Mengembalikan Kejayaan Maritim

Nenek moyangku orang pelaut
Gemar mengarung luas samudera
Menerjang ombak tiada takut
Menempuh badai sudah biasa

Angin bertiup layar terkembang
Ombak berdebur di tepi pantai
Pemuda berani bangkit sekarang
Ke laut kita beramai-ramai

Sengaja kami kutipkan lengkap lagu Mari Beramai-Ramai ke Laut karya Ibu Sud tahun 1940 pada Hari Maritim Nasional yang jatuh pada tanggal 21 Agustus ini agar kita kembali menengok kehidupan maritim bangsa Indonesia dengan serius.

Lagu itu jelas menggambarkan bahwa kita pernah dikenal dan besar sebagai bangsa maritim. Di samping rakyat Nusantara yang dikenal sudah memiliki dan mengenal arah mata angin dengan baik untuk mendukung berbagai pelayaran, kita juga mengenal dua kerajaan Nusantara yang tangguh dalam kehidupan maritim yaitu Sriwijaya dan Majapahit. Tidak salah memang kalau kita mengklaim sebagai keturunan para pelaut yang tangguh di lautan samudra luas terlebih bila kita lihat topografi tanah air kita yang lebih luas lautan dari pada daratan dan bagaimana lautan mengelilingi dan seakan melindungi pulau-pulau kita sekaligus saling menghubungkan pulau yang satu dengan yang lainnya.

Jalesveva Jayamahe, di laut kita jaya begitulah slogan angkatan laut Republik Indonesia. Sayangnya, slogan ini untuk saat-saat ini seperti terdengar sebagai pepesan kosong saja. Kita seperti tidak berdaulat di lautan atau tidak sanggup menjaga kedaulatan di laut kita sendiri. Tidak bisa ditutupi bagaimana kapal-kapal asing leluasa melakukan pencurian ikan di lautan kita sementara nelayan-nelayan kita justru semakin kesulitan. Kasus digiring paksanya petugas jaga kelautan Indonesia oleh polisi Malaysia ke Johor beberapa hari yang lalu juga menunjukkan betapa semakin tak berdayanya kita di lautan.

Jelas sudah: kita semakin surut sebagai bangsa maritim yang pernah dibanggakan itu dan susah pasang tampaknya. 65 tahun merdeka tampak tak mengalami kemajuan di lautan. Justru kita abai dengan segala yang berkaitan dengan kehidupan laut dan kekayaannya. Dengan semakin miskin dan susahnya kehidupan nelayan, berarti juga tak bisa memaksimalkan kekayaan laut untuk kemakmuran rakyat. Justru berbagai nestapa dari laut sering sampai di daratan. Misalnya: berbagai kecelakaan dan tenggelamnya kapal penumpang di lautan kita sendiri tanpa pertolongan yang berarti. Ini menunjukkan bahwa setelah 65 tahun merdeka bangsa Indonesia belum juga bisa menaklukkan lautan.

Kesimpulannya jelas: sampai sekarang tak ada perhatian yang serius terhadap pengembangan maritim Indonesia. Bukti nyata adalah tidak ada perayaan yang berarti pada hari maritim nasional untuk sekadar membangkitkan atau menginspirasikan kejayaan maritim Nusantara. Justru berita-berita ekspedisi Spirit Majapahit 2010 yang mogok karena upah belum dibayarkan padahal seharusnya bisa untuk membangkitkan kejayaan maritim begitu mengecewakan. Ini pun menunjukkan tak ada dukunganyang serius dari pemerintah.

Apa yang bisa kita kerjakan dengan semakin terpuruknya kehidupan maritim Nusantara ini? Mau tak mau kita harus kembali fokus memperbarui teknologi kelautan kita terutama di bidang perkapalan beserta pelabuhan-pelabuhannya dan daya dukungnya seperti pendidikan serta sekaligus mendorong dan mengembangkan industri kelautan untuk mengolah berbagai kekayaan laut.

“Indonesia tidak akan menjadi bangsa yang kuat kalau rakyatnya tidak kawin dengan laut. Apabila Bangsa Indonesia mempunyai jiwa samudra, jiwa pelaut, maka Indonesia akan menjadi Bangsa Besar,” kata Bung Karno pada Hari Maritim tahun 1963.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut