Pembangunan Indonesia hari ini berjalan sangat cepat. Infrastruktur dibangun di berbagai daerah, investasi terus didorong, teknologi berkembang, dan pertumbuhan ekonomi dijaga agar tetap stabil. Namun di tengah kemajuan tersebut, kita juga menghadapi tantangan lain yang tidak kalah penting, yaitu menjaga karakter dan jati diri bangsa.
Kita menyadari bahwa tantangan Indonesia ke depan bukan hanya soal ekonomi, pangan, energi, atau geopolitik. Tantangan terbesar juga terletak pada kualitas manusia dan kekuatan moral bangsa. Di tengah derasnya arus globalisasi, perang informasi, budaya konsumtif, dan politik yang sering memecah belah, bangsa ini membutuhkan fondasi karakter yang kuat agar tidak kehilangan arah.
Banyak negara di dunia mampu bertahan menghadapi tekanan global karena memiliki karakter nasional dan keyakinan kebangsaan yang kokoh. Iran misalnya, tetap mampu berdiri di tengah embargo dan tekanan geopolitik selama bertahun-tahun karena memiliki daya tahan ideologis dan semangat nasionalisme yang kuat. Indonesia sesungguhnya juga memiliki modal besar untuk menjadi bangsa yang kuat dan berwibawa, yaitu kekayaan budaya, spiritualitas, dan nilai-nilai luhur Nusantara.
Warisan kebudayaan Nusantara sejak dahulu telah mengajarkan pentingnya keseimbangan antara manusia, Tuhan, alam, dan sesama. Dalam tradisi Jawa dikenal ajaran Manunggaling Kawulo Gusti, yang mengingatkan manusia agar tidak kehilangan hubungan dengan Tuhan dan nuraninya. Ada pula Memayu Hayuning Bawana, yaitu semangat menghadirkan kebaikan dan harmoni dalam kehidupan bersama. Sementara Ambrasta Dur Hangkara mengajarkan keberanian melawan sifat serakah dan angkara murka, serta Sura Dira Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti yang menegaskan bahwa kebijaksanaan dan ketenangan hati pada akhirnya lebih kuat daripada kekerasan dan kesombongan.
Nilai-nilai tersebut sejatinya hidup dalam seluruh agama di Indonesia. Dalam Islam dikenal akhlak dan penyucian hati. Dalam Katolik dan Kristen ada kasih serta pengorbanan. Dalam Hindu ada dharma dan keseimbangan hidup. Dalam Buddha ada welas asih dan pengendalian diri. Semua mengajarkan pentingnya membangun manusia yang bermoral, berintegritas, dan menghormati sesama.
Karena itu, penguatan karakter bangsa menjadi sangat penting dalam menjaga ketahanan nasional Indonesia. Negara yang rakyatnya kehilangan jati diri akan mudah dipecah oleh konflik, disusupi pengaruh asing, dan dilemahkan dari dalam. Sebaliknya, bangsa yang memiliki karakter kuat akan mampu menghadapi berbagai tekanan global dengan lebih percaya diri dan bermartabat.
Apa yang dahulu disampaikan Bung Karno melalui gagasan nation and character building menjadi semakin relevan saat ini. Bung Karno mengingatkan bahwa Indonesia harus menjadi bangsa yang berkepribadian dalam kebudayaan, berdikari dalam ekonomi, dan berdaulat dalam politik. Pembangunan tidak cukup hanya membangun fisik, tetapi juga harus membangun manusia Indonesia yang memiliki karakter, integritas, dan rasa cinta tanah air.
Karena itu, penguatan kembali nilai-nilai luhur Nusantara perlu menjadi bagian dari pembangunan nasional. Pendidikan tidak hanya mengejar kecerdasan akademik, tetapi juga pembentukan karakter. Agama harus menjadi sumber moral dan persatuan. Budaya harus menjadi fondasi kebangsaan dan ketahanan sosial.
Menghidupkan kembali thorikoh Nusantara bukan berarti kembali ke masa lalu atau menolak modernitas. Justru inilah upaya menjaga arah bangsa agar tetap memiliki identitas dan kekuatan moral di tengah dunia yang terus berubah. Sebab pada akhirnya, kekuatan Indonesia tidak hanya terletak pada sumber daya alam atau besarnya ekonomi, tetapi juga pada kualitas jiwa dan karakter manusianya.
Budi Prasetyo Hadi, Penulis merupakan Tenaga Ahli Menteri Sosial
Tulisan ini Merupakan Hasil Diskusi Singkat dengan Wakil Mentri Sosial RI, Agus Jabo Priyono.

