Memajukan Literasi = Memajukan Ekonomi Kreatif

Basis dari Ekonomi Kreatif adalah pengetahuan. Dengan pengetahuan yang mendasar, mendalam dan luas, sesuatu yang oleh masyarakat umum dianggap tidak bernilai ekonomis bisa menjadi bernilai sangat ekonomis. Inilah yang disebut kreasi, penciptaan.

Penciptaan pun akan terus diperkaya dengan pengetahuan. Benarlah apa yang dikatakan seorang filsuf bahwa manusia adalah homo studens, manusia yang selalu belajar. Tanpa belajar, penciptaan menjadi stagnan, mandeg dan tak berkembang. Tak ada inovasi. Sementara ekonomi kreatif, mensyaratkan adanya penemuan baru, penciptaan yang terus diperbaharui agar selalu bisa mengikuti perkembangan dunia. Hal-hal seperti ini atau yang mendukung tumbuhnya jiwa kreatif terpaksa harus juga bekerja sama dengan kegiatan penelitian, ilmu pengetahuan, tekhnologi, bahkan filsafat dan seni.

Keberhasilan Ekonomi Kreatif diri ataupun negara sangat erat berhubungan dengan pengetahuan  akan diri sendiri. Karena itu betapa penting mengenali potensi diri sendiri. Socrates berkata: “Gnothi seauton; Kenalilah dirimu sendiri”. Kalau kita tidak mengenal diri-sendiri, kita akan sulit melangkah dan kalau pun melangkah dengan menggunakan jalan orang lain, justru akan banyak kesulitan yang timbul karena belum tentu cocok. Sejarah memberikan jalan untuk mengenali diri sendiri, misalnya, bagaimana sebuah kota atau bangsa dapat bertahan mengarungi jaman dengan merdeka tanpa harus tunduk menjadi budak bangsa lain. Di sana, tentu terdapat sejarah pangan, pengetahuan atau kebijaksanaan atas ekonomi pangan dan lain-lain yang menjadikan tetap survive. Karena itu sudah benar para bapak dan ibu pendiri Republik kita “mensyaratkan” Mencerdaskan Kehidupan Bangsa sebagai tangga menuju Masyarakat Adil dan Makmur atau Memajukan Kesejahteraan umum. Bangsa yang berpengetahuan dan cerdas tidak akan kekurangan gagasan dan kerja untuk memajukan kesejahteraan umum lahir dan batin. Di sinilah kita memandang Kebudayaan sebagai kekuatan bukan sekadar sebagai alat penghiburan yang eskapis.

Kebudayaan sebagai kekuatan meyakinkan diri bahwa diri sendiri mampu dan bisa semakin memampukan diri untuk mencapai batas maksimal tanpa perasaan minder, merasa tidak bisa ataupun rasa malu yang menghambat kemajuan. Ini semua bisa diatasi dengan majunya pengetahuan. Kemajuan pengetahuan pun bisa didorong sampai batas maksimal dengan adanya gotong-royong. Karena itu menjadi penting untuk membangun kerja sama nasional dalam kerangka membangun ekonomi kreatif agar saling menumbuhkan rasa bangga, memperdalam pengetahuan dan saling mengisi dalam kreatifitas untuk menumbuhkan gagasan baru dalam berekonomi; yang dalam arti lain juga bisa saling menyempurnakan.

Kita bisa menemukan berbagai jenis kripik bahkan dalam hal yang spesifik: Singkong, misalnya, di seluruh tanah air Indonesia.  Kita punya banyak potensi dan kesempatan  untuk membuat rakyat makmur dengan mengembangkan ekonomi kreatif secara nasional sebab hampir semua bahan tersedia secara nasional. Pasar nasional sudah jelas sangat menjanjikan dengan jumlah penduduknya yang besar. Tantangan yang utama dalam memajukan ekonomi kreatif nasional jelas perasaan rendah diri yang tidak pada tempatnya atau menganggap bahwa sumbangan daerah lain tidak penting bagi pembangunan ekonomi kreatif nasional sementara sejak dahulu, Nusantara sudah terhubung dan terintegrasi dalam kerja sama ekonomi perdagangan dan mampu secara kreatif menghasilkan bahasa lingua-franca untuk memperlancar perdagangan, yang menjadi cikal- bakal bahasa persatuan Indonesia yaitu Bahasa Indonesia.

Dengan demikian, sebenarnya jalur-jalur produksi gagasan dan jalur-jalur ekonomi (kreatif) Nusantara, pun dengan dunia di luarnya seperti Tiongkok dan India, sudah tersedia sejak dahulu. Misalnya dalam hal obat-obatan, kita mengenal cengkih, pala, jahe, mengkudu, daun sirih, kelor dan masih banyak lagi yang hanya mungkin terjadi karena begitu eratnya pertemuan antar penghuni Nusantara. Di sana tak ada rasa saling curiga tetapi saling percaya dan saling menghargai serta dilandasi oleh kebijaksanaan. Lihatlah apa yang kurang dari tanah air yang kaya terlebih bila bersatu; bahkan sampai kejatuhan Majapahit tahun 1478, kata “keadilan” tidaklah akrab di telinga Nusantara. Nusantara hanya memerlukan kebijaksanaan. Gagasan “keadilan” semakin menguat ketika Nusantara berada di bawah cengkraman kolonialisme.

Jadi, kita tidak perlu ragu bahwa basis ekonomi kreatif adalah pengetahuan. Pengetahuanlah yang akan menjadi daya inovasi yang tak mati-mati dan pengetahuanlah yang akan memberikan petunjuk dari mana sebua kota akan membangun blue print ekonomi kreatifnya. Memang sudah tidak selayaknya lagi kita hanya mengaduk-aduk alam untuk makan tetapi tidak maksimal dalam mengaduk-aduk otak untuk menumbuhkan sumber-sumber ekonomi baru.

Langkah utama dalam memberi dasar pembangunan ekonomi kreatif baik tingkat kota maupun nasional tentu saja adalah penguatan literasi. Literasi tidak dimaknai sempit sebagai gerakan membaca, perpustakaan dan penerbitan tetapi usaha untuk mendalami agar mengerti (melek) potensi ekonomi kota atau mengerti jantung ekonomi yang menggerakkan kota masing-masing (baik di masa dahulu, sekarang maupun mendatang) sehingga secara nasional pun akan tampak dan terlihat jaringan ekonomi secara nasional bahkan internasional.

Bahan pangan yang ada dan tumbuh di setiap kota dan kabupaten, bisa menjadi basis kuliner yang mendunia kalau juga didukung oleh kegiatan literasi seperti penerbitan entah melalui media informasi dan seni seperti sastra, film, musik dan seni petunjukkan lainnya. Dengan begitu terjadi kerja sama antar subsektor kreatif untuk bisa saling menguatkan, memajukan dan menghasilkan penemuan-penemuan baru.

AJ Susmana, Wakil Ketua Umum Komite Pimpinan Pusat Partai Rakyat Demokratik (KPP-PRD)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut