Menghindari “Penyakit Belanda”

Menjadi penguasa minyak memang berkah, tapi juga bisa berakhir tragedi. Itulah yang dialami dua penguasa minyak dunia, Venezuela dan Arab Saudi.

Dua negara itu nyaris babak belur akibat jatuhnya harga minyak dunia. Maklum, minyak jadi jantung ekonomi kedua negara ini. Hampir 90 persen penerimaan Venezuela berasal dari minyak. Sedangkan Arab Saudi berkisar 70 persen.

Melihat fenomena itu, orang teringat dengan istilah ekonomi: penyakit Belanda (Dutch Disease). Istilah yang diperkenalkan oleh majalah The Economist tahun 1977 itu merujuk pada kenyataan pahit yang dialami ekonomi Belanda di tahun 1970-an.

Tahun 1959, cadangan gas terbesar di temukan di Belanda. Itu ladang gas terbesar di Eropa saat itu dan masuk 10 terbesar di dunia. Bayangkan, dalam sekejap, Belanda merangkak naik sebagai eksportir gas. Tentu saja, saat itu temuan gas dianggap sebagai berkah.

Rupanya, berkah gas membawa masalah serius. Ekspor gas menyebabkan arus masuk mata uang asing, yang menyebabkan permintaan atas Gulden meningkat. Alhasil, Gulden menguat atas mata uang asing lainnya. Situasi itu membuat ekspor non-gas Belanda, terutama manufaktur, tidak kompetitif. Akibatnya, sektor manufaktur Belanda rontok satu per satu.

Masalah lainnya, sektor gas itu padat modal, penyerapan tenaga kerjanya kecil. Jadi, booming gas tidak menyerap begitu banyak tenaga kerja.

Jadi sederhananya, penyakit Belanda itu adalah ketika sebuah Negara menggantungkan ekonominya di sektor tertentu, tetapi kemudian meninggalkan atau mengabaikan yang lain.

Itu juga yang dialami Venezuela. Sejak 1920-an, Negara ini menikmati berkah minyak. Seiring dengan itu, sektor pertaniannya pelan-pelan merosot, sedang industrinya tidak terbangun.
Berkah minyak membuat orang-orang berebut ke kota. Ini yang menyebabkan Venezuela menjadi negara paling urban di dunia: hampir 90 persen penduduknya tinggal di kota.

Ini membawa masalah. Sektor pertanian ditinggalkan. Sektor industri juga tidak terbangun. Akibatnya, hampir semua kebutuhan pangan dan barang-barang kebutuhan pokok diimpor dari luar.

Waktu Hugo Chavez berkuasa di 1999-2013, dia menyadari hal itu. Karena itu, dia mendorong diversifikasi ekonomi. Pertanian dibenahi kembali melalui reforma agraria. Sektor industri juga mulai dibenahi. Tetapi memang butuh waktu lama.

Dan pembenahan itu belum usai, harga minyak dunia terjun bebas. Situasi ini benar-benar memukul ekonomi Venezuela.

Saya kira, nasib Saudi Arabia tidak berbeda jauh. Awalnya, Saudi tidak menyangka gejolak harga minyak akan memukul ekonominya. Faktanya, sekarang ekonomi mereka terpukul. Dan sekarang Saudi juga bicara diversifikasi ekonomi.

Bagaimana Indonesia?

Kita tahu, Indonesia juga sangat bergantung pada eksploitasi SDA dan ekspor bahan mentah. Data menunjukkan, sampai saat ini enam dari sepuluh komoditas dengan nilai ekspor terbesar bertumpu dari SDA, seperti bahan bakar mineral, bijih besi, karet, kayu, dan lain sebagainya (BPS, 2013).

Begitu harga komoditas dunia anjlok, setelah periode booming satu dekade (2000-2010), kinerja ekspor Indonesia ikut terpukul berat. Ini berdampak pada defisit neraca perdagangan berulangkali. Juli 2018 lalu, defisit neraca perdagangan diprediksi antara 1 milyar USD hingga 1,3 milyar USD.

Defisit neraca perdagangan menyingkap dua fakta sekaligus: pertama, menurunnya kinerja ekspor Indonesia yang sangat bergantung pada ekspor komoditas atau bahan mentah. Kedua, ketergantungan industri dalam negeri terhadap bahan baku dan bahan penolong dari luar. Sebanyak 64 persen industri dalam negeri masih bergantung pada impor bahan baku, penolong dan bahan modal untuk menunjang produksinya.

Di sisi lain, gejala deindustrialiasi mengintai. Kontribusi industri pengolahan non-migas terhadap PDB pelan-pelan menurun, dari 28,34 persen pada 2004 menjadi 21,01 persen pada 2014, 20,99 persen (2015), 20,51 persen (2016), dan 20,16 persen (2017).

Pertanian juga pelan-pelan menurun. Bukan karena peralihan ke industrialisasi, melainkan fenomena deagrarianisasi: mati suri sebelum menemukan jalan industrialisasi. Seiring dengan itu, pangsa pasar pertanian terhadap PDB semakin berkurang. Di tahun 1990 angkanya masih 22,09 persen, tetapi di tahun 2017 tinggal sekitar 13 persen. Sementara serapan tenaga kerjanya juga turun dari 55,3 persen menjadi 31,9 persen.

Mungkin situasi ekonomi Indonesia agak lebih baik dibanding Arab Saudi dan Venezuela, karena kita tidak bergantung hanya pada satu sektor seperti negara tersebut. Namun, ketergantungan terhadap ekspor bahan mentah adalah jenis sindrom “penyakit Belanda” yang lain.

Tahun 1930-an, Bung Hatta sudah memperingatkan bahaya ketergantungan terhadap model “export economy” itu. “..betapa kelemahan perekonomian Indonesia di masa yang lalu, yang didasarkan pada export economy, dimana gula menjadi tiangnya. Kedudukan gula Indonesia bukan tidak dapat diusik, melainkan mudah kena tikam,” tulis Bung Hatta.

Karena itu, agar tidak terjangkiti sindrom penyakit Belanda, ada baiknya Indonesia mulai memikirkan strategi “hilirisasi industri” hasil sumber daya alam, terutama hasil tambang, perkebunan dan pertanian, secara serius.

Kita juga seharusnya sudah punya peta jalan industrialisasi nasional yang jelas, terukur, yang mengikat semua sektor dan bidang ekonomi.

Rudi Hartono, pemimpin redaksi berdikarionine.com

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut