Merdeka dari IMF, Pertumbuhan Ekonomi Bolivia Tertinggi di Amerika Selatan

Seringkali ada gertakan begini: kalau berani meninggalkan IMF dan Bank Dunia, maka siap-siaplah menjadi negara yang terpuruk dan terisolir.

Bolivia telah mematahkan gertakan itu. Meski menyatakan merdeka dari IMF dan Bank Dunia, ekonomi Bolivia justru tumbuh pesat.

Di tahun 2018 ini, ekonomi Bolivia tumbuh rata-rata 4,5 persen, yang menempatkan negara berpenduduk 12 juta ini dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Amerika selatan.

“Pertumbuhan ekonomi negara kita nomor satu di Amerika selatan dan nomor dua di benua ini, dengan 4,5 persen,” kata Presiden Bolivia, Evo Morales, saat berbicara di Casa Grande del Pueblo, di Ibukota La Paz, Selasa (9/10/2018).

Merujuk pada data Instititut Statistik Nasional (INE) Bolivia, pertumbuhan ekonomi pada Juni 2018 mencapai 4,61 persen, lebih tinggi dari Juni tahun lalu sebesar 3,94 persen.

Di periode yang sama (Juli 2018), Chile, negara tetangga Bolivia, pertumbuhan ekonominya hanya 0,7 persen. Sepanjang 2017, ekonomi Chile hanya tumbuh 1,5 persen. Sementara Brazil, raksasa ekonomi di Amerika selatan, hanya tumbuh 1 persen di tahun 2017.

Evo menegaskan, pertumbuhan ekonomi rata-rata di atas 4 persen yang dicapai Bolivia di tengah pelemahan ekonomi dunia saat ini tidak terlepas dari penerapan “model ekonomi sosial”.

Sebagai ungkapan terima kasih atas keberhasilan ini, pemerintahan Evo Morales sudah mengumumkan akan memberikan bonus ganda kepada para pekerja Bolivia saat natal nanti.

“Diberitahukan kepada kalian, rakyat Bolivia, saya pastikan bonus ganda pada tahun 2018 ini,” katanya.

Di bawah pemerintahan sosialis Evo Morales, dari 2006 hingga tahun 2018 ini, ekonomi Bolivia tumbuh rata-rata di atas 4 persen. Bahkan, pada tahun 2008 dan 2013, angkanya di atas 6 persen.

Yang menarik juga, kendati memilih berjarak dengan IMF dan Bank Dunia, juga kerap melakukan nasionalisasi perusahaan asing, Bolivia menjadi salah satu surga bagi investasi asing langsung (FDI) di kawasan Amerika selatan.

Berdasarkan data dari Komisi Ekonomi untuk Amerika Latin dan Karibia (CEPAL), di tahun 2017 total investasi asing langsung (FDI) di Bolivia memang menurun: hanya 725 juta USD. Namun, di tahun 2013, nilai FDI Bolivia melebihi 2 milyar USD. Di tahun itu, proporsi FDI atas PDB Bolivia termasuk tertinggi di Amerika latin dan Karibia: di atas 6 persen.

Data yang ditunjukkan oleh ekonom Faisal Basri menunjukkan, kontribusi FDI terhadap keseluruhan pembentukan modal tetap bruto (gross fixed capital formation/GFCF) Bolivia sepanjang 2011-2016 mencapai 15.5 persen. Bandingkan dengan Indonesia yang hanya 5.7 persen.

Jadi, kebijakan ekonomi yang cenderung mandiri, bahkan cenderung sosialistik, tidak serta merta akan ditinggal oleh investasi asing. Bolivia jadi buktinya.

Disamping berhasil menarik investasi, kebijakan ekonomi progressif versi Bolivia berhasil mengangkat jutaan rakyat Bolivia dari lubang kemiskinan.

Berdasarkan data Centre for Economic and Policy Research (CEPR) yang dikutip Guardian, di bawah pemerintahan Morales angka kemiskinan berkurang 25 persen, sedangkan kemiskinan ekstrim berkurang 43 persen.

Kemudian, dalam kurun waktu 2005-2014, upah minimum naik 87,7 persen. Sementara belanja sosial untuk pendidikan, kesehatan, pensiun dan lain-lain meningkat 45 persen.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut