Mahasiswa Minahasa Selatan Tolak Perusahaan Tambang Di Desa Picuan

Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam aliansi Mahasiswa Kritis-Konstruktif menggelar aksi massa di kantor Bupati Minahasa Selatan, Kamis (10/5/2012). Mereka menolak kehadiran perusahaan tambang di desa Picuan, Kecamatan Motoling, Kabupaten Minahasa selatan.

Bagi mahasiswa, pemerintah Kabupaten Minsel harus mendengar aspirasi rakyat Picuan yang menolak kehadiran tambang. “Jangan seenaknya mengeluarkan ijin pertambangan kepada korporasi. Dengarkanlah aspirasi rakyat,” kata koordinator aksi, Satriano Pangkey.

Satriano menjelaskan, pengelolaan tambang mestinya mengacu pada pasal 33 UUD 1945, yakni dikelola sebagai usaha bersama berdasarkan azas kekeluargaan dan diperuntukkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

“Sebaiknya pengelolaan tambang itu tidak diberikan kepada pemodal swasta. Sebab, nantinya, kekayaan alam hanya dinikmati oleh segelintir orang,” kata Satriano.

Mahasiswa mengkhawatirkan kehadiran perusahaan tambang emas, dalam hal ini PT. Sumber Energi Jaya (SEJ), akan menggusur tambang tradisional yang dikelola oleh rakyat dan merampas tanah milik rakyat.

Dalam aksinya, mahasiswa sempat berdialog dengan Asisten I Pemkab Minsel dan Kepala Dinas Pertambangan Minsel. Namun, tidak jelas apa hasil dialog antara kedua pihak tersebut.

Seusai menggelar aksinya di kantor Bupati, mahasiswa melanjutkan aksinya di kantor DPRD Minsel. Di sana, mahasiswa juga menyuarakan aspirasi yang sama.

Sejumlah perwakilan mahasiswa sempat berdialog dengan ketua DPRD Minsel. Tetapi juga tidak diketahui apa hasil pertemuan tersebut.

Aliansi Mahasiswa Kritis-Konstruktif Minahasa Selatan merupakan gabungan Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) dan Ikatan Mahasiswa Minahasa Selatan.

JONATHAN WOROTITJAN

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut