Karyawan PLN Nonton Bareng Film “Kita Versus Korupsi”

Ratusan karyawan PT. Perusahaan Listrik Negara (PLN) tiba-tiba ramai di Studio XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta. Rupanya, kehadiran mereka dalam rangka nonton bareng film “Kita versus Korupsi” (KvsK).

Ruangan pun dipenuhi dengan karyawan berkemeja putih. Sebelum film diputar, perwakilan PLN dan Transparancy International (TI) menyampaikan pidato pengantar tentang kegiatan ini. Katanya, kegiatan pemutaran film ini berlangsung selama tiga hari berturut-turut (22-24 Mei 2012).

Tak lama kemudian, film yang berisi empat film pendek ini pun diputar. Sebagian besar penonton seperti larut dalam suasana yang digambarkan di film itu.

Film ini merupakan hasil kerjasama Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Transparency International Indonesia (TI-Indonesia) dan United State Agency International Development (USAID).

Ada empat film pendek yang digabung di film ini: “Rumah Perkara” karya Emil Heradi, “Aku Padamu” karya Lasya F Susatyo, “Selamat Siang, Risa!” karya Ine Ferbriyanti, dan “Psttt..Jangan Bilang Siapa-siapa” karya Chairun Nissa.

Sejumlah artis “ngetop” juga digandeng di film ini, seperti Nicholas Saputra, Revalina S Temat, Tora Sudiro, Agus Ringgo dan Teuku Rifnu Wikana.

Ada banyak pesan moral yang coba diungkapkan di film ini. Di film pertama, Rumah Perkara, digambarkan tentang seorang Lurah dan seorang janda yang berusaha mempertahankan rumahnya.

Sang Lurah, yang awalnya berjanji membela rakyat, rupanya takluk oleh sogokan uang seorang pengusaha kota. Sang Lurah pun tak bisa melindungi rumah warganya saat digusur oleh pengusaha tersebut.

Pada film kedua, Aku Padamu, menceritakan sepasang muda-mudi yang ingin menikah tanpa restu orang tua. Sayangnya, begitu mereka tiba di Kantor Urusan Agama (KUA), keduanya terlibat polemik. Si lelaki—yang diperankan Nicholas Saputra—berusaha mencari jalur pintas untuk bisa menikah, termasuk menyogok petugas KUA. Sementara si perempuan—yang diperankan Revalina S Temat—menolak jalan sogok-menyogok itu.

Rupanya, si wanita terkenang dengan ajaran moral gurunya semasa di SD. Saat itu, sang guru—diperankan oleh Agus Ringgo—rela tidak diangkat sebagai pegawai tetap karena tidak mau menyogok.

Film ketiga, Selamat Siang, Risa!, mengambil latar-belakang sekitar tahun 1974. Ini kisah seorang penjaga gudang beras yang sangat jujur. Saat itu, keadaan ekonomi sangat sulit dan beras sangat langka.

Begitu kuatnya prinsip hidup si penjaga gudang—diperankan oleh Tora Sudiro, sampai-sampai ia menolak sogokan seorang pengusaha beras yang berusaha menimbun beras di gudangnya. Padahal, keluarga si penjaga gudang sedang dalam kondisi sulit dan anaknya sedang sakit keras.

Sedangkan film terakhir, Psttt..Jangan Bilang Siapa-siapa, menceritakan bagaimana praktek korupsi hadir di lingkungan keluarga dan sekolah. Pada awalnya, praktek itu dianggap hal yang biasa saja. Akan tetapi, secara moral, praktek itu menjadi cikal bakal perilaku koruptif. Misalnya: praktek jual beli buku di sekolah, praktek mempermahal harga buku, memanipulasi harga, dan lain-lain.

MAHESA DANU

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut