Nazaruddin dan Andi Nurpati

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah menetapkan Nazaruddin sebagai tersangka pada akhir bulan Juni lalu. Sejurus dengan itu, Presiden SBY telah memerintahkan agar mantan bendahara umum partai demokrat itu segera dipulangkan paksa. Dengan begitu, Nazaruddin seperti akan kehabisan langkah.

Tetapi rupanya tidak begitu. Lewat pengacaranya, OC Kaligis, Nazaruddin telah menabuh genderang perang dari Singapura. Nazaruddin menyebut dua nama orang penting di partai demokrat turut menikmati aliran dana suap Sesmenpora: Anas Urbaningrum dan Andi Mallarangeng.

Anas Urbaningrum, yang juga adalah ketua umum partai demokrat, disebut-sebut menerima aliran uang sebesar Rp2 miliar, sedangkan Andi Mallarangeng—sekretaris Dewan Pembina Partai Demokrat dan juga Menteri Pemuda dan Olahraga—diketahui menerima Rp 4 milyar.

Pendek kata, seiring dengan terkuak ‘pemain-pemain’ dalam kasus Sesmenpora itu, perhatian publik semakin terarah kepada partai demokrat. Ini bukan sekedar soal dugaan praktek korupsi beramai-ramai, tetapi juga tentang bagaimana sebuah partai politik mengumpulkan ‘logistik’.

Sementara itu, salah seorang kader terbaik partai demokrat lainnya, Andi Nurpati, sedang terbelit kasus yang tak kalah buruknya: dugaan pemalsuan surat MK terkait sengketa pemilu 2009 di Daerah Pemilihan Sulawesi Selatan I.

Menurut kami, dugaan pemalsuan surat MK itu hanya sebagian kecil dari kekacauan dan ketidakberesan penyelenggaraan pemilu 2009. Dan, Andi Nurpati adalah salah seorang dalam lingkaran KPU yang punya andil dalam kekacauan itu.

Dalam surat palsu MK tersebut, ada penambahan suara sangat signifikan terhadap caleg yang hendak diloloskan, Dewi Yasin Limpo, dari 46 ribu menjadi 70 ribu lebih. Kalau kita telaaah, sebagian besar kekacauan dalam pemilu 2009 adalah soal dugaan penggelembungan suara.

Ketidakberesan penyelenggaran pemilu 2009 sempat dipersoalkan. Sayang, upaya semacam itu seperti membentur tembok. Bahkan, ketika pimpinan KPK saat itu, Antasari Ashar, berusaha membongkar kasus IT KPU, ia pun terjerembab dalam skenario kriminalisasi yang memenjarakan dirinya.

Nazaruddin dan Andi Nurpati memang fenomena unik. Keduanya berperan besar atas kemenangan dan kejayaan partai demokrat hari ini.  Nazaruddin berjasa dalam mengumpulkan logistik untuk partai, sedangkan Andi Nurpati punya andil dalam menyulap suara partai demokrat sehingga naik tiga kali lipat.

Akan tetapi, nasib keduanya sepertinya akan berbeda. Nazaruddin sepertinya akan dilepas dan dibiarkan dikirim ke penjara. Meskipun Nazaruddin adalah kader demokrat, tetapi akan menjadi point tersendiri jika partai membiarkannya dipenjara. Ini adalah pembuktian bahwa partai demokrat memang tidak pandang bulu dalam memberantas korupsi.

Tetapi Andi Nurpati tentu tidak bisa dilepas begitu saja. Kalaupun akhirnya diputuskan bersalah, maka kesalahannya pun pastinya akan dipersempit pada persoalan pemalsuan dokumen ansich. Sedangkan dugaan manipulasi data-data pemilu akan direm kecepatannya sedemikian rupa, supaya tidak mengganggu kredibilitas dan legitimasi pemerintahan yang saat ini sedang berjalan.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • efendi

    Negeri yang memiiki jutaan penduduk bisa kalah oleh segelintir kelompok pecundang yang mengendarai konstitusi…Ruarrr Biasaaaa…
    Ternyata kita (aku) juga pecundang.

  • sutoyo

    begini sdh trik kumpul logitik partai borjuasi …semoga kasusnya bisa final…