Media dan Publik

Menakar sejauh apa media berperan dalam membentuk atau menyuarakan opini publik adalah persoalan krusial yang perlu menjadi fokus perhatian tiap warga negara. Pada hari-hari menjelang penutupan tahun ini, contohnya, media gencar menyorot pemberitaan seputar tim sepakbola nasional Indonesia dalam perjuangannya memenangkan turnamen Federasi Sepakbola ASEAN (AFF). Kemenangan timnas disambut dengan pemberitaan yang mengelu-elukan para pemain utama dan melambungkan harapan publik, sehingga perhatian masyarakat pun terliputi oleh euforia yang menutupi berbagai kekecewaan terhadap pemerintah yang mewarnai sepanjang tahun ini. Dengan kekalahan telak yang diderita oleh timnas saat bertandang ke Malaysia pada hari Senin, ditambah dengan kerusuhan yang terjadi akibat penjualan tiket di Gelora Bung Karno, maka publik pun kembali menyaksikan pemberitaan yang sudah biasa mengecewakan.

Tak dapat disangkal bahwa saat ini, berbeda dari jaman-jaman sebelumnya, media memiliki kemampuan yang sangat besar dalam menjangkau publik. Sehingga ia memainkan peran yang penting dan menentukan dalam membentuk opini publik. Apakah ia akan mengangkat rasa kekecewaan atau memotivasi harapan – itu ditentukan oleh kebijakan redaksi yang kemudian juga mencerminkan kepentingan pihak-pihak yang mengendalikan atau memiliki media tersebut. Dengan mekanisme seperti itu, media-media besar mewakili kepentingan perusahaan besar atau politik tertentu dan pemberitaannya dijaga agar sesuai dengan garis kepentingan tersebut. Dalam kasus-kasus yang politis dan berkaitan dengan kepentingan ekonomi tertentu, keberpihakan suatu media dapat terlihat cukup jelas. Dalam hal-hal yang lebih umum, keberpihakan ini seakan tidak terlihat atau sangat implisit. Dalam pemberitaan sepak terjang timnas Indonesia saat ini, yang sesungguhnya mewakili minat dan kepentingan seluruh bangsa secara umum, keberpihakan ini seharusnya diberikan kepada kemajuan timnas Indonesia, dan persepakbolaan Indonesia umumnya. Dalam kenyataannya, ketika pertandingan timnas Indonesia semakin menarik perhatian publik, liputannya pun menjadi semacam ajang kampanye bagi tokoh-tokoh politik Indonesia.

Selepas hingar-bingar sepakbola ini, publik Indonesia tentunya akan kembali kepada realita ekonomi, sosial, dan politik yang dihadapi bangsa ini, yang juga berkaitan dengan perkembangan yang terjadi di dunia. Sebagaimana dijelaskan dalam rangkaian catatan akhir tahun Berdikarionline.com, tantangan yang akan dihadapi oleh bangsa ini ke depan begitu besar. Pertarungan antara kebijakan dan desakan-desakan yang memiskinkan rakyat dengan upaya-upaya yang hendak menyelamatkan penghidupan rakyat dan masa depan bangsa ini akan semakin meruncing dan mengemuka. Pelaku-pelaku penting yang terlibat dalam pertarungan ini adalah media. Atas alasan inilah, kebutuhan akan suatu media alternatif yang independen dan pro-rakyat semakin mendesak.

Kasus Wikileaks yang telah menggulirkan bola salju menciptakan wikileaks-wikileaks baru, seperti Indoleaks di Indonesia merupakan upaya perjuangan media yang patut didukung dan dipandang positif. Fenomena wikileaks dapat dipandang sebagai upaya untuk mengangkat fakta-fakta penting yang disembunyikan oleh kelas penguasa. Dalam era informasi ini, penyebarluasan atau diseminasi informasi yang menggugah rasa keadilan dan semangat perlawanan ke tengah masyarakat merupakan suatu aktivitas politis yang penting. Dilihat dalam konteks historis, aktivitas ini tak ubahnya dengan pembentukan koran-koran pergerakan dan vergadering pada masa perjuangan kemerdekaan di Indonesia. Tokoh-tokoh pergerakan selalu berupaya menjangkau seluas mungkin massa untuk mengabarkan tentang ketidakadilan dan kejahatan rejim penjajah Belanda, serta menggerakkan rakyat kepada tujuan Indonesia merdeka.

Untuk mencapai tujuan menjangkau massa seluas mungkin ini, media pergerakan tidak dapat hanya memberitakan hal-hal yang dikehendakinya. Ia perlu memahami perasaan, mood, massa dan membahas hal-hal yang menjadi perhatian publik, meskipun tidak selalu sesuai dengan agenda pemberitaan yang dikehendaki. Dengan demikian terdapat dialektika antara media dan publik, di mana keduanya saling mempelajari dan mempengaruhi satu sama lainnya. Di tengah-tengah kuatnya pengaruh media besar dalam masyarakat, media yang hendak menjadi alternatif mau tidak mau harus berkompetisi menjangkau massa sambil menawarkan sudut pandang yang konsisten dan berprinsip. Tentunya agar masyarakat dapat memandang dunia melalui kacamata yang berbeda dari sekedar kepentingan komersial dan korporasi.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut