Teresa Forcades, Biarawati Revolusioner Dari Catalunya

Sejak tahun 2008 lalu, Spanyol diguncang krisis ekonomi. Krisis itu dipicu oleh pilihan kebijakan ekonomi rezim berkuasa di Spanyol, yakni Partai Sosialis (PSOE), yang begitu memanjakan para bankir dan institusi keuangan.

Namun, tak kalah negeri itu nyaris ambruk karena ditimpuk utang, para politik justru memaksa rakyat untuk membayar krisis itu. Diberlakukanlah kebijakan yang disebut “penghematan”, yang memangkas upah, jaminan sosial, pensiun, dan hak-hak pekerja lainnya.

Rakyat pun marah. Mereka melakukan perlawanan yang hebat. Gerakan mereka kemudian disebut “Los Indignados”—kaum yang amarah. Alun-alun terbesar di kota Madrid, Puerta del Sol, tumpah ruah dengan rakyat yang marah terhadap kerakusan si kapitalis dan sistim politik yang sangat korup.

Dan, di tengah sorak-sorai perlawanan itu, muncul seorang biarawati yang berpikiran sangat revolusioner. Dia adalah Teresa Forcades. Dengan penutup kepala khas pengikut ordo Benediktin, Forcades muncul sebagai “penyambung lidah” umat tertindas di Spanyol. “Penghematan merampas hak rakyat banyak dan hanya menguntungkan segelintir orang,” katanya.

Forcades lahir di Barcelona tahun 1966. Tidak banyak tulisan mengenai riwayat hidupnya. Ia pernah belajar kedokteran di Universitas di Barcelona. Tahun 1992, Ia pindah ke Amerika Serikat untuk menggenapi ilmu kedokterannya di University of New York.

Lalu, berbekal beasiswa dari Harvard University, ia menimba ilmu di Universitas Cambridge. Ia berhasil menuntaskan studinya di program magister Divinitas. Tahun 2004, Ia meraih gelar Ph.D untuk program studi Kesehatan Masyarakat di Universitas Barcelona.

Di bidang kedokteran ini dia pernah membuat kejutan. Itu terjadi pada tahun 2009, saat flu babi mewabah di sejumlah negara. Dia menyingkap fakta, bahwa vaksin yang dikeluarkan oleh perusahaan farmasi belum teruji secara ilmiah untuk digunakan secara publik.

Saat ini, Ia bersama seorang ekonom progressif, Arcadi Oliveres, sedang menyusun sebuah Manifesto Politik. Dengan Manifesto itu, Ia hendak menunjukkan “jalan keluar” bagi rakyat Spanyol dari sistem kapitalisme yang tidak menghargai martabat manusia.

Dia adalah pengagum Syriza, partai kiri yang sedang naik daun di Yunani. Dan ia menjadikan pengalaman Syriza sebagi acuan manifestonya dan sekaligus contoh dari sebuah gerakan yang berhasil membangkitkan rakyat keluar dari krisis.

“Krisis ekonomi di Spanyol sudah sampai di suatu titik di mana ia mengancam tatanan masyarakat,” katanya. Manifesto politiknya menyerukan pendirian ulang Spanyol, dengan mengakui kemerdekaan Catalunya, nasionalisasi bank dan perusahaan energi, penjaminan hak-hak rakyat, tindakan keras untuk koruptor, serta keluar dari Fakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

Meski sudah terjun dalam gerakan politik, tetapi Forcades belum berminat membangun partai politik. “Saya tidak memulainya dengan partai politik dan tidak berniat ikut dalam pemilu. Ini bukan untuk Benediktin dan bukan untuk saya,” ujar Forcades kepada media Inggris, Guardian.

Manifestonya hanya disebar kepada publik. Meski begitu, dukungan publik sangat kuat. Seperti dicatat News Daily, hanya dalam dua hari, manifestonya ditandatangani 14 ribu orang.

Sebagai penyambung lidah umat yang tertindas, Forcades sering tampil di diskusi publik dan di TV lokal. Dalam setiap percakapan atau wawancara, ia mengambil acuan pada teologi pembebasan, teori nilai lebih Karl Marx, Hugo Chavez di Venezuela, dan pajak Tobin.

Forcades memang sangat dipengaruhi Teologi Pembebasan, yang menganjurkan pembelaan agama terhadap rakyat tertindas. Buku teologi pertama yang dibacanya adalah “Jesus Christ  Liberator: A Critical Christology for Our Time”, karya Leonardo Boff, seorang penulis dan teolog yang aktif membela hak kaum miskin dan terpinggirkan.

Pada tahun 2007, ia menulis buku tentang teologi feminis, yang sangat dipengaruhi oleh Teologi Pembebasan. Di dalam bukunya itu ia mengeritik pedas praktek misoginis yang kadang terjadi di dalam kehidupan gereja.

“Saya tidak ingin jika di dalam gereja, juga di dalam masyarakat kita, hak orang untuk mengakses pemerintahan atau posisi liturgi terhalang hanya karena jenis kelamin mereka,” katanya.

Pikiran-pikiran Forcades memang membuat marah kaum konservatif. Bayangkan, tak hanya akrab dengan Karl Marx dan ajaran-ajarannya, tetapi juga mendukung kesetaraan gender (termasuk di dalam gereja), penggunaan kontrasepsi, dan hak LGBT. “Gereja Katolik harus menghumaniskan posisinya terkait aborsi,” tegasnya.

Tahun 2009, Forcades mengunjungi Venezuela. Di sana, ia menyaksikan Venezuela yang benar-benar bertolak-belakang dengan apa yang digambarkan oleh media mainstream Spanyol. Ia kagum dengan demokrasi di Venezuela, yang mengangkat martabat kaum miskin dan mereka yang terpinggirkan.

Forcades menyebut Chavez sebagai “pemimpin yang telah melewati validasi paling demokratis.” Dengan tegas-tegasan ia menantang mereka yang menuding Chaves sebagai diktator. “Bagaimana anda bisa menyebut pemerintahan yang 15 kali disahkan oleh pemilu dan referendum sebagai diktator?” tanyanya.

Forcades sudah menulis tiga buku:  Els crims de les grans companyies farmacèutiques (Kejahatan Perusahaan Farmasi Besar), La Trinitat avui (Trinitas Hari Ini), and La teologia feminista en la història (Teologi Feminis dalam Sejarah).

Forcades adalah seorang anti-kapitalis. Dalam manifesto politiknya, ia menyerukan sebuah model ekonomi, politik, dan sosial yang menempatkan orang secara setara dan partisipatif. Ia juga menolak pemisahan antara kebebasan dan solidaritas sosial.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Dhani Kristanto Utomo

    apakah buku ciptaan beliau sudah ada dalam terjemahan bahasa? mohon info. terima kasih.