Chavez Dan Palestina

Chavez-Palestine.jpg

Setiap Israel melancarkan agresi militer terhadap Palestina, seperti sekarang ini, saya selalu mengingat Hugo Chavez. Dia adalah salah satu dari sedikit pemimpin dunia yang terang-terangan membela hak hidup bangsa Palestina dan mengutuk kolonialisme Israel.

Tahun 2006, Israel melancarkan agresi militer ke Lebanon. Ribuan warga sipil Lebanon, termasuk perempuan dan anak-anak, menjadi korban. Belum lagi, hampir sejuta warga Lebanon terusir dari rumahnya akibat agresi tersebut. Sayang, dunia internasional seakan tutup mata dengan kejahatan tersebut.

Tetapi Chaves tidak demikian. Saat itu juga, sebagai bentuk protesnya atas agresi brutal tersebut, Chavez langsung menarik perwakilan diplomatiknya dari Israel. Ia menyebut agresi Israel ke Lebanon sebagai sebuah “genosida”.

Ia juga menyamakan aksi brutal Israel itu dengan perilaku fasistik Hitler. “Israel sering mengeritik Hitler…tetapi mereka juga melakukan hal yang sama. Bahkan lebih buruk lagi,” kata Chavez.

Dialah kepala negara pertama yang mengambil tindakan terhadap Israel saat itu. Bahkan, Chaves bersuara lebih keras mendahului para pemimpin dari negeri-negeri Arab.

Saat itu, Chavez tak hanya memutus hubungan diplomatik dengan Israel, tetapi juga mengirimkan pesawat Boeing 707 yang mengangkut 20.000 ton bantuan kemanusiaan, seperti makanan, air minum, dan obat-obatan. Tak hanya itu, Venezuela juga mengirim dokter dan paramedis ke Lebanon.

Lantaran sikap beraninya itu, Chavez dielu-elukan sebagai pahlawan oleh rakyat Lebanon dan sekitarnya. Sekretaris Jenderal Hizbullah, Sayyid Hassan Nasrallah, sangat mengapresiasi rasa kemanusiaan Chavez dan rakyat Venezuela. Malahan, Nasrallah meminta pemimpin negara-negara Arab belajar dari Chavez.

Chavez juga mengutuk sekutu utama Israel, Amerika Serikat (AS). Menurutnya, AS harus bertanggung-jawab atas perang di Irak, Lebanon, dan Palestina. Di Sidang Umum PBB, pada September 2006, Chaves menyebut Presiden AS saat itu, George W Bush, sebagai “setan”.

“Setan itu datang ke sini kemarin,” kata Chavez menunjuk mimbar yang sehari sebelumnya dipergunakan oleh Bush untuk pidato. “ Dan bau belerangnya masih tercium hingga hari ini.”

Chavez menolak kebiasaan Bush mencap negara atau kelompok yang melawan kebijakan negerinya sebagai “ekstremis”. Bagi Chavez, mereka yang dicap ‘ekstremis’ oleh Bush adalah mereka yang menolak dominasi imperialisme.

“Kau bisa memanggil kami ekstremis, tapi akan bangkit melawan imperialisme, melawan sebuah model dominasi,” kata Chavez.

Kemudian, di penghujung 2008 dan awal 2009, Israel kembali melancarkan agresi militer. Kali ini mereka menyerang Jalur Gaza, Palestina. Serangan yang berlangsung 22 hari itu menyebabkan 1400 orang rakyat Palestina tewas. Tidak sedikit diantaranya adalah perempuan dan anak-anak.

Chavez kembali naik pitam. Ia menyebut agresi Israel itu sebagai sebuah “holokaus”. “Holokaus, itulah yang terjadi di Gaza sekarang,” kata Chavez melalui siaran Televisi. Kecaman Chavez itu muncul hanya sesaat setelah Israel memborbardir sebuah sekolah PBB di jalur Gaza dan menewaskan 40 orang Palestina. Tak hanya itu, Chavez kembali mengusir duta besar Israel dari negerinya.

Kemudian, pada November 2012, Israel kembali menggempur Jalur Gaza. Chavez menyebut serangan israel itu sebagai tindakan ‘biadab’. “Agresi baru terhadap jalur Gaza kembali dimulai. Biadab. Biadab. Israel memborbardir jalur gaza lagi,” kata Chavez.

Menurut Chavez, serangan Israel itu dilakukan karena Presiden Palestina Mahmoud Abbas sedang memperjuangkan agar Palestina diterima sebagai anggota penuh PBB.

Venezuela sendiri mendukung kemerdekaan Palestina. Negeri sosialis itu juga mendukung keanggotaan penuh Palestina di PBB. Malahan, pada tahun 2011, Chavez menulis surat kepada Sekjend PBB saat itu, Ban Ki-moon, terkait hak bangsa Palestina untuk merdeka dan menjadi anggota PBB.

Tindakan Chavez itu menuai pujian dari rakyat Palestina dan sekitarnya. Poster bergambar Chavez hadir di tengah-tengah aksi massa rakyat Palestina.

Di Ramallah dan Gaza, selain poster bergambar Yasser Arafat dan Che Guevara, poster Chavez juga mulai banyak menempel di tembok dan dinding toko.

Di kota Al-Bireh, dekat Ramallah di Tepi Barat, Palestina, nama Chavez menjadi nama jalan utama di kota itu. Walikota El-Bireh,  Fawzi Abed, mengatakan, keputusan mereka itu merupakan bentuk penghargaan terhadap Chavez atas kontribusinya dalam memperjuangkan rakyat tertindas, termasuk Palestina.

Mohammed al-Lahham, anggota parlemen Palestina dari partai Fatah, mengatakan, “Dia (Chavez) adalah simbol perjuangan untuk kemerdekaan seperti Che Guevara.” Hal itulah, kata dia, yang membedakan Chavez dengan pemimpin dunia lainnya.

Mahmoud Zwahreh, walikota di Al-Mazar, sebuah pemukiman di dekat Betlehem, berniat memberikan paspor kepada Chavez agar bisa menjadi warga Palestina. “Aku ingin memberi Chavez sebuah paspor Palestina agar dia bisa menjadi warga Palestina. Setelah itu, kami akan memilihnya dan dia akan menjadi Presiden kami,” kata Zwahreh.

Di Bireh, sebuah kota di Lebanon, nama dan poster Chavez juga berkibar-kibar. Juga spanduk dan mural bertuliskan “Bangsa ini butuh orang seperti Chavez” dan “Chavez mengusir dubes Israel, kapan anda melakukannya, penguasa Arab?” bertebaran di kota itu.

Dukungan Chavez terhadap perjuangan rakyat Palestina memang luar biasa. Jauh sebelum Chavez berkuasa, Venezuela dan Israel punya hubungan yang rapat. Di tahun 1970-an hingga 1980-an, Israel membina hubungan kerja sama yang baik dengan rezim sayap kanan di Amerika Latin, seperti Argentina, Bolivia, Brazil, Kolombia, Kosta Rika, Republik Dominika, Ekuador, El Salvador, Guatemala, Haiti, Honduras, Nikaragua, Panama, Paraguay, Peru, dan Venezuela. Israel juga aktif mendukung kelompok kontra-revolusioner di Amerika Latin, baik dengan senjata maupun pelatihan militer, untuk memerangi pemerintahan kiri. Hanya Kuba, satu-satunya negara Amerika Latin, yang tidak punya hubungan diplomatik dengan Israel sejak tahun 1973.

Tapi hal itu mulai bergeser setelah Chavez dan pemerintahan kiri berhasil merebut kekuasaan di Amerika Latin. Chavez melakukan banting stir: ia meninggalkan kerjasama dengan Israel dan berpindah memihak perjuangan rakyat Palestina. Tindakan itu diikuti oleh pemerintahan kiri yang lain, seperti Bolivia, Brazil, Ekuador, Nikaragua, dan lain-lain.

Pada tahun 2009, Chavez merupakan Presiden Amerika Latin pertama yang mengakui eksistensi Negara Palestina. Dan, setelah status Palestine terangkat sebagai negara pemantau non-anggota di PBB, Venezuela langsung menggencarkan kerjasama dengan Palestina di bidang pendidikan, kesehatan, budaya, pariwisata, dan lain-lain.

Sejak tahun 2010 lalu, Sekolah Kedokteran Amerika Latin (ELAM) Dr Salvador Allende di negara bagian Miranda, Venezuela, membuka pintu seluas-luasnya bagi pemuda Palestina untuk belajar ilmu kedokteran. Sedikitnya 50-an pemuda Palestina belajar di Universitas tersebut tanpa dipungut biaya sepeserpun. Tak hanya itu, Venezuela juga merupakan negara pertama di dunia yang menghapus visa masuk bagi warga Palestina.

Kemudian, pada Agustus 2013, Venezuela juga mengirimkan minyak murah untuk Palestina. “Negara Palestina menderita blokade selama beberapa dekade, sebuah pengepungan permanen yang membuat akses bebas terhadap sumber energi, makanan dan transportasi menjadi tidak mungkin. Karena itu, kesepakatan ini sangat penting bagi rakyat Palestina,” kata Menteri Luar Negeri Venezuela, Elias Jaua, saat menandatangani kerjasama solidaritas tersebut.

Penerus Chavez saat ini, Nicolas Maduro, juga sangat teguh mendukung perjuangan rakyat Palestina. Beberapa hari yang lalu, Nicolas Maduro meluncurkan kampanye “SOS Palestine” untuk menuntut Israel menghentikan agresinya di Jalur Gaza.

Chavez, seorang presiden berideologi sosialis, telah menunjukkan sikap internasionalisme, yakni bentuk solidaritas terhadap perjuangan rakyat tertindas di manapun di dunia, tanpa memandang perbedaan agama, ras, dan keyakinan politik.

Tak mengherankan, ketika Chavez berpulang pada Maret 2013 lalu, rakyat Palestina seakan kehilangan “pahlawannya”. Rakyat Palestina Jalur Gaza dan Tepi Barat turut ke jalan untuk memberi penghormatan terakhir kepada Hugo Chavez.

Hampir semua kelompok perlawanan di Palestina memuji dan mengakui sumbangsih Chavez untuk rakyat Palestina. “Rakyat Palestina akan tetap setia kepada Chavez dan tetap akan terukir di memorinya akan keberanian dan ketulusannya dalam mendukung hak kami mendirikan negara merdeka Palestina dengan ibukotanya di Yerussalem,” kata Presiden Palestina Mahmoud Abbas.

Talal Abu Zareefa, anggota Politbiro Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina (PFLP), mengatakan, “Chavez adalah pahlawan bagi kaum miskin dan tertindas. Kami kehilangan seorang teman yang pemberani. Sejak berkuasa di tahun 1998, Ia selalu mendukung Palestina.”

Hal senada diungkapkan oleh Kayed Al-Goul, anggota Sentral Komite dari PFLP. “Dia (Chavez) mewakili semua bangsa yang menentang hegemoni imperialisme Amerika Serikat,” kata Algoul.

Yahya Rabah, salah seorang pimpinan tinggi Fatah, juga bilang, “Dia (Chavez) menanamkan benih revolusioner di hati jutaan orang di dunia. Dia adalah pendukung utama Palestina dan hak kami untuk merdeka.”

Sementara itu, Taher Nonu, Juru-bicara pemerintahan Hamas di Jalur Gaza, mengatakan, “Chavez dikenal karena dukungannya terhadap Palestina. Dia banyak melakukan langkah-langkah berani untuk menentang pendudukan zionis di Palestina.”

Ya, Chavez adalah pahlawan bagi rakyat Palestina. Hari ini, ketika bom dan roket-roket Israel kembali menerjang rumah-rumah dan rakyat tak berdosa di Jalur Gaza, hati kecil rakyat Palestina tentu merindukan kehadiran Chavez.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut