Cerita Seorang Perempuan Tua

Dia bercerita tentang perjalanan-perjalanannya. Tentang  hidupnya.  Penuh semangat, mengalir dan lancar sebagai bukti bahwa dia tak berbohong dengan cerita-ceritanya. Kadang  dengan nada tinggi untuk semakin meyakinkanku. Aku pun semakin terpaku di tempat duduk halte bus sudah hampir satu jam.  Padahal ia hanya seorang perempuan tua hampir tujuh puluh tahun. Mungkin.

“Pernahkah kamu?” matanya tajam menatap mataku, “dilahirkan dalam kekayaan melimpah, dilayani bak seorang putri keraton disertai puja dan puji lalu bangkrut, dihina, dan dijauhi orang-orang yang pernah mengaku teman dan kau anggap teman? Dan kau lihat, aku tidak jatuh terjerembab dalam lembah keputusasaan.  Aku bisa bangkit dan masih berdiri di depanmu. Bercerita seperti ini?” Perempuan  tua itu terus bercerita tentang kejatuhan dan kebangkitannya seakan kepada cucunya sendiri sementara aku teringat pada tokoh yang jatuh dan bangun dengan bersemangat untuk melanjutkan perjalanan deritanya karena paham pada konsekuensi atas kata dan perbuatannya.

Dia jatuh tiga kali karena beban berat dan siksa tapi ia tidak menangis dan mengeluh justru masih sanggup menasehati perempuan-perempuan muda seusianya yang menangis dan iba untuknya. Katanya: “Perempuan, jangan tangisi aku tapi tangisilah dirimu sendiri.” Kata-katanya sungguh tajam, menusuk sekaligus mengingatkan.  Aku tahu bagaimana beratnya menjadi perempuan pada saat itu. Perempuan hampir tak punya pilihan dalam menentukan hidup dan cita-citanya. Kelahiran bayi perempuan kadang masih dianggap aib, lantas dibunuh atau disingkirkan. Jika tertangkap berzinah, perempuanlah yang paling dianggap berdosa dan  bertanggung-jawab. Perempuan adalah penggoda dan menjadi sahabat setan dalam kejatuhan manusia. Tetapi barangkali perempuan tua ini juga tahu kisah tentang perempuan yang pernah jatuh dan dirasuki tujuh roh jahat tapi bisa bangkit berdiri dan melepaskan belenggu masa lalu dan sanggup berubah untuk hidup dan berguna bagi sesamanya?

“Pernahkah kamu?” Perempuan tua itu membuyarkan kembara pikiranku, “dalam suatu hidupmu, kamu dikejar-kejar sebagai musuh Negara yang berbahaya; dicap pemberontak dan pengkhianat tapi kamu bisa selamat dan justru kembali bekerja untuk Negara  dan rakyatmu?” Aku terdiam. Tenggorokanku kering. Aku haus. Tapi tak ada penjual asongan yang lewat. Aku teringat akan hidupku beberapa puluh tahun yang lewat. Dan lagi-lagi, aku pun teringat pada dia yang bahkan diusia masih bayi pun sudah dicap berbahaya, bergaris tangan makar dan hendak menggulingkan kekuasaan sah raja. Di masa remaja, dia sudah mengagumkan dalam pandangan dan visi hidupnya dan tak takut berdebat dengan para guru hingga suatu kali dia benar-benar diadili dan dihukum mati karena keyakinannya dengan dituduh hendak menjadi pesaing raja. Ia mati atas keyakinan hidupnya. Murid-muridnya bilang dia tak mati tapi mengalahkan kematian dan bangkit. Sejak bayi, ya ampun, dituduh berbahaya dan makar? Bukankah begitu juga Musa, dua ribu tahun sebelum dia? Pun kedelapan bayi hasil persetubuhan Basudewa dan Dewaki tiga ribu tahun sebelum dia? Hmmm…hanya dua yang selamat dari kekejaman Kamsa: Balarama dan Kresna?

“Pernahkah kamu?” perempuan tua, bertampang nenek-nenek yang sudah seharusnya berdamai dengan kehidupan dan bercanda dengan cucu-cucunya ini terus menggangguku. Bus yang kutunggu-tunggu belum juga datang, “diusir dari rumahmu sendiri tanpa tahu akan menemukan perlindungan atau tidak; tanpa tahu akan ditampung di mana dan bagaimana melanjutkan kehidupan sementara kamu tak dimasukkan dalam daftar pengungsi yang harus dilindungi?” Aku tidak menjawab. Tapi aku tahu bagaimana sampai sekarang pemerintah negeri ini membiarkan sebagian warga-negaranya diusir dari rumah-rumahnya yang nyaman karena keyakinannya. Puluhan tahun yang lalu, karena keyakinan ideologi pula banyak orang diusir dari rumah-rumahnya dan harta-hartanya dirampas barangkali semasa dengan nenek tua ini ketika diusir dari rumahnya.

“Tentu, kamu tak pernah mengalami hidup yang seperti itu. Aku mengalaminya. Kamu mendengarku, Nak?” Nenek itu membuyarkan lamunanku. “Ya, Nenek. Aku mendengar.”

Aku pun ingat pada kisah sepasang kekasih yang kesulitan mencari sarang untuk melahirkan jabang bayi terkasih. Pasangan yang seharusnya berbahagia menyambut jago-annya itu tak menemukan rumah yang nyaman. Akhirnya keduanya cukup berbahagia menemukan bekas kandang hewan untuk menyambut kelahiran jago-annya itu.

“Pernahkah kamu?” perempuan tua ini belum lelah juga bercerita tentang hidupnya. Sudah satu jam lewat ya hampir dua jam ia bercerita seakan ia menemukan telinga yang pas untuk menumpahkan isi hati dan pikirannya karena sadar waktu yang semakin terbatas; ajal yang semakin dekat. Apakah ia takut bila tak ada seorangpun yang pernah mendengar kisah hidupnya yang mengagumkan sebagaimana yang ia ceritakan kepadaku? Aku mulai menatap bibirnya yang bergerak yakin seakan menjadi saksi yang tak berdusta untuk apa yang pernah dilakukan sepanjang hidupnya, “melewati daerah yang tak kamu kenal dan  betapa berbahayanya daerah itu. Bila salah sedikit saja, kamu bisa jatuh dan mati tanpa pernah tahu apakah jasadmu bisa ditemukan atau tidak?”

Ya aku tahu banyak orang di sini mati sementara itu baik keluarga, saudara maupun kawan-kawan yang mencintainya tak pernah tahu di mana kubur-kuburnya. Sepasang kekasih itu pun pernah melewati perjalanan yang tak kenal ampun dan belum mereka kenal sebelumnya demi meloloskan bayi mungilnya dari amukan raja gila yang mulai membunuh bayi-bayi.

“Pernahkah kamu?” perempuan tua itu duduk di sampingku; menepuk-nepuk pundakku, “mengisi diskusi di desa-desa, bertemu keluarga-keluarga miskin tapi berani dan bertanggung jawab terhadap tamu undangannya, ya diriku, lalu tentara-tentara berseragam atas perintah atasan  mengepungmu, memanggil-manggil namamu dan menuduh telah membuat pertemuan tanpa ijin dan berkumpul hendak menjatuhkan kekuasaan yang sah?” Aku mengangguk-angguk dan berpikir siapa sebenarnya perempuan tua ini.  Dengan segudang pengalaman represi yang pernah dialaminya, ia tampak tak pernah jera dan justru terus bersemangat mengobarkan keberanian melawan ketidak-adilan dan kesewenang-wenangan

“Pernahkah kamu? Pernahkah kamu? Pernahkah kamu?” Perempuan tua ini mengulanginya sampai tiga kali dengan nada tanya yang keras karena barangkali sadar bahwa kendaraan yang lalu-lalang di depan kami bisa menenggelamkan suara altonya.

“Barangkali kamu tak akan pernah!” katanya mantab dan yakin sambil berdiri, ”karena aku pun berharap sejarah yang gelap itu tak akan berulang untukmu. Karena itu, kamu, yang masih muda bergotong-royonglah, bekerjalah lebih giat di masa yang kurasa masih cukup aman dan nyaman ini untuk rakyatmu yang masih ditindas, dimiskinkan dan dibodohi oleh kekuatan asing: imperialis tapi bila sejarah itu berulang,  nil novi sub sole, tak ada yang baru di bawah matahari, aku tidak tahu dan tidak yakin apakah kamu akan seberani dan sesanggup diriku? Kamu belum teruji di alas sejarah,” katanya cepat tapi terdengar tegas sambil bergegas tanpa pamit masuk ke dalam bus yang membawanya entah kemana.

Aku terpukau karena kaget: begitu tak disangka perempuan tua pergi dengan cara itu. Ceritanya memang tak ada yang baru. Represi yang berulang dan keberanian yang berulang. Juga dua ribu tahun yang lalu? Bukankah dia di bawah pemerintahan Pontius Pilatus sebagaimana credo murid-muridnya, juga mengalami represi dan dengan berani pula menghadapi represi itu hingga kematian di tiang salib? Dan orang-orang sebelum dia, tak adakah? Tapi aku tak tahu bagaimana perempuan tua ini menemukan keberaniannya menghadapi segala represi sebagaimana yang ia ceritakan kepadaku. Dan aku, dengan mata dan telingaku sebagai saksi, hampir-hampir tak menemukan ada nada dusta dalam cerita-ceritanya. Semoga cerita perempuan tua itu memang benar dan Tuhan memberkatinya dengan umur panjang sehingga semakin banyak orang yang mendengar kisah hidupnya yang baik itu. Tak hanya diriku.

Jakarta, 25 April 2011

*) Penulis adalah penggiat sastra di Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (Jaker)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
Tags: