Neo-neo-Kolonialisme?

Ketika musim semi berganti menjadi musim panas di Arab, kekuatan-kekuatan kolonial lama bermunculan, seperti rombongan vampire keluar dari tempat persembunyian, mencari sesuatu untuk dimakan.

Penghisap itu dari Eropa dan Amerika, dengan menggunakan resolusi-resolusi PBB (tapi mengabaikan yang lain) dan NATO sebagai penutup aibnya, menurunkan hujan kematian dan kesedihan, atas nama “melindungi warga sipil”. Kekuatan-kekuatan yang sama ini, hanya beberapa bulan yang lalu, berada seranjang dengan para diktator itu yang sekarang mereka cela, menunjukkan pada kita sesuatu yang lain sedang terjadi.

Satu hal yang pasti, dua hal yang tertentu, ini bukan perlindungan warga sipil Arab! Ini dapat terlihat ketika anak-anak Palestina melontarkan batu ke arah tentara pendudukan Israel yang dilengkapi senjata otomatis dan tank, tapi Barat mengecam para pelempar batu, bukan penembak peluru.

Sewaktu Presiden Amerika Serikat berani sekadar menyebut tapal batas tahun 1967 antara Palestina dan Israel sebagai sebuah titik awal perundingan, Presiden Israel, Benyamin Netanyahu bilang padanya (dalam bahasa diplomatik) yang prinsipnya bermakna “pergilah ke neraka”.

Pada saat-saat seperti ini, orang kadang bertanya, manakah sebenarnya kekuatan yang menguasai dunia—dan manakah yang satelit?

Dalam pidato yang paling digembar-gemborkan di Kairo (Juni 2009) Presiden AS Barack Hussein Obama mempesona para elit Muslim dunia dengan pernyataan, yang memperoleh tepuk tangan: “Setiap tatanan dunia yang mengangkat suatu bangsa atau suatu kelompok orang di atas yang lain akhirnya akan gagal.”

Jelas, yang ia maksud bukanlah Israel, yang diijinkan untuk menghinakan resolusi-resolusi PBB, dengan membom rakyat sipil Palestina dari F14-nya, menginvasi negeri lain (seperti Lebanon, sekurang-kurangnya dua kali), membangun tembok setinggi langit di tanah Palestina dan tanah pendudukan umumnya, terus mencuri dan menempati teritori mereka, dengan jarang muncul suara dari AS.

Seorang Presiden dan Jenderal Prancis, Charles de Gaulle (1890-1970) suatu ketika berkata: “Karena politisi tidak pernah percaya apa yang ia katakan, maka ia kaget ketika orang lain mempercayainya.” [Newsweek magazine, Oct. 1, 1962].

Setelah pidato Kairo, dengan janjinya yang berbunga-bunga tentang sebuah “hubungan baru” dengan dunia Muslim, harapan naik seperti layang-layang di musim semi.

Dua tahun kemudian, setelah kesia-siaan di Irak dan Afganistan, pembersihan yang kejam di Pakistan dan pemboman bayi-bayi di Tripoli, rasa senang itu pun hilang.

Setelah semua yang dikatakan dan dilakukan, ternyata ini masih tentang dan selalu tentang—minyak.

*) Artikel pendek ini sebelumnya sudah dimuat di Cubadebate.cu. Diterjemahkan oleh Dominggus.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut