Mahasiswa Surabaya Mengenang “Insiden Bendera” Di Hotel Yamato

19 September 1945: sejumlah pemuda dan rakyat Surabaya mendatangi Hotel Oranje (jaman Jepang bernama hotel Yamato). Pagi itu, bendera merah-putih-biru terlihat berkibar di hotel itu. Para pemuda berusaha menurunkan bendera milik belanda tersebut dengan perjuangan heroik.

Peristiwa itu merupakan bagian dari kisah perjuangan heroik rakyat Surabaya dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Kejadian itu pun menjadi rentetan dari berbagai peristiwa menjelang pecahnya “pertempuran 10 November” di kota Surabaya.

Mengenang kisah heroik perjuangan rakyat Surabaya itu, puluhan aktivis pergerakan mahasiswa di Surabaya menggelar aksi teatrikal. Mereka mengenakan kostum ala pejuang kemerdekaan dan membawa bambu runcing.

Di bagian ujung bambu runcing itu dipasang bendera merah-putih. Lalu, para aktivis pun memperagakan suasana penyerbuan hotel Yamato 66 tahun silam itu. Mereka juga memperagakan bagaimana pemuda berjuang keras memanjat tiang bendera hotel Yamato dan menurunkan bendera Belanda.

Menurut Abdul Rahman, salah satu jubir aksi teatrikal ini, peristiwa “perobekan bendera “ di hotel Yamato sangat penting untuk dikenang luas oleh rakyat Indonesia.

“Itu penting untuk membangkitkan kembali semangat kebangsaan dan patriotisme rakyat yang hari ini semakin luntur, di tengah-tengah kondisi bangsa saat ini di dera krisis multidimensi,” katanya.

Mahasiswa sendiri memulai aksinya dari prasasti kelahiran Bung Karno di kampung Pandean menuju Hotel Madjapahit (nama hotel Yamato kini). Adapun organisasi yang terlibat dalam aksi ini, antara lain: SBK-KP KSN (Serikat Buruh Kerakyatan-Komite Persiapan Konfederasi Serikat Nasional), FAM Unair (Forum Advokasi Mahasiswa Universitas Airlangga), SKMR (Serikat Kedaulatan Mahasiswa untuk Rakyat).

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut