Mengintip Program Perumahan Chavez

Pekan lalu, karena terdorong oleh rasa “belas kasihan”, SBY menjanjikan perumahan murah bagi kaum miskin. Dengan program ini, SBY berharap tidak ada lagi rakyat Indonesia yang hidup di kolom jembatan.

Meski begitu, program ini belum tentu memudahkan orang miskin untuk mendapatkan rumah murah yang dijanjikan. Bayangkan, seorang pemulung harus mengangsur rumah harga Rp5-10 juta. Sementara bagi petani, nelayan, dan buruh berupah rendah, rumah murah seharga Rp20-25 juta tentu sesuatu yang berat.

Ini bisa disebut program setengah hati. Dengan 91% rakyat Indonesia berpendapatan kurang dari Rp2,5 juta, maka program perumahan murah versi SBY akan sulit dijangkau kantong rakyat banyak.

Ibarat bumi dan langit, begitulah saya membandingkan program perumahan SBY dan presiden Chavez di Venezuela. “Mari kita menganggap masalah perumahan sebagai misi kaum revolusioner, dan mengartikulasikan misi perumahan ini sebagaimana mestinya, dengan visi holistik, integral, dan terintegrasi,” kata Chavez saat melaunching misi perumahan (mission vivienda) pada tahun 2004.

Untuk mendanai program ini, Chavez mengambil dana dari keuntungan minyak, terutama melalui perusahaan PDVSA, perusahaan yang 80% keuntungannya dipergunakan untuk program sosial.

Sebetulnya, program ini sudah dimulai sejak tahun 2000-2001, tetapi terhenti sebentar pada tahun 2002 akibat pemogokan para oposisi. “Pada tahun 2004 kami mengulangi program ini.”

Chavez paham benar dengan apa yang pernah dikatakan filsuf Jerman, Heidegger, yang berkata: “masalah perumahan lebih tua dari masalah perang, dan masalah perumahan jauh lebih tua dari masalah ledakan penduduk.”

Jika SBY suka menggusur rumah rakyat dan mengusir dari tanahnya, maka Chavez suka meruntuhkan rumah kumuh karena takut roboh dan menggantinya dengan rumah baru. “Orang kaya sering merampas lahan rakyat dan menggantinya dengan pabrik. Sementara orang miskin tidak tahu harus pergi kemana,” kata Chavez.

Ia pun memindahkan orang-orang miskin yang tinggal di pemukiman berbahaya, yaitu daerah-daerah yang rawan longsor. “Saya memindahkan mereka dan membangunkan mereka rumah yang dicat biru, merah, kuning (bendera Venezuela),” ujarnya.

Selain program perumahan, Chavez juga membangun apartemen untuk rakyat miskin. Apartemen yang dibangun pun sangat unik, karena tanah yang biasa diperuntukkan untuk lahan parkir justru diubah menjadi lahan pertanian dan zona industri kecil untuk pengolahan kayu. “Semuanya itu dikelolah oleh komune. Inilah model perumahan ala sosialis,” tegasnya.

Seperti di Turmerito, sektor Caracas, perumahan yang dibangun dilengkapi dengan sekolah, juga transportasi, pelayanan kesehatan dan keamanan. Sebelum membangun rumah, petugas pemerintah melakukan penyelidikan faktor lingkungan di sekitar lokasi pembangunan.

Di tahun 2008, sebanyak 90 ribu rumah baru berhasil dibangun Venezuela, dengan perincian setengah dibangun pemerintah dan setengah lagi swasta.

Kemarin, 27 Februari 2011, Chavez merancang pembangunan 2 juta rumah baru hingga 2017. Program ini mendapat dukungan dari Belarusia, Tiongkok, Brazil, Kuba, Iran, Rusia, dan Turki.

“Kami akan menempatkan seluruh kekuatan politik, moral, dan ekonomi untuk proyek ini. Kami akan membangun rumah berkualitas tinggi, bukan rumah lapak yang disini dikenal sebagai solusi perumahan ala kapitalisme,” kata Chavez dalam siaran khusus Aló Presidente.

Untuk memaksimalkan programnya, Chaves akan menjalankan sensus nasional terlebih dahulu, yang dimaksudkan untuk mendata orang miskin atau orang-orang yang kehilangan rumah akibat bencana alam. Sebagaimana diketahui, akibat curah hujan tinggi pada november dan desember tahun lalu, ribuan rumah hancur di Venezuela.

Chavez juga menjanjikan akan menyelesaikan pembangunan 602 apartemen hingga April mendatang.

Begitulah sekilas sepak terjang Chavez dan revolusi Bolivarian mengatasi persoalan rumah rakyat. Semoga bermanfaat!

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut