Menelusuri Wacana “Uni Eropa Serikat”

Eropa sedang jatuh dalam krisis hebat. Begitu hebatnya krisis itu, sampai-sampai bos IMF yang baru, Christine Lagarde, memperingatkan bahwa krisis utang Eropa berpotensi membawa ekonomi dunia dalam “dekade yang hilang”.

Belum nampak tanda-tanda kapan krisis ini mereda. Bahkan, krisis utang ini sudah menjalar ke krisis politik. Dua Perdana Menteri di Eropa terguling hanya dalam seminggu: Perdana Menteri Yunani  George Papandreou dan Perdana Menteri Italia Silvio Berlusconi.

Di luar perdebatan soal ekonomi, sebuah gagasan lama muncul kembali: Uni Eropa Serikat atau United Statef of Europe. Gagasan ini paling lantang disuarakan oleh bekas kanselir Jemarn, Gerhard Schröder. Gagasan ini digadang-gadang akan menjadi solusi permanen atas krisis dan kemandekan Eropa saat ini.

Menurut bekas pimpinan Partai Sosial Demokrat Jerman ini, hanya dengan visi baru memperluas eropa-lah yang dapat memberi pilar kunci untuk menciptakan stabilitas dalam beberapa dekade mendatang.

Sebagai tahap awal, Schröder menjadikan negara-negara Eurozone (17 negara uni-eropa yang mengadopsi mata uang euro) sebagai core awal untuk melakukan integrasi. Maklum, negara seperti Inggris masih skeptis dengan integrasi.

Nantinya, setelah Eropa dipersatukan dalam satu negara, ia akan membangun aliansi strategis dengan AS dalam “Aliansi Trans-atlantik”. Dengan begitu, Eropa dan AS bisa kembali memegang kendali dunia, yang beberapa tahun terakhir mengarah pada dunia multi-polar.

Tetapi ini benar-benar gagasan usang. Ide ini pernah digulirkan oleh seorang sosialis Perancis, Aristide Briand, yang juga kawan akrab Jean Jaurés. Pada tahun 1929, Ia mencetuskan ide “Federasi Serikat Eropa”.

Pemimpin terkemuka Bolsevhik, V.I Lenin, juga pernah menyinggung slogan Uni Eropa Serikat ini. Lenin berbicara soal itu pada tahun 1915—jauh lebih dulu dari Aristide Briand. Artinya, jauh sebelum Briand, ide Uni Eropa Serikat ini sudah populer di kalangan sosialis-demokrat di Eropa Barat.

Lenin menyatakan ketidaksetujuan dengan slogan kaum sosialis eropa itu. Secara politik, kata Lenin, sebelum berbicara jauh soal Uni Eropa Serikat, lebih baik berbicara penggulingan tiga monarki paling reaksioner di Eropa: Jerman, Austria, dan Rusia.

Selain itu, kata Lenin, harus ditinjau pula konsekuensi ekonomi dari slogan itu. Dalam situasi ekonomi yang bercorak imperialisme di Eropa, penyatuan negara Uni Eropa Serikat adalah sepenuhnya tidak masuk akal dan reaksioner.

Lenin menyimpulkan: “Sebuah Uni Eropa Serikat di bawah kapitalisme adalah sama saja dengan menyetujui kesepatan pembagian koloni.” Maklum, sebagian besar negara eropa saat itu sudah bertindak sebagai kolonialis di Asia, Afrika, dan Amerika latin.

Tetapi ide ini muncul kembali pada tahun 1946, ketika Eropa saja baru saja menyudahi perang ganas dalam sejarah umat manusia. Seruan itu kali ini disampaikan oleh pemimpin Inggris yang liberal, Winston Churchill. Maklum, Eropa saat itu baru saja hampir tenggelam akibat amukan nasionalisme chauvinis dan fasisme.

Mohammad Hatta, Wakil Presiden RI yang pertama, juga pernah membuat ulasan menarik soal ide Uni Eropa Serikat ini. Dalam risalah berjudul “Eropa Serikat, Dapatkah Tercapai?”, Mohammad Hatta berusaha membantah gagasan ideal Aristide Briand.

Aristide Briand, dalam uraian Bung Hatta, punya niat baik untuk menciptakan perdamian antar bangsa-bangsa Eropa. Nah, untuk tujuan perdamaian itu, maka pertentangan dan persaingan antar bangsa harus dihapuskan. Caranya: menggabungkan seluruh negara dan bangsa ke dalam satu negara.

Menurut Bung Hatta, pertentangan antar bangsa dipicu oleh dua hal: pertentangan politik dan pertentangan ekonomi. Bagi Aristide Briand, kata Hatta, dengan menghilangkan pertentangan ekonomi, maka pertentangan politik pun akan menghilang.

Bung Hatta meragukan pendapat itu. Ia menganggap negara-negara Eropa kala itu sudah kekeuh dengan politik “proteksi ekonomi”. Politik proteksi sendiri merupakan senjata kapitalis nasional masing-masing negara untuk melindungi kepentingannya. Karena tingkat ekonomi masih-masing negara Eropa kala itu tidak merata.

Secara politik pun Uni Eropa Serikat juga sulit terwujud. Berbeda dengan sejarah Amerika Serikat, kata Bung Hatta, eropa sejak lama sudah terbagi menjadi banyak negara dan penduduknya pun terbagi dalam berbagai suku-bangsa.

“Amerika satu terhadap eropa. Akan tetapi, eropa akan terbagi-bagi terhadap Amerika Serikat,” kata Bung Hatta. Bung Hatta pun menganggap kejatuhan Eropa sebagai bentuk kutukan terhadap praktek imperialisme yang  mereka jalankan.

Dalam situasi sekarang ini, ide Uni Eropa Serikat tidak lebih upaya “penyelamatan imperium”. Sebab, jika mereka terpecah-belah dan saling bersaing dengan kepentingan nasionalnya, maka Uni Eropa akan semakin merosot dan peran kolonialnya akan melemah.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut