Kapitalisme Dikritik Di Sidang Umum PBB

Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Amerika Serikat, Jumat (25/9/2015), kembali ingar dengan riuh rendah kritik terhadap kapitalisme.

Sejumlah pemimpin negara, terutama yang berhaluan kiri di Amerika Latin, kembali melabrak sistim yang berusia sudah hampir 300 tahun itu. Mereka menilai, kapitalisme berkontribusi besar dalam melahirkan ketidakadilan global dan bencana kemanusiaan seperti perang dan krisis ekologi.

Seperti Presiden Bolivia, Evo Morales. Politisi berusia 55 tahun ini menyebut “perang sebagai bisnis yang paling menguntungkan bagi kapitalisme.” Hal tersebut, kata dia, tercermin dari belanja militer yang sangat luar biasa.

Karena itu, Presiden yang mantan petani coca ini mengajak pemimpin dunia untuk memangkas anggaran militer. Sebaliknya, ia mengajak para pemimpin dunia untuk bekerjasama dalam menyediakan lebih banyak kesempatan kepada penduduk yang kurang beruntung secara ekonomi.

Dalam pidatonya Evo Morales juga mengeritik sistim kapitalisme global. Menurut dia, sistim tersebut berkontribusi besar dalam melahirkan kemiskinan.

“Jika bisa menyingkirkan kapitalisme, maka kita juga akan berhasil menyingkirkan kemiskinan,” kata Presiden keturunan pribumi pertama dalam sejarah Bolivia itu.

Lebih lanjut, Evo menekankan arti penting kebijakan nasionalisasi sebagai strategi yang memberikan pemerintah kedaulatan ekonomi lebih besar atas kekayaan dan sumber daya alam.

Ini bukan kali pertama Evo mengeritik kapitalisme di Sidang Umum PBB. Tahun sebelumnya, dia juga melontarkan kritik yang sama pedasnya. Saat itu dia menyebut kapitalisme sebagai ideologi yang membuat rakyat melarat.

“Kami harus mengubah kapitalisme predator yang telah mengubah manusia dan bumi pertiwi menjadi barang dagangan,” katanya saat itu.

Kritik juga dilontarkan oleh Presiden Kuba, Raul Castro. Menurutnya, ketimpangan antara utara (negara-negara kaya) dan selatan (negara-negara miskin) makin melebar. Dia menuding negara-negara harus bertanggung jawab atas ketimpangan itu.

“Negara-negara industri harus mengakui utang sejarah mereka terhadap dunia…Kami butuh untuk menghapuskan monopoli terhadap teknologi,” tegas politisi berusia 84 tahun ini.

Kritikan juga datang dari Paus Fransiskus. Orang tertinggi gereja Katolik itu mengeritik lembaga keuangan internasional. Menurut dia, lembaga keuangan internasional seharusnya peduli terhadap pembangunan yang berkelanjutan di tiap negara.

“..dan memastikan mereka tidak menjadi korban dari sistim pinjaman yang menindas, yang jauh dari mempromosikan kemajuan, sebuah mekanisme yang hanya memperbesar kemiskinan, pengecualian (exclusion), dan ketergantungan,” ujar Paus Fransiskus.

Lebih lanjut, Paus juga menyoroti apa yang disebutnya “penyalahgunaan dan penghancuran lingkungan hidup”. Dia bilang, “pada dasarnya, egoisme serta haus kekuasaan dan kekayaan materi yang tak terbatas menyebabkan penyalahgunaan sumber daya alam yang tersedia serta meminggirkan kaum lemah dan kurang beruntung.”

Dia menegaskan, marjinalisasi ekonomi dan sosial merupakan penyangkalan total atas persaudaraan umat manusia serta merupakan pelanggaran berat terhadap HAM dan lingkungan hidup.

Paus menegaskan, agar setiap orang, laki-laki dan perempuan, bisa keluar dari kemiskinan, mereka harus dibiarkan menjadi agen yang bermartabat atas nasib mereka.

Pada saat yang bersamaan, kata Paus, pemerintah harus segala hal yang memungkinkan setiap orang bisa terpenuhi kebutuhan spirituil dan materilnya agar dapat hidup bermartabat.

“Bentuk praksisnya, tiga minimum absolut ini punya tiga nama: tanah, tempat tinggal, dan pekerjaan. Dan satu nama lagi: kebebasan spirituil, yang meliputi kebebasan beragama, hak atas pendidikan, dan hak sipil lainnya,” tegas Paus kelahiran Argentina ini.

Memang, terutama sejak diangkap sebagai Paus di bulan Maret 2013 lalu, Paus Fransiskus kerap melancarkan kritik terhadap kapitalisme. Dia menyebut kapitalisme sebagai ‘tirani baru’, yang melahirkan ketimpangan dan kemiskinan.

Dia juga kerap mengeritik mitos “trickle down effect”—yang sering dikhotbahkan oleh pendukung pasar bebas dan kebebasan kapital. Paus Fransiskus bilang, “janji bahwa ketika gelas penuh, lalu menetes, dan menguntungkan si miskin. Tetapi yang terjadi ketika gelas itu penuh, secara ajaib makin membesar, tidak pernah menetes untuk si miskin.”

Tak heran, Paus menjadi idola baru bagi para pemimpin kiri di Amerika Latin. Menteri Luar Negeri Venezuela, Delcy Rodriguez, menyebut Paus Fransiskus ‘mewakili suara rakyat, suara rakyat miskin.”

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut