Dewan Nasional Serikat Tani Nasional Dan Perjuangan Petani

Seratusan peserta Dewan Nasional Serikat Tani Nasional (STN) dari berbagai daerah, seperti Riau, Lampung, Jambi, Jawa Barat, NTT, dan NTB, telah tiba di Wisma Retret Tanjung Seneng, Bandar Lampung, tempat yang akan menjadi lokasi pelaksanaan DN STN tahun 2011.

Malamnya, sekitar pukul 20.00 WIB, panitia mengumpulkan seluruh peserta di Aula Wisma. Disitu diselenggarakan ramah-tamah dan perkenalan antar pengurus STN dari berbagai daerah. Roby Weldan, aktivis STN dari Lampung, menjadi fasilitator malam ramah-tamah ini.

Pengorganisiran Petani

Ketua Umum STN Yudi Budi Wibowo memberikan sambutan dan sekaligus memaparkan sejumlah persoalan yang dihadapi kaum tani. “Sebagian besar persoalan yang dihadapi petani masih soal konflik agraria,” kata Yudi dalam pidato singkatnya.

Seusai memberi kesempatan kepada Ketum STN untuk menyampaikan pidato, Roby Weldan, selaku fasilitator ramah tamah, mempersilahkan kepada perwakilan STN dari berbagai daerah untuk berbagai pengalaman dalam pengorganisasin perjuangan petani di daerah.

Perwakilan dari Serikat Tani Riau (STR), organisasi tani lokal yang bernaung di bawah STN, menyampaikan soal perjuangan petani Kepulauan Meranti melawan perusahaan kertas, PT. Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), yang berusaha menanam akasia di lahan gambut.

“Kita sedang berjuang keras untuk mempertahankan tanah kami. Kami sudah menggelar aksi berkali-kali, sudah membangun posko selama berpuluh-puluh hari, menggelar aksi stempel darah, tetapi pihak pemerintah tetap bergeming,” kata Muhamad Riduan, yang mewakili STR dalam DN STN ini.

Hal serupa juga diakui dirasakan oleh petani di Lampung Tengah. Pak Taifur, yang menjadi delegasi STN Lampung Tengah, juga melaporkan bagaimana perjuangan petani dan anggota STN di daerahnya melawan upaya perusahaan mencaplok tanah milik petani.

Dodi, wakil dari STN Jambi, juga mengungkapkan persoalan yang sama. Ia menjelaskan bagaimana petani jambi berhadapan dengan perusahaan perampas tanah. “Konflik agraria semakin meningkat seiring dengan sikap Pemda yang sangat terbuka terhadap investasi,” katanya.

Selain soal konflik agraria, Dodi juga menyoroti soal soal mahalnya harga pupuk, ketiadaan modal dan miniminya teknologi untuk membantu pengembangan pertanian. “Karena soal pupuk, modal, dan teknologi yang tidak memadai, maka petani pun mengeluarkan biaya produksi yang tinggi tetapi hasilnya sedikit,” katanya.

Berbeda dengan perjuangan kawan-kawan petani di Sumatera, perwakilan petani dari Nusa tenggara, yaitu NTB dan NTT, justru menjelaskan bagaimana mereka mengorganisir petani tanpa menumpang pada kasus-kasus agraria.

Moris, dari Komite Tani Ende, sebuah organisasi tani di bawah naungan STN, menceritakan pengalamannya mendorong pengorganisasi petani melalui program-program pembangunan desa.

Ia menceritakan bagaimana berusaha menyakinkan perangkat pemerintahan desa dan camat supaya mendukung pengembangan desa. “Melalui pembangunan desa dan ekonomi rakyat, mereka akhirnya percaya bahwa kita bisa mengubah keadaan,” kata Moris kepada peserta DN STN.

Pengalaman serupa juga diceritakan oleh M Ghozali, perwakilan petani dari Nusa Tenggara Barat. Menurutnya, selain mengorganisir petani tembakau yang banyak dirugikan oleh kebijakan neoliberal, pihaknya juga menggunakan sejumlah program di bidang pertanian untuk mengorganisasikan perjuangan petani.

DN akan merumuskan program perjuangan kedepan

Kepada para peserta Dewan Nasional, Yudi Wibowo menyampaikan harapannya agar forum ini bisa dimanfaatkan sebaik mungkin guna merumuskan strategi dan taktik perjuangan petani ke depan.

“Yang paling krusial kita harus temukan adalah taktik-taktik mengorganisir dan mengorganisasikan perjuangan petani ke depan,” katanya.

Pernyataan Yudi Wibowo diamini oleh Sekjendnya, Wiwid Widyanarko, yang menjelaskan bahwa DN harus merumuskan program perjuangan konkret yang mesti dilakukan organisasi ke depan.

“Ini forum tertinggi setelah Kongres, sehingga disinilah tempatnya kita merumuskan program-program jangka pendek untuk pembangunan organisasi ke depan,” katanya.

Forum Dewan Nasional ini direncanakan berlangsung selama dua hari, yaitu tanggal 18 dan 19 April 2011.

STN dan Perjuangan Politik

Salah satu point penting yang diangkat dalam pidato Ketum STN, tadi malam, adalah soal pentingnya gerakan petani terlibat lebih luas dalam perjuangan politk.

“Karena sebagian besar persoalan petani berakar pada kebijakan ekonomi-politik, maka persoalan itu hanya bisa diatas jikalau petani bisa mengubah kekuasaan dan kebijakan ekonomi-politiknya,” kata Yudi Wibowo.

Dalam perjuangan politik ini, menurut Yudi, STN telah menorehkan sejarah yang tidak sedikit, mulai dari menjadi inisiator pendirian partai politik hingga penggulingan rejim Soeharto.

STN terlibat dalam inisatif pendirian Partai Rakyat Demokratik (PRD), Partai Persatuan Oposisi Rakyat (POPOR), dan Partai Persatuan Pembebasan Nasional (Papernas). Dengan PRD, kata Yudi, STN punya kedekatan politik yang sangat erat, bahkan STN turut andil dalam pendirian PRD di tahun 1996.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut