendukung kebijakan penghematan anggaran dan serangan terhadap standar hidup rakyatnya.

Barack Obama, Presiden kulit hitam pertama Amerika Serikat, bukanlah penerus cita-cita Martin Luther King. Obama justru memilih melayani kepentingan imperium yang sedang sakit akibat krisis ini. Ia memilih mewakili kepentingan korporasi global untuk menyerang kesejahteraan rakyat, ketimbang mendengar dan merespon tuntutan rakyatnya: Gerakan 99% Duduki Wall Street.

ASEAN sendiri adalah kawasan paling strategis secara ekonomi dan politik. Dengan jumlah penduduk mendekati 600 juta orang, ASEAN merupakan pangsa pasar yang besar dan melampaui pangsa pasar Uni Eropa. Negara-negara ASEAN juga penyedia bahan baku, tenaga kerja murah, dan lahan investasi untuk kepentingan imperialis. Indonesia dan Filipina adalah penyedia buruh migran terbesar di dunia.

Secara politik, ASEAN juga merupakan pengelompokan regional paling berpengaruh di kawasan Asia. Setidaknya, sejak tahun 1940-an, Amerika Serikat dan negeri-negeri imperialis lainnya sudah berusaha memaksakan pengaruhnya di kawasan Asia tenggara ini. AS juga menjadikan ASEAN sebagai mitra strategis dalam proyek melawan pengaruh komunisme di tahun 1960-an.

Sekarang ini, seiring dengan gerak dunia ke arah multipolar, ASEAN menjadi kawasan yang diperebutkan oleh banyak kekuatan, khususnya antara Tiongkok dan Amerika Serikat. Jika AS berhasil mengontrol ASEAN, maka ia punya peluang untuk mengisolasi dan membendung perkembangan maju Tiongkok. Tetapi jika AS kehilangan kontrol, maka Tiongkok bisa jadi akan menjadi “tuan baru” bagi ASEAN.

ASEAN sendiri sedang dalam perjalanan menuju perdagangan bebas kawasan. Tahun 2007 lalu, negara-negara ASEAN sudah menanda-tangani piagam ASEAN (ASEAN Charter), yang akan menjadi roap-map menuju pasar tunggal Asia tenggara.

Seandainya Obama adalah pengikut Martin Luther King atau Mumia Abu Jamal, maka mungkin dia akan mengabarkan kepada kita bahwa imperium yang berpusat di Amerika sana sedang sekarat dan membutuhkan darah lebih banyak untuk keluar dari krisis. Seharusnya, ia menyampaikan bahwa masa depan dunia bukanlah kapitalisme yang sudah gagal dan terbukti mengancam masa depan planet.

Mark Twain, seorang penulis terkenal AS dan pemimpin Liga Anti-Imperialis, pernah mengusulkan bendera nasional baru untuk Amerika Serikat, yakni bendera dengan lebih banyak gambar tengkorak dan bukan bintang. Ambrose Bierce, seorang penulis Amerika Serikat lainnya, pernah mengatakan: “Perang adalah cara Tuhan mengajari orang Amerika mengenal Geografi”.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut