Krisis Eropa Dan Kemenangan Sosialis Perancis

Perayaan Kemenangan Hollande

Pemilihan Presiden Perancis baru saja usai. François Hollande, kandidat dari Partai Sosialis, memenangkan Pilpres ini. Ini pertama kalinya sosialis memenangkan kursi presiden sejak 1988—saat François Mitterrand memegang jabatan kedua kalinya sebagai Presiden.

Bagi sebagian kaum kiri, kemenangan Hollande tidaklah membanggakan. Maklum, Hollande—sering dipanggil “Mr Normal”—adalah seorang sosialis moderat, tidak radikal, dan cukup ramah dengan pasar.

Akan tetapi, saya beranggapan, pandangan semacam ini tidak dialektik. Politik tidak boleh berhenti pada justifikasi. Bagi saya, pengujian terbaik adalah praktek politik dan seberapa kuat sumbangsihnya pada pergeseran perimbangan politik yang ada. Di situlah kita membahas kemenangan Hollande.

Kemenangan Hollande sering dibandingkan dengan pendahulunya, François Mitterrand, pada pemilu 1981. Saat itu, harapan akan perubahan total (“changer la vie”) sangat kuat. Masyarakat saat itu sangat berkeinginan untuk keluar dari sistem kapitalisme. Sayang, ketika Mitterand berkuasa, ia berjalan dengan kebijakan yang sangat moderat.

Pada tahun 2012, ketika Hollande bertarung di Pilpres, kekecewaan terhadap kapitalisme juga sangat kuat. Terlebih, cara pemimpin sayap kanan eropa menangani krisis sangat merugikan rakyat. Penentangan terhadap kebijakan penghematan sangat kuat di kalangan rakyat di berbagai negara Eropa.

Nicolas Sarkozy, sang incumbent, sangat tidak populer. Kebijakan ekonominya menyebabkan Perancis nyaris ambruk: pengangguran 10%, utang publik meroket, defisit anggaran menganga, dan kinerja industri memburuk.

Sebuah jajak pendapat menyebutkan, sekitar 44%-55% suara yang diperoleh oleh Hollande berasal dari suara “anti- Sarkozy”. Lebih menarik lagi, analis L’Humanite menyebutkan, sebagian besar pemilih Sarkozy adalah kaum lansia (di atas 60 tahun) dan borjuis kecil (artisan). Sedangkan pemilih Hollande adalah pemuda, pekerja, dan kalangan klas menengah-profesional.

Ini yang menarik: kemenangan Hollande menandai tingginya tingkat “kemuakan” rakyat perancis terhadap kebijakan Sarkozy yang pro-pasar dan membela kepentingan segelintir kaum kaya.

Gejala serupa juga terjadi di Yunani. Syriza—koalisi kiri radikal, yang baru dibentuk pada tahun 2001, berhasil meraih posisi kedua dengan 16,76 persen suara dan 52 kursi di parlemen. Sedangkan partai berkuasa, PASOK, hanya menempati urutan ketiga dengan 13,2 persen atau 41 kursi. Sebelumnya, PASOK sempat menguasai 160 kursi.

Di Jerman, partai Kristen Demokrat di bawah pimpinan Angela Merkel kehilangan banyak suara di pemilihan lokal Schleswig-Holstein. Kristen Demokrat hanya mendapatkan 30,9% suara—disebut sebagai hasil terburuk selama 5 dekade terakhir.

Terhitung sejak krisis mengamuk di Eropa, sudah 11 pemimpin eropa yang kehilangan kekuasaan atau gagal melanjutkan kekuasaannya.

Isu nasional juga memainkan peranan penting di pemilu Perancis. Kita tahu, Perancis sangat kritis terhadap konstitusi eropa. Di bawah Sarkozy, Perancis terlihat sangat membebek kepada Jerman. Sampai-sampai muncul istilah “Merkozy (Merkel-Sarkozy)”.

Hollande menentang itu. Ia memperjuangkan penerbitan obligasi euro yang dijamin oleh 17 negara pengguna mata uang bersama, untuk membantu negara yang terperangkap utang. Sarkozy dan Merkel sangat menentang ide Hollande itu. Survei membuktikan bahwa 66% pemberi suara “NO” pada perjanjian konstitusi Eropa memberikan suaranya kepada Hollande.

Sayap kanan fasistik, Front Nasional (FN), juga berusaha memainkan kartu ini. Kampanye FN sangat berbau xenophobia, anti-imigran, anti-islam, dan anti-eropa. Ini menyebabkan ultra-kanan juga menjadi ancaman besar bagi masa depan politik di Perancis.

Hal lain yang patut dicatat adalah perkembangan menggembirakan gerakan kiri di Perancis. Front Kiri (“Front De Gauche”), yang diluncurkan pada Maret 2009, telah menyatukan aktivis kiri yang sangat beragam. Awalnya, ini merupakan aliansi antara Partai Komunis, Partai Kiri (Parti de Gauche) dan Unitaire Gauche. Di bawah payung proyek politik yang terbuka, Front Kiri berhasil menyatukan beragam aktivis akar-rumput.

Pada pemilu putaran pertama 22 April lalu, Front Kiri meraup suara yang cukup membanggakan, yaitu 11%. Sedangkan kelompok hijau dan kelompok kiri kecil lainnya meraih suara 3,5%. Katanya, pilpres Perancis baru-baru ini menandai kebangkitan kiri Perancis yang sangat kuat.

Apa tantangan Hollande kedepan? Pertama, Hollande dituntut melakukan perubahan mendasar terhadap kebijakan ekonomi dan politik di Perancis. Yang paling mendesak adalah mengatasi pengangguran, mengatasi defisit anggaran, dan menghidupkan kembali industri.

Jika hal itu gagal dilakukan, maka Hollande akan berhadapan dengan oposisi dua sisi sekaligus: sayap kiri dan ultra-kanan. Sayap kiri, khususnya serikat buruh, sudah sangat menderita akibat penghematan. Sedangkan kelompok ultra kanan, yaitu Front Nasional yang dipimpin Marine Le Pen, sudah bersiap-siap menggunakan segala cara, termasuk mengkambing-hitamkan kaum imigran, untuk memperluas pengaruh di kalangan borjuis kecil dan kaum pinggiran.

Kedua, untuk memastikan langkah-langkah kebijakannya berjalan efektif, maka Hollande tak punya pilihan selain berusaha memenangkan pemilu parlemen pada bulan Juni mendatang. Sebab, kalau tidak berhasil, maka pemerintahan Hollande akan dilumpuhkan oleh sayap kanan melalui parlemen.

Ketiga, Hollande harus mampu melampaui rintangan internasional, terutama Uni-Eropa, yang kurang “sreg” dengan orientasi kebijakannya. Kehadiran Hollande bisa menjadi gangguan terhadap kebijakan penghematan yang sedang digencarkan oleh Eropa di bawah komando Jerman.

Kita menunggu gebrakan Hollande: apakah gelombang panjang ataukah gelombang pendek? Atau, jangan-jangan ia hanya riak-riak sesaat saja. Yang pasti, sejak ketidakpuasan terus meningkat terhadap kebijakan penghematan, maka politik kiri terus mendapat tempat di kalangan rakyat di Eropa.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut