Ultra-Fanatik Yang Mengancam Bangsa

Dua hari yang lalu, sekelompok massa fanatik melakukan pengrusakan patung-patung yang berdiri di tengah kota Purwakarta, Jawa Barat. Ada empat patung yang dirobohkan dan dibakar oleh massa tersebut. Patung-patung yang dirusak itu adalah tokoh pewayangan, seperti  patung Bima, Gatotkaca, dan Semar.

Patung adalah bagian dari kebudayaan nusantara. Ia sudah hadir sejak masyarakat nusantara mulai membangun peradabannya. Sedangkan pewayangan sendiri juga termasuk salah satu kekayaan budaya nasional. Ia adalah mahakarya dunia yang tak ternilai dalam seni bertutur (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity). Hal itu diakui oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Pengrusakan patung wayang di Surakarta hanya merupakan satu diantara sekian banyak kejadian-kejadian dimana kelompok ultra-fanatik mempertontonkan barbarisme demi memaksakan keyakinannya. Entah mengapa, ada orang-orang semacam itu di negeri yang begitu “bhineka” ini. Padahal, kebhinekaan itu sendiri adalah salah satu konsensus berdirinya bangsa dan negara ini.

Pada pidato 1 Juni 1945, yang kemudian dikenal sebagai pidato lahirnya Pancasila, Bung Karno menegaskan bahwa bukan saja Indonesia ber-Tuhan, tetapi masing-masing orang Indonesia hendaklah bertuhan Tuhannya sendiri dengan leluasa. Bung Karno pun dengan tegas, seraya mengulang berkali-kali penegasan ini, bahwa bangsa Indonesia tidak mentolerir adanya “egoisme agama”.

Bung Karno mengajak seluruh pemeluk agama menjalankan agamanya dengan jalan berkeadaban, yaitu hormat-menghormati satu sama lain. Presiden pertama Republik Indonesia ini juga menganjurkan setiap warga negara untuk mempropagandakan ide-idenya dengan tidak onverdraagzaam (intoleran). Semua bebas berpropaganda, asalkan berkebudayaan!

Kita harus mengutuk orang-orang yang mengutamakan tindakan barbarisme: menyerang, menghancurkan, merusak, membakar, dan lain-lain. Tindakan semacam ini tidak saja berlawanan dengan hukum negara, tetapi–lebih penting lagi—mengancam eksistensi bangsa Indonesia yang berbasiskan masyarakat bhineka ini.

Negara ini, kalau masih mau eksis dan tetap hidup, harus memerangi segala macam ekstrimisme semacam itu. Negara harus menciptakan kondisi yang sehat dan damai untuk kehidupan seluruh rakyat Indonesia beserta tata-tata cara hidup dan keyakinan-keyakinannya. Tidak ada satu keyakinan yang boleh mendominasi, lalu memaksakan kebenaran terhadap keyakinan-keyakinan lain. Kita bukan negara agama, melainkan negara yang berdasarkan Pantjasila.

Puluhan tahun sudah kita berjalan sebagai bangsa, janganlah mau terpecah-belah dan berantakan hanya karena ego segelintir orang. Seluruh agama-agama di Indonesia pernah berkontribusi dalam memperjuangkan kemerdekaan, juga berkorban tanpa menghitung-hitung kerugian demi mempertahankan kemerdekaan itu.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • orangjava

    Mengapa pemerintah diam saja, ini kan termasuk sejarah budaya Indonesia…