Raka Suwasta: Saya Ingin Kembali Kepada Idealisme

Raka Suwasta, pelukis kelahiran Bali yang sudah berusia 79 tahun, belajar melukis sejak SMA. Ilmu melukis dipelajarinya secara otodidak, tanpa guru.

Untuk menambah ilmu, dia bergaul dengan seniman-seniman yang datang ke Bali dan tinggal di Kedaton. Pada seniman-seniman besar itu, dia belajar teknik melukis, apresiasi karya seni rupa, dan sketsa. Tak ketinggalan, dia juga menyerap banyak ide dan pemikiran dari pelukis-pelukis tersebut.

Raka juga rajin membaca, sebagai referensi sekaligus menambah wawasan. Dia berlangganan majalah budaya yang terbit di Jogja.

Semua pengalaman itu membentuk dirinya, hingga punya keyakinan tebal untuk berkesenian. Bukan sekedar untuk mencari penghasilan.

“Saya melukis sesuai dengan hati nurani, dengan tema-tema mengambil kehidupan rakyat, seperti karya saya lukisan cat minyak di canvas ukuran 1,5 x 90, seorang Ibu duduk membikin garam dalam keadaan bunting (hamil), itu seperti protes saya ke pemerintah dan kepada banyak orang kenapa orang bunting dibolehkan kerja berat,” katanya.

Lukisan tersebut ikut dalam Pameran Nasional Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) di Jakarta, tahun 1960. Di pamera itu cuma laku dua lukisan, yaitu lukisan Raka Suwasta dan Affandi. Tahun itu, lukisan Raka laku seharga Rp 20.000,-

Raka Suwasta juga pernah di Jakarta, ikut bergabung dengan Sanggar Agung pimpinan Pak Rahmad dari Salatiga.

“Di sanggar tersebut saya bisa kenal pelukis-pelukis top macam Affandi, Hendra, Trubus, dan mereka banyak mensupport dan mengajari tehnik melukis juga bagaimana menggunakan alat-alat lukis,” kenangnya.

Dari pergaulan itu, Raka juga menjadi tahu bahwa Affandi, sang maestro lukis Indonesia, pernah menjadi anggota Konstituante mewakili para seniman di tahun 1962.

Raka akhirnya mengabdikan hidupnya pada seni lukis. Kadang juga dia membuat karya lain untuk diperjual-belikan, yang orang lain tidak tahu bahwa itu hasil karyanya.

Hingga terjadi peristiwa 1965, yang disusul dengan pembunuhan dan penangkapan terhadap orang-orang kiri. Raka turut ditangkap, lalu dipenjara di Denpasar selama 2 tahun 2 bulan.

“Disana saya belajar mengenai ber-Tuhan, karena saya bingung Tuhan yang benar itu yang mana, karena ternyata tuhan itu hanya satu tapi nabi yang banyak,” tuturnya.

Di dalam penjara, Raka memperbanyak belajar agama. Dia membaca hampir semua kitab suci, dari Al-quran hingga Injil. Hingga disampai pada kesimpulan, bahwa setiap agama mengajarkan cinta kasih dan norma hidup.

Raka mengakui banyak ilmu didapat semasa di penjara, yang kalau diluar justru tidak bisa ia pelajari.

Sekeluar dari penjara, dia memilih hidup sebagai orang tua yang bijaksana dan bertanggung jawab penuh kepada anak-anaknya, berusaha memberikan mereka pendidikan yang tinggi dan kehidupan yang wajar.

Demi itu, dia mulai melukis dengan tema-tema yang “menyenangkan” dan laku dijual. Dari jualan lukisan itu, dia bisa membeli tanah dan menyekolahkan anak-anaknya.

Rumah Raka di jalan Pinus berdiri di atas lahan seluas empat are, dibangun tahun 1992, terdiri atas 3 bangunan, 2 untuk tempat tinggal dan 1 sebagai studio.

“Saat itu gampang cari uang dengan menjual lukisan, karena saat jaman Soeharto banyak uang berhamburan sampai mereka bingung mau membeli apa dan akhirnya mereka membeli lukisan. Bank-bank seperti BNI, Niaga, BCA beli lukisan untuk dipasang di seluruh anak cabangnya. Lukisan saya diborong dengan harga per satunya 3-4 juta. Saya punya 15 lukisan maka semua habis mereka borong,” katanya diiringi tawa.

Raka menceritakan, banyak mahasiswa dari institut seni (ISI Bali) melakukan Praktek Kerja Lapangan (PKL) ke tempatnya. Belakangan, karena usia sudah tua, sudah lebih dari 70-an tahun, kunjungan PKL itu mulai ditolak.

“Mendampingi itu membebani fikiran karena dalam memberikan wawasan di PKL tersebut bagaimanapun saya punya tanggung jawab, harus tepat dan harus mengena,” terangnya.

*

Tahun 1963 sampai 1965 akhir, bersama Putu Oka Sukanta, Raka pernah tergabung dalam Gong Kronik, sebuah perkumpulan drama modern yang kegiatannya baca deklamasi dan seni pertunjukan lainnya. Pernah pula pentas membawakan naskah Anton Chekov.

Gong Kronik disupport oleh pemerintah saat itu. Anggotanya yang terdiri dari orang-orang pintar, salah satunya Prof. DR. Luh Putu Suryani, seorang Psikiater dari Universitas Udayana.

Putu Oka Sukanta sebagai pimpinan dan Raka Suwasta bertanggung jawab dalam artistik dekorasi di pementasan-pementasan.

“Iklim berkesenian saat itu sangat cair dan kita tidak ada mengkotak-kotakkan diri, semua berteman karena di barat juga begitu modelnya,” katanya.

Dia menceritakan, saat dirinya ke Finlandia, seniman komunis, nasionalis dan lainnya bisa bersatu. Sekalpun ada perdebatan ide dan wawasan, tetapi tidak memecah mereka.

 

“Tidak seperti disini, kalau tak cocok lalu bermusuhan,” ujarnya.

Gong Kronik beranggotakan unsur-unsur dari LKN, mahasiswa-mahasiswa nasionalis (PNI), dan Lekra sendiri.

“Itu sebagai pembuktian bahwa Nasakom bisa diwujudkan dalam seni, seperti ajaran Bung Karno bahwa Nasakom harus bersatu  meski pada akhirnya dihancurkan saat huru-hara politik tahun 1965,” kata pelukis yang pernah masuk list orang-orang yang tidak boleh ditayangkan Stasiun TVRI seluruh Indonesia ini.

Putu Oka Sukanta, saat dihubungi Berdikarionline.com, menceritakaan, keberadaannya di Bali sangat singkat, yakni setelah selesai kuliah di Jogja tahun 1963 sampai 1964. Lalu, pertengahan 1964 pindah ke Jakarta.

Saat di Bali, Putu Oka menginap di rumah Permadi Liosta, seorang pelukis dari Aceh yang sudah lama menetap di Bali. Banyak murid-murid Permadi yang belajar melukis, anak-anak seusia SMP dan SMA.

Dijelaskan Putu, Raka sering datang ke tempat Permadi untuk belajar melukis meski ia sudah bisa melukis, tapi tetap datang untuk memantapkan tehnik.

Di Bali, Putu Oka dikenal sebagai deklamator terbaik sejak tahun 1958-59 sampai akhirnya ia mencetuskan ide untuk membuat kelompok bernama Gong Kronik yang lebih pada seni pertunjukan (teater, deklamasi dan seterusnya).

“Ciri khas Gong Kronik ini anggotanya terdiri atas anak-anak muda, SMP, SMA, mahasiswa, laki-laki juga perempuan, mereka berasal dari organisasi-organisasi seperti Gerakan Siswa Nasional Indonesia (GSNI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI),” cerita Putu Oka.

Saat itu, lanjut Putu, Sukarno tengah menyerukan politik Ganyang Malaysia.

Gong Kronik pernah membuat pementasan di panggung hotel Bali dan sukses karena menerapkan sistem efisiensi yang bagus, juga merintis jalan untuk bisa siaran di RRI seminggu sekali, baca puisi, analisa cerita pendek, hingga keberadaan Gong Kronik cukup tenar saat itu.

Jadi, pertemuan Putu Oka dan Raka terjadi dalam usaha untuk menggalang seniman-seniman muda yang tidak fanatik terhadap afiliasi kelompoknya tetapi mencair jadi satu. Hingga, pertengahan 1964, Putu Oka pindah ke Jakarta dan Gong Kronik diteruskan oleh kawan-kawannya itu.

Di mata Putu, Raka adalah seorang yang konsisten pada pilihan hidupya, yakni sebagai seniman. Dia terus melukis, meski pernah diinterupsi oleh peristiwa 1965. Setelah keluar penjara, Raka terus melukis, hingga menjadi salah satu pelukis terkenal di Bali.

“Saya sangat mengagumi ketulusan dan kecintaan Raka terhadap seni rupa yang ia jadikan tidak hanya sumber kehidupan tetapi juga sumber kejiwaannya, dia menikmati dunia itu sehingga terpenuhi hidup jasmani dan rohani ia dan keluarganya,” tutur pria yang belum lama ini menerbitkan novel terbarunya, Celah.

*

Berdikarionline.com juga menanyakan perihal iklim berkesenian di Bali saat ini.

Menurut Raka, seni tradisional yang didukung oleh pemerintah itu hanya seni pertunjukan, terutama seni tari. Karena seni itu bisa dipakai sebagai tontotan turis di hotel-hotel maupun pengisi seremoni-seremoni pemerintah.

Lanjut Raka, di Bali ini ada dua kategori kesenian, yakni tradisional dan kontemporer. Dalam perjalannnya, seni tradisional kalah terpojok, sehingga pelaku-pelaku seni tradisional (pematung, pengukir, pemusik, pelukis) secara ekonomis semakin susah dalam mencari pasar dan panggung.

Sementara seni kontemporer banyak di iming-imingi dengan harga tinggi, peminatnya banyak dan sering jadi acuan.

Karena itu, ada persoalan regenerasi terhadap seni tradisi, yang notabene bentuk kekayaan kebudayaan nasional kita.

“Tapi kalau tidak bisa makan, mau ngomong apa?” tuturnya.

Dia mengapresiasi Tiongkok dan Jepang, yang bisa mempertahankan seni tradisinya. Sebaliknya, orang Indonesia justru lebih condong terhadap segala hal yang datang dari luar.

“Ini juga kesalahan akademi dan sekolah-sekolah seni kita yang tidak pernah mengajarkan rasa nasionalisme dalam berkesenian,” tegasnya.

Menurut dia, sangat jarang pelukis saat ini yang seperti Hendra, yang karya-karyanya kental dengan semangat nasionalisme. Sebaliknya, tak sedikit seniman kontemporer yang tidak menampilkan sisi keindonesiannya.

Raka menambahkan, sekarang ini panggung dan evetn-event kesenian dimonopoli oleh kesenian kontemporer. Sebaliknya, seni tradisi hanya pentas dan memainkan alat musik mereka pada upacara keagamaan di pura-pura.

Dia bicara tentang perlunya Bali membuat semacam regulasi yang melindungi are hijau, seperti persawahan, dari massifnya pembangunan villa dan ruko.

“Seperti di Tanah Lot itu, harusnya tidak boleh di area itu diadakan kegiatan jual beli, radius dua kilo harus steril dari segala aktifitas yang bersifat komersil, bersih dari bangunan dan kios-kios,” ungkapnya.

Raka memberi contoh bagus di Thailand, yang mana Pagoda-nya tetap steril dari aktifitas jual beli sehingga tetap indah dan terjaga kesakralannya.

*

Di akhir bincang-bincang dengan Berdikarionline.com, Raka Suwasta menyatakan tugasnya sebagai orang tua sudah selesai, anak-anaknya sudah menikah semua.

“Saya tinggal mengurus diri saya sendiri dan ingin kembali melukis seperti dulu awal melukis, kembali kepada idealisme saya,” tutupnya. (*)

Sukir Anggraeni

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut