Mengorganisir Rakyat, Ya, Harus Praktekkan ‘Tiga Sama’

Keterlibatan aktivis mahasiswa dalam proses advokasi rakyat selalu menghasilkan pelajaran berharga. Termasuk yang dialami oleh aktivis Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Nusa Tenggara Timur (NTT), yang sedang terlibat advokasi rakyat Kolhua untuk menolak pembangunan bendungan.

Memang, bagi aktivis LMND NTT, kegiatan semacam ini sudah berulangkali dilakukan. “Setiap ada persoalan yang dialami oleh rakyat, kami selalu berusaha untuk terlibat berjuang bersama mereka,” kata Ketua LMND NTT, Antonius  J. Afeanpah.

Bagi Antonius, membela rakyat yang tertindas merupakan kewajiban mahasiswa. Ia pun mengutip kata-kata Pramoedya Ananata Toer: “Kalau kemanusiaan tersinggung, semua orang yang berperasaan dan berfikiran waras ikut tersinggung, kecuali orang gila dan orang yang berjiwa kriminal, biarpun dia sarjana.”

Namun, dalam proses advokasi rakyat itu, LMND tidak mau disebut “makhluk asing”. Maksudnya, mahasiswa yang terjun ke rakyat itu tidak mengenal keadaan dan mereka tak ubahnya manusia asing di tengah rakyat itu.

Untuk itu, LMND menerapkan metode “tiga sama”, yang pernah dipraktekkan pula oleh gerakan kiri di masa lalu. “Tiga sama” itu adalah sama bekerja, sama makan, dan sama tidur.

Sama bekerja artinya si aktivis harus mengerjakan apa yang dikerjakan oleh petani tempatnya menginap. Sama makan berarti makan apa saja yang disediakan petani. Sedangkan sama tidur berarti tidur di tempat petani dan secara petani.

“Kami baru tiga hari ini intensif di sini. Kami sudah membangun posko perlawanan di rumah warga. Selain itu, untuk urusan nginap, kami nginap di rumah setengah jadi. Ya, dengan sebagian rakyat juga,” kata Ridwan Nugroho, Ketua LMND Kota Kupang.

Menurut Ridwan, sejauh ini, sambutan warga cukup besar. “Mereka sangat antusias untuk mengajak kami berdiskusi. Mereka juga punya komitmen kuat untuk berjuang. Itu yang membesarkan semangat kami,” ujarnya.

Dalam urusan makan, para aktivis bergotong-royong dengan warga. Makannya pun bareng-bareng. Dengan begitu, ikatan emosional mereka cukup kuat. “Dan itu sangat berguna untuk menguatkan persatuan dalam perjuangan,” tegasnya.

Tak hanya itu, para aktivis LMND ini juga terlibat langsung membantu pekerjaan rakyat. Seperti Jumat (17/5) siang, para aktivis LMND ikut bergotong-royong bekerja di sawah.

“Kami jadi tahu beratnya pekerjaan kaum tani. Tak hanya itu, kami bisa menimbah ilmu dari kaum tani. Bagi kami, mereka merupakan guru yang berpraktek,” kata Ridwan.

Di siang hari, di sela-sela waktu beristirahat, aktivis LMND mengajak warga untuk berdiskusi. Tak hanya soal penolakan bendungan, yang merupakan persoalan rakyat Kolhua, tetapi juga persoalan politik dan perlunya berorganisasi.

Hasilnya, petani pun sepakat untuk mendirikan organisasi. “Mereka sadar, bahwa dalam membela dan memperjuangkan hak-haknya kaum tani harus berorganisasi,” ungkap Ridwan.

Selain aktivis LMND, ada juga aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD), Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI), dan Kerukunan Mahasiswa Helong (Kemah) dalam proses pengadvokasian warga Kolhua ini.

Redian Sina, Koordinator Departemen Kajian dan Bacaan LMND kota Kupang

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut