Negarawan Dan Krisis Politik

Dalam suasana politik Indonesia yang penuh intrik dan menggemuruh, akhirnya muncul kerinduan-kerinduan akan masa lalu. Diantaranya: banyak yang merindukan kehadiran sosok negarawan. Maklum, sejarah Indonesia pernah mencatat deretan tokoh-tokoh besar yang telah mengabdikan segala-galanya, termasuk kehidupannya, demi bangsa dan negaranya.

Hal itu pula yang disuarakan oleh Mahfud MD dan Megawati Soekarnoputri saat berbicara di hadapan peserta seminar Ikatan Keluarga Alumni Universitas Islam Indonesia (UII) di Hotel Gran Melia, Jakarta Selatan, Kamis (24/5/2012). Keduanya menyerukan perlunya sosok negarawan untuk menyelamatkan bangsa ini dari keterpurukan.

Ada dua sosok yang paling sering dirindukan: Bung Karno dan Bung Hatta. Keduanya—sering disebut “dwi-tunggal”—sanggup menjadi magnet yang menarik loyalitas hampir semua massa-rakyat, dari berbagai spektrum politik, untuk berbaris dalam proyek bersama: merdeka sepenuh-penuhnya!

Di jaman sekarang, ketika ideologi dianggap tak lagi penting, politisi-politisi pengusung gagasan terpelanting dari kontestasi politik. Dalam banyak kasus, sang pemenang dalam kontestasi politik adalah kaum pragmatis dan oportunis. Inilah era dimana politik dimaknai sekedar sebagai medium pencarian kuasa dan kekayaan pribadi.

Jurang antara politisi dan rakyat semakin menganga lebar. Begitu pula dengan perilaku pejabat alias birokrat dari pusat hingga daerah. Jangan dulu bicara kebijakan yang pro-rakyat. Dalam berbagai kasus, birokrat dan politisi bahu-membahu membokongi kepentingan rakyat. Sejak rejim orde baru hingga sekarang, birokrat dan politisi lebih banyak menjadi pembela ‘kepentingan pemilik modal’.

Pertanyaannya: apakah dengan kondisi demikian masih dimungkinkan munculnya seorang negarawan?

Bung Karno dan Bung Hatta adalah produk jamannya. Semua tokoh-tokoh besar dalam sejarah dunia tak bisa dilepaskan dari konteks sosial dan historis yang melahirkannya. Gagasan orang untuk menciptakan ‘dunia baru’, misalnya, harus dianggap sebagai respon atas kegagalan ‘dunia lama’ memenuhi harapan atau kebutuhan mayoritas rakyat.

Kehadiran Hugo Chavez dan Evo Morales di Amerika Latin, misalnya, tak bisa dipisahkan dari rangkaian proses panjang perjuangan rakyat di benua itu untuk keluar dari penghinaan imperialisme dan kapitalisme. Chavez dan Morales mewakili ide atau kepentingan mayoritas orang di benua itu, termasuk orang-orang yang sudah mengorbankan nyawa untuk memperjuangkan ide-ide atau cita-cita tersebut.

Kesimpulannya: relasi sosial atau hubungan sosial telah menjadi tenaga penggerak berbagai kejadian-kejadian bersejarah. Proses ini, pada gilirannya, akan melahirkan seorang pemimpin sosial yang sanggup memahami hukum gerak sejarah dan mengubah struktur sosial sesuai arah gerak sejarah.

Pada titik itulah lahir seorang pemimpin karismatik atau negarawan. Dengan demikian, kemunculan seorang pemimpin karismatik tidak dapat dipisahkan dari kemampuan seorang pemimpin politik merespon dan mengartikulasikan kepentingan mayoritas rakyat pada jamannya. Dalam konteks Indonesia sekarang, misalnya, problem pokoknya adalah imperialisme. Maka, negarawan yang diharapkan hadir haruslah seorang yang punya sikap anti-imperialisme yang kuat.

Namun, pada titik ini kemungkinan lain bisa muncul: fasisme. Di sini, fasisme akan menciptakan sebuah panggung drama untuk mencegah kemunculan pemimpin yang mewakili kepentingan rakyat. Caranya: fasisme akan menciptakan pemimpin gadungan yang mengeksploitasi patriotisme palsu: chauvinisme, anti-imigran, xenophobia, dan lain-lain.

Dengan demikian, perlu dalam segala ruang seorang pemimpin pergerakan menjelaskan akar dari persoalan bangsa sekarang. Penting juga pergerakan punya media yang bisa berbicara kepada massa rakyat secara luas. Dan, dengan demikian, sosok negarawan masa depan pun adalah mereka yang mengusung ide-ide dan gagasan pembebasan. Dengan begitu, rakyat tidak mudah dijebak untuk masuk dalam perangkap “konservatisme” dan “fasisme”.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut