Novel ‘Istana Jiwa’: Reportase Sejarah Pergulatan Perempuan Korban Peristiwa 1965

Ada hal yang sering luput ketika penulis berusaha menyingkap berbagai fakta di balik peristiwa tahun 1965: peran perempuan—umumnya bukan anggota partai atau organisasi—dalam melanjutkan roda kehidupan keluarga di tengah represi dan stigmatisasi.

Putu Oka Sukanta, sastrawan yang pernah berhimpun di bawah Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), tak luput memotret hal tersebut. Dalam novel terbarunya, Istana Jiwa, Putu Oka menulis reportase sejarah tentang perjuangan perempuan-perempuan di tengah himpitan represi, penganiayaan, pelecehan dan stigmatisasi.

Ibu Suri, salah seorang karakter dalam novel tersebut, harus rela berjualan makanan di pasar dan menerima jahitan agar punya uang guna menyambung hidup keluarga dan mengirim makanan kepada suaminya yang dipenjara.

“Perjuangan (Ibu Suri) untuk bangkit secara ekonomi adalah perjuangan mengembalikan martabatnya sebagai manusia,” tulis Wartawan Kompas, Maria Hartiningsih, saat mengomentari novel “Istana Jiwa” karya Putu Oka Sukanta.

Maria Hartiningsih menyebut perjuangan ekonomi Ibu Suri sebagai bentuk perwujudan ‘politik tandingan’ dari perempuan untuk meluruhkan ketidakadilan dengan perjuangan untuk kebutuhan hidup sehari-hari. “Orientasinya tanggung jawab dan kecintaannya terhadap kehidupan,” katanya.

Namun, novel “Istana Jiwa” juga bercerita tentang orang-orang dan cita-citanya yang tak kunjung padam. Maria, tokoh utama dalam novel ini, digambarkan sebagai aktivis mahasiswa kiri. Ia menyaksikan bagaimana partainya diporak-porakdakan dalam waktu sekejap.

Meski demikian, seperti dikisahkan Putu Oka, Maria tidak berhenti berjuang. Ia menjadi bagian dalam gerakan melawan rezim orde baru. Sekalipun, karena posisinya sebagai anak seorang tahanan politik, Maria tidak muncul dipermukaan.

Cerita yang menyerupai sosok Maria banyak ditemukan di kalangan perempuan-perempuan yang dulunya menjadi tapol akibat peristiwa 1965. Para perempuan itu, sekalipun dihimpit penganiayaan dan stigma, tetap tegar membela keyakinan politiknya dan tak takut menghamparkan cita-cita: sosialisme.

Yunianti Chuzaifah menemukan semangat itu setiap kali ia  bertemu dengan perempuan korban peristiwa 1965. “Luar biasa, mereka sudah berusia 80-an, masih bertanya tentang ICC (International Crime Court),” katanya saat menjadi pembicara dalam diskusi peluncuran buku “Istana Jiwa” di Goethe Haus, Selasa (24/4/2012).

Yunianti juga mengapresiasi novel “Istana Jiwa” karena telah memungut kembali kisah-kisah para perempuan tangguh yang coba digelapkan dalam sejarah. “Istana jiwa tidak hanya bertutur tentang perempuan yang politis, tetapi juga mereka yang bergelut di urusan domestik, yang buta huruf, tetapi pandai melihat sudut sejarah,” terangnya.

Novel “Istana Jiwa” juga dianggap telah mengkudeta penulisan sejarah yang berkarakter feudal dan elitis. Dalam novel sejarah ini, aktor-aktor utama tidak melulu tentang pahlawan pria atau aktivis politik, tetapi juga para “penyelamat keluarga tapol tahun 1965”.

Novel “Istana Jiwa” adalah reportase sejarah. Di sini, Putu Oka tidak sekedar menyelipkan berbagai peristiwa politik dalam alur cerita, tetapi justru menempatkan peristiwa politik itu sebagai pembentuk cerita itu sendiri.

Ia menceritakan ketegangan politik di penghujung 1965. Putu Oka, yang mengalami langsung peristiwa 1965 itu, menceritakan secara kronologis gerakan sejumlah perwira progressif di kalangan tentara yang berupaya menghentikan rencana kudeta dari kelompok yang disebut “Dewan Jenderal”.

Putu bahkan menceritakan tentang Sjam Kamaruzaman, tokoh misterius dibalik G.30.S, yang sedang menghadapi papan catur dengan tangan menggenggam dua buah anak catur: hitam dan putih. Sebuah adegan yang menimbulkan tanda-tanya besar.

Hampir semua novel atau karya Putu Oka berbicara tentang peristiwa 1965. Kenapa tentang peristiwa 65 melulu? Putu Oka menjawab sederhana: sebab, banyak fakta peristiwa tentang 1965 belum tersingkap dengan jelas. Negara juga belum mengakui telah melakukan ‘kesalahan’.

Karena itu, Putu Oka memaknai karya-karyanya ini sebagai perjuangan—meminjam bahasa Milan Kundera—“ingatan melawan lupa”. Putu Oka memang sangat mengingat kejadian memilukan itu dan berusaha menulisnya.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut