Negeri Tuna Prestasi

Jika di tahun 1980-an dan awal 1980-an orang berbicara soal bulu-tangkis, maka jangan pernah lupakan nama besar Indonesia. Di jaman itu, pemain-pemain Indonesia selalu mendulam gelar juara, tidak peduli kejuaraannya dilangsungkan di kandang atau di luar kandang. Siapa yang tidak kenal dengan jago bulu-tangkis Indonesia seperti Rudy Hartono, Liem Swie King, Alan Budi Kusumah, Susi Susanti, dan lain-lain.

Baru-baru ini, dalam sebuah kejuaraan bergensi yang digelar di Jakarta, Djarum Indonesia Open 2011, Indonesia tidak meraih juara apapun. Indonesia sendiri hanya sempat menempatkan dua pemain di babak final, yaitu ganda campuran dan ganda putri, sementara yang lain sudah tersungkur di babak-babak awal.

Di ajang pekan olahraga antar bangsa, semisal Asian Games ataupun Sea-Games, dimana bulu-tangkis dipertandingkan, Indonesia tidak mampu lagi menyapu bersih semua medali yang diperebutkan. Tidak hanya pada cabang olahraga bulu tangkis, cabang-cabang olahraga yang lain pun begitu: Indonesia miskin prestasi.

Situasi ini sangat mengkhawatirkan. Sebab, olahraga bukan sekedar soal pertandingan atau hadiah, tetapi juga menyangkut soal keharuman suatu bangsa, bahkan menyangkut pembangunan jiwa dan mental bangsa itu sendiri. Anda bisa menangkap suasana magis begitu lagu Indonesia berkumandang seusai pertandingan.

Tentunya, maju dan melorotnya sebuah prestasi olahraga sangat dipengaruhi oleh kondisi bangsa itu sendiri. Kemajuan-kemajuan positif suatu bangsa niscaya akan terlihat pula pada prestasi olahraganya; sebaliknya, semakin terpuruk suatu bangsa, maka semakin terpuruk pula prestasi olahraganya. Akan tetapi, ada juga bangsa yang sedang mengalami kesulitan, tetapi karena jiwa dan karakter bangsanya masih terbangun, maka mereka bisa mencetak prestasi olahraga.

Dalam kasus Indonesia, semuanya mengalami keterpurukan; pembangunan ekonomi, kehidupan politik, dan kehancuran sosial-budaya. Jangankan berbicara haluan pembangunan olahraga, haluan pembangunan ekonomi saja kita tidak punya dan malahan mengikuti resep-resep neoliberal. Sistim politik kita pun mengalami kekacauan luar biasa, sehingga setiap hari kita hanya menyaksikan ‘kegaduhan politik’.

Menurut kami, menurunnya prestasi olahraga bukan hanya karena persoalan teknis, seperti soal pembinaan dan kaderisasi atlet. Lebih jauh daripada itu, kemunduran prestasi olahraga disebabkan pula oleh dua hal pokok: pertama, masifnya kebijakan neoliberal memprivatisasi dan menswastakan semua layanan publik, termasuk menkomersilkan fasilitas olahraga. Sarana berolahraga secara gratis dan massal sudah sulit ditemui, dan kalaupun masih ada, kondisinya sudah sangat memperihatinkan.

Kedua, neoliberalisme menghancurkan mental dan karakter bangsa kita. Semangat orang menjadi atlet bukan lagi untuk mengharumkan nama keluarga dan bangsa, melainkan diselubungi semangat selebritas: ingin terkenal, bergelimang uang, dan lain sebagainya.

Dalam hal apapun, baik olahraga maupun militer, faktor semangat yang berkobar-kobar selalu menjadi pertimbangan pokok. Sehebat apapun peralatan dan teknologinya, jika tidak disertai dengan semangat juang, maka pemain tersebut bisa melempem dalam pertandingan-pertandingan.

Kita sangat merindukan bendera merah-putih kembali berkibar di ajang-ajang pertandingan, khusunya cabang olahraga yang sudah populer di tengah rakyat kita, semisal bulu tangkis dan sepak bola. Setidaknya hal itu akan memupuk sebuah kebanggaan terhadap bangsa kita. Bukankah dengan bermodalkan kebanggaan itu, kita akan lebih mudah memobilisasi seluruh kekuatan nasional untuk gotong-royong membangun bangsa.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut