NTP November 2014: Petani Perkebunan Terpuruk, Petani Hortikultura Tersenyum

Nasib petani perkebunan kian terpuruk. Berdasarkan Nilai Tukar Petani (NTP) perkebunan yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) awal bulan ini, NTP perkebunan mencapai titik terendah sejak Maret 2014, yakni hanya 100,92 (lihat grafik).

grafik

Menurut Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI) Henry Saragih, sebenarnya ada kenaikan pendapatan petani perkebunan terkhusus kelapa sawit dan kakao selama Oktober. Namun kenaikan tersebut juga diikuti oleh kenaikan pengeluaran kebutuhan rumah tangga, biaya produksi dan penambahan modal.

“Harga TBS sawit naik, tapi biaya kebutuhan sehari-hari dan modal juga ikut naik. Tidak ada nilai tambah dari jerih payah petani dalam memproduksi kelapa sawit dan kakao. Bahkan Pemerintah sudah membebaskan bea keluar utk ekspor kelapa sawit dengan harapan peningkatan ekspor sawit akan berdampak pada peningkatan pendapatan petani sawit,” tutur Henry di Jakarta pagi ini, Rabu (05/11).

Hal senada diungkapkan Ketua Badan Pelaksana Wilayah (BPW) SPI Sumatera Utara (sumut), Zubaidah. Ia menyampaikan harga TBS (Tandan Buah Segar) per Oktober di desanya di Asahan, Sumut, mengalami kenaikan menjadi Rp 1.200 dari yang bulan sebelumnya pernah menyentuh harga Rp 950.

“TBS naik, tapi harga kebutuhan pokok untuk hidup sehari-hari juga naik. Belum lagi kami petani harus mengeluarkan uang kontan untuk beli pupuk yang harganya tinggi tapi kualitasnya tidak bagus. Hasil panen sawit itu tidak bisa menutupi untuk beli pupuk dan kebutuhan sehari-hari,” kata Zubaidah yang dihubungi melalui telepon pagi ini.

Oleh karena itu menurut Henry, adalah tantangan bagi kabinet kerja Jokowi-JK untuk menaikkan NTP perkebunan rakyat, karena bila mengacu pada sensus pertanian 2013, sektor perkebunan ini menjadi sasaran perpindahan dari petani tanaman pangan.

“Berarti bisa dikatakan terjadi perpindahan kemiskinan petani tanaman pangan ke kemiskinan petani perkebunan dan ini bukan hal yang membanggakan,” katanya.

Sementara itu, berbeda dengan nasib petani perkebunan tanaman pangan, nasib petani hortikultura lebih baik per November ini, yang mencapai 103,99. NTP hortikultura menunjukkan kenaikan sejak Juli 2014. BPS menyatakan kenaikan tersebut didorong oleh kenaikan pendapatan dari komoditas sayur-sayuran khususnya tanaman sayuran, seperti cabai dan bawang merah. Selama bulan Oktober pergerakan harga cabe (merah keriting), cabe biasa  dan bawang merah berkisar antara Rp 31.000 – 34.000/kg, dan Rp 30.000 – 33.000/kg, dan Rp 19.000 – 20.000/kg. Sementara tingkat kenaikan pengeluaran kebutuhan rumah tangga, biaya produksi dan penambahan modal produksi yang dipengaruhi oleh bahan makanan, kebutuhan rumah tangga, kesehatan dan pembelian benih sayuran masih lebih rendah dengan kenaikan penerimaan penjualan cabe dan bawang merah.

grafik2

“Tentu ini hal yang patut disyukuri. Namun kita harus tetap waspada karena cabe dan bawang merah impor akan potensial menyerang pasar lokal seiring dengan berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN tahun depan,” imbuh Henry.

Untuk itu menurut Henry, program 1.000 bank benih di pedesaan yang menjadi bagian dari program pertanian Jokowi-JK dan program pembangunan 5.000 pasar rakyat yang menjadi bagian dari program perdagangan Jokowi-JK menjadi tantangan untuk dicapai berikut dengan pembangunan struktur desa yang mempermudah transportasi produk hortikultura dari sentra-sentra produksi ke pasar-pasar rakyat.

“Terkait dengan sentra-sentra produksi tersebut,  BPS  mencatat ada beberapa propinsi yang masih memiliki NTP di bawah 100 per November, seperti NTB, Sulawesi Tenggara, NTT dan Sumatera Barat.  Karena itu tidak ada kata lain selain kerja, kerja dan Kerja untuk mengatasi masalah tersebut, dan membangun kedaulatan pangan di Indonesia,” tambahnya.

 

Hadiedi Prasaja

 

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut