Mahasiswa Universitas Jember Menuntut Forum Terbuka

Sejumlah mahasiswa yang menamakan dirinya Forum Komunikasi Mahasiswa UNEJ (forkamu), kemarin pagi, melakukan aksi massa di sepanjang double way Universitas Jember (UNEJ) dan juga di depan Rektorat. Aksi itu diwarnai pembakaran sejumlah tuntutan mereka tentang kampus yang demokratis.

Sebuah drum besar bertuliskan “rektorat” menjadi bulan-bulanan mahasiswa usai melakukan pembakaran kardus yang bertuliskan iuran PPL, pungli, SPP dan POMA. Sejumlah tulisan tentang matinya demokrasi di kampus juga ikut dibakar dalam drum besar bertuliskan rektorat tersebut.

Menurut Koordinator lapangan, Kurniawan Adiputra, aksi yang mereka lakukan saat ini adalah imbas dari sikap rektorat Unej yang tidak demokratis dalam menanggapi tuntutan mahasiswa.

Sebelumnya, kata dia, sejumlah upaya untuk melakukan komunikasi secara baik telah coba untuk dilakukan dengan rektor UNEJ, Tarcisius Sutikto. Mereka sempat mengemukakan keinginan mereka untuk melakukan forum terbuka yang berisikan transparansi dan dan beragam persoalan yang timbul di tiap-tiap fakultas seperti pemberlakuan jam malam, pemungutan iuran liar serta tidak adanya gedung bagi fakultas teknik.

“Kami sudah melakukan upaya negosiasi selama 2 kali. Pertama kami ditemui langsung oleh pak rektor, kemudian yang kedua, kami ditemui oleh PR III, Andang Subaharianto. Tapi mereka tidak memberikan jawaban yang pasti tentang permintaan kami untuk mengadakan forum terbuka antara pihak rektorat dengan mahasiswa Unej,” paparnya.

Dikatakan, ketika pertemuan kedua dengan PR III Unej, Andang Subaharianto, menjanjikan untuk melakukan investigasi di seluruh fakultas di Unej sehingga bisa menemukan titik temu untuk melakukan forum terbuka dengan komunikasi yang baik.

Namun, lanjut dia, hingga deadline, tidak ada hasil apapun yang bisa didapatkan oleh mahasiswa yang tergabung dari berbagai fakultas yakni, fakultas sastra, fakultas teknik, fakultas pertanian, fakultas ilmu sosial dan ilmu politik, serta fakultas keguruan dan ilmu pendidikan, fakultas ekonomi dan fakultas hukum ini.

“Tuntutan kami sangat sederhana. Kami hanya ingin melakukan mediasi dengan pihak rektorat terkait dengan transparansi dana dan juga kebijakan yang membatasi kami untuk berpendapat,” ujarnya.

Menurut mahasiswa semester 5 fakultas pertanian ini, ada banyak persoalan di kampus yang terkait dengan persoalan dana tidak segera di selesaikan. Ia mencontohkan, fakultas teknik hingga saat ini tidak memiliki gedung, belum lagi mahasiswa fakultas pertanian yang kini telah dibatasi dalam kegiatan berorganisasi dengan jam malam. Selain itu, untuk mengakses gedung-gedung milik unej, mereka justru harus menerima kesulitan.

Sementara itu menurut Onik, mahasiswa fakultas teknik sipil Unej, pembangunan gedung di fakultas teknik harusnya menggunakan uang POMA. Tapi justru hingga saat ini tidak realisasinya. “Jangan mentang-mentang kampus kami jauh lalu mereka bisa menjadikan kami bulan-bulanan. Kami kan juga melakukan kewajiban kami dengan membayar uang gedung,” ungkapnya.

Aksi tersebut juga diwarnai dengan aksi penggalangan dukungan. Massa aksi meminta mahasiswa yang berlalu lalang di double way Unej untuk menandatangani spanduk besar bertuliskan wujudkan demokrasi di Unej.

Selain itu, mereka juga sempat bersitegang dengan sejumlah satpam yang berjaga di depan prasasti trium virat ketika akan meletakkan spanduk sebagai lambing matinya demokrasi di Unej. Para mahasiswa yang akan mengikatkan spanduk di prasasti pun saling dorong dengan satpam kampus. Namun, upaya mereka untuk mengikatkan spanduk di prasasti berhasil digagalkan.

Dalam orasinya, mahasiswa masih tetap menuntut untuk melakukan forum terbuka dan akan datang kembali untuk menemui pihak rektorat lagi dengan massa aksi yang lebih banyak.(*)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut