Mengutuk Tindakan TNI Menembak Petani Di Kebumen

Kemarin, 16 April 2011, anggota TNI kembali menggunakan senjatanya untuk menembaki rakyatnya sendiri. Kejadian itu berlangsung di Urut Sewu, Desa Setrojenar, Kebumen, Jawa Tengah. Akibat tindakan biadab tersebut, empat orang petani tertembak dan puluhan lainnya terluka.

Berdasarkan kronologis yang dikirimkan oleh Forum Paguyuban Petani Kebumen Selatan), kejadian ini bermula dari penolakan warga atas rencana pasukan TNI menggelar latihan militer di wilayahnya.

sejak senin, 11 April 2010 lalu, ribuan petani Setrojenar sudah menggelar aksi di sekitar Dinas Litbang TNI AD, yang selama ini menjadi pusat latihan militer dan uji-coba alusista. Saat menggelar aksinya, para petani memblokade jalan menuju kawasan itu.

Hingga senin malam, warga terus membangun barikade untuk memblokade ruas jalan desa dengan menggunakan bambu dan kayu. Semua itu dilakukan dengan maksud mencegah TNI menggelar latihan di Urut Sewu.

Pada hari Sabtu, 16 April 2011, seusai puluhan warga melakukan ziarah ke kuburan lima anak korban mortir TNI tahun 1997, warga mendengar bahwa anggota TNI mengobrak-abrik dan merusak blokade yang dipasang oleh warga.

Warga desa pun membetulkan blokade yang telah dirusak oleh anggota TNI. Saat itu, warga meminta agar TNI tidak melakukan provokasi dengan merusak blokade warga. Selain memperbaiki blokade yang dirusak, warga pun membangun sejumlah blokade tambahan.

Lalu, warga juga merobohkan papan nama di pintu gerbang masuk Dinas Litban TNI AD. Setelah itu, sebagian warga bergerak ke arah selatan, hampir mendekati pantai, dimana dibangun bangunan tingkat tiga yang diperuntukkan untuk menara TNI. Bangunan itu berdiri di atas lahan yang dimiliki warga. Warga pun merusak sebagian bangunan itu.

Warga kemudian berkumpul di dekat kantor Kecamatan Bulus Pesantren. Saat itu, sekitar lima-puluhan anggota TNI sudah berbaris dengan posisi siap menembak. Saat itu, warga berkeyakinan bahwa TNI tidak akan menyerang warga, paling hanya menakut-nakuti.

Ternyata perkiraaan warga meleset. TNI langsung menyerang warga secara membabi-buta, bahkan ada yang melepas tembakan peluru tajam. ”Mereka langsung memukuli kami dengan popor senjata,” ujar Wahyudi, salah seorang korban.

Saat petani berlarian berusaha menyelamatkan diri, anggota TNI melepaskan tembakan membabi-buta. Korban dari pihak warga pun berjatuhan. Empat orang warga mengalami luka tembak dan puluhan lainnya mengalami luka-luka.

TNI masih menganut dotrin kolonial

Merespon penembakan petani di Setrojenar, Kebumen, Jawa Tengah, sejumlah organisasi pergerakan mengeluarkan statemen berisi kecaman.

Kemarin, 17 April 2010, Ketua Umum Partai Rakyat Demokratik (PRD) Agus Jabo Priyono mengeluarkan statemen mengecam keras penembakan petani tersebut dan menganggap TNI masih menganut doktrin kolonial.

“Dotrin kolonial selalu menempatkan rakyat sebagai musuh yang harus ditindas. Ini kan aneh, kita katanya sudah merdeka, tetapi TNI masih menganggap rakyat sebagai musuh,” kata Agus Jabo.

Doktrin kolonial itu, katanya, diwariskan dengan baik oleh orde baru dan dipergunakan untuk menindas gerakan rakyat dan pro-demokrasi.

Dalam kejadian di Setrojenar, menurut Agus Jabo, pihak TNI seharusnya mengakui dulu hak-hak warga atas tanah yang dipergunakan latihan, mendengar apa keinginan rakyat, dan mencari solusi penyelesaiannya secara baik-baik.

“Apa gunanya TNI bikin latihan militer, jika ternyata peluru-peluru itu dipakai untuk menembak rakyat sendiri, bukan menembak musuh,” katanya.

TNI, kata Agus Jabo, seharusnya menjadi kekuatan nasional untuk menjaga kedaulatan bangsa. Termasuk mempertahankan setiap jengkal tanah Republik Indonesia yang dicaplok perusahaan asing.

Kecaman juga disampaikan oleh Ketua Umum Serikat Tani Nasional, Yudi Budi Wibowo, langsung dari arena Dewan Nasional STN di Lampung. Dalam wawancara singkat via telpon, Yudi menilai tindakan TNI ini sudah diluar batas dan tidak bisa dibenarkan dalam segi apapun.

“Ini kan ada aspek perampasan tanah yang dipersoalkan petani. Selain itu, petani merasa terancam keselamatannya oleh latihan militer dan bahan-bahan peledak pasca latihan. Mestinya protes warga itu didengar dan dipertimbangkan, bukan menembaki petani secara membabi-buta,” katanya.

Penggunaan peluru tajam, menurut Yudi Wibowo, memperlihatkan watak TNI yang memang tidak melihat rakyat sebagai subjek dari negara yang harus dilindungi. Ia pun berharap agar Komnas HAM segera melakukan investigasi dan menyelidiki adanya dugaan pelanggaran HAM berat dalam kasus ini.

Alasan warga menolak daerahnya dijadikan tempat latihan militer

Menurut Salahudin, salah seorang warga, pihaknya menolak pelatihan militer di wilayahnya karena akan merampas tanah milik petani dan merusak areal pertanian. Selain itu, daerah bekas latihan militer itu meninggalkan banyak pecahan mortir, dan hal itu berbahaya bagi masyarakat sekitar.

Pada tahun 1997, misalnya, lima orang anak tewas akibat ledakan mortir yang secara tidak sengaja ditemukan oleh seorang anak di pinggir pantai. Lalu, pada tahun 1998, dua orang petani yang sedang bekerja mengalami cedera terkena pecahan mortir saat TNI AD melangsungkan latihan.

“Latihan militer juga membuat warga ketakutan, bahkan sebagian trauma,” kata Imam, salah seorang warga desa Setrojenar.

Dalam pernyataan sikap FPPKS tertanggal 11 maret 2011, penggunaan kawasan Urutsewu sebagai kawasan latihan perang telah membawa kerugian kepada warga.

Selain jatuhnya korban jiwa di pihak warga, pihak TNI bukan hanya menggunakan tanah negara tetapi juga sudah mulai menggunakan tanah ulayak milik petani.

Ketika TNI akan menggelar latihan perang, petani dan nelayan dilarang untuk melakukan aktivitas. Padahal, setiap kali latihan militer memakan waktu yang lama.

FPPKS juga mengelukan rusaknya sebagian tanaman milik petani karena aktivitas latihan perang. “pernah pula terjadi sebarisan kendaraan lapis baja, yang bergerak dalam deretan, melaju ke dua arah menggilas tanaman kedelai petani di selatan desa Setrojenar,” tulis FPPKS dalam pernyataan sikapnya.

Belakangan, petani juga mengetahui bahwa pihak TNI telah mempergunakan sebagian tanah itu untuk pertambangan besi. “Komisaris utama korporasi penambang pasir besi ini juga seorang yang berasal dari kesatuan tentara,” katanya.

Inilah sebagian alasan mengapa warga menolak daerahnya dijadikan kawasan latihan perang.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Efendi

    Bravo..Barvo..Bravo…..
    Ternyata TNI kita semakin hebat, sudah mampu menembak sasaran tanpa meleset…
    Tidak sia-sia kita membayar pajak untuk gaji para TNI….Tidak sia-sia kita bayar pajak untuk dibeli peluru…..
    Tidak sia-sia kita bayar pajak untuk membali senapan canggih…
    Tidak sia-sia kita membayar pajak untuk memberi nafkah TNI…
    Salahmu sendiri mengapa menjadi petani.????
    Siapa suruh kalian menjadi petani.????
    hwarrrggghhhhhhhhhhh…….

    HUTANG DARAH BAYAR DARAH….

  • menon

    dimana hati nuranimu membunuh rakyat yang hanya ingin tidak diganggu HAMnya,,heyyy Pemegang senjata mereka itu hanya mencari sesuap nasi untuk hidup mereka,, tidakah kau tahu bahwa gajimu itu hasil dari ayunan cangkul-cangkul mereka???
    dimana hati nuranimu ketika mereka hanya ingin u/ mencari arti keadilan hidup???
    apakah jawaban yang layak kau berikan itu adalah suara dari senjatamu???
    asal kau tahu,,!!! kau itu ada u/ melindungi mereka\ yang tertindas dan melindungi negaramu,, bukan sebagai pembunuh rakyatmu sendiri..!!!

    !!…TNI itu TEGAKAN HUKUM,, BUKAN KEPENTINGAN HUKUM…!!