Mahasiswa Lampung Serukan Perdamaian Dan Persatuan

Solidaritas-mahasiswa-lampung

Konflik horizontal yang berbuntut korban jiwa di Lampung Selatan, Lampung, terus menuai keprihatinan berbagai sektor sosial. Siang tadi, sekitar pukul 09.00 WIB, ratusan mahasiswa Lampung menggelar aksi keprihatinan di Bundaran Air Mancur Universitas Lampung (1/11/2012).

Massa mahasiswa yang tergabung dalam Solidaritas mahasiswa untuk Lampung Damai memulai aksinya dengan membentuk lima barisan panjang dan kemudian menggelar longmarch. Mereka merupakan gabungan sejumlah organisasi, seperti Liga Mahasiswa Nasional Demokrasi (LMND), BEM Keluarga Besar Mahasiswa Unila, Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), dan UKM Hindu

“Kami menyayangkan kelalaian dan lambannya reaksi pemerintah serta kepolisian dalam mengantisipasi konflik ini,” kata Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa -Keluarga Besar Mahasiswa (BEM-KBM) Unila, Arjun Fatahillah.

Menurut Arjun, pihaknya mendesak pemerintah segera melakukan upaya mediasi dan rekonsiliasi di antara pihak yang bertikai. Sebaliknya, mahasiswa menolak wacana pemerintah untuk mentransmigrasikan ulang salah satu kelompok masyarakat.

Ia juga mendesak aparat keamanan untuk menegakkan hukum dengan adil dan juga mendorong untuk segera mengendalikan konflik agar tercipta rasa aman di tengah masyarakat.

Senada dengan Arjun, Ketua Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Bandar Lampung, Nyoman Adi Irawan, mengajak semua pihak agar tidak mudah tersulut provokasi SARA yang memecah belah persatuan nasional.

“Keragaman budaya adalah warisan kekayaan yang harus kita pelihara dan jadikan modal untuk menghadapi arus deras ancaman penjajahan imperialisme neoliberal dari luar,” kata Nyoman Adi.

Di dalam aksi ini, sejumlah dosen juga turut bergabung. Salah seorang diantaranya adalah sosiolog Unila, Hartoyo, yang sehari sebelumnya juga menggalang aksi solidaritas bersama para dosen.

Hartoyo menjelaskan, konflik horizontal seperti di Lampung Selatan sangat jarang terjadi di Lampung. Katanya, kebanyakan yang terjadi adalah konflik vertical antara masyarakat dengan pemerintah maupun korporasi tertentu.

Anehnya, kata dia, di Lampung Selatan, dalam satu tahun terakhir, sudah terjadi berkali-kali letupan konflik, yang berarti memang ada indikasi pembiaran atau kegagalan kebijakan pemerintah dalam menjaga stabilitas daerah.

“Konflik ini sudah akumulatif dan kian kompleks, sehingga sangat dibutuhkan komitmen dari semua stake-holder untuk meramu program rekonsiliasi yang berkelanjutan,” ujarnya.

Untuk diketahui, pasca bentrok susulan antara warga Kampung Agom, Kecamatan Kalianda, dan Desa Balinuraga, Kecamatan Way Panji, Lampung Selatan, selasa (30/10) kemarin, sekitar 2.053 jiwa warga Desa Balinuraga dan Desa Sidoreno, Kecamatan Waypanji, Lampung Selatan mengungsi di Sekolah Polisi Negara (SPN) Kemiling, Bandar Lampung.

Sejauh ini, korban tewas akibat bentrokan itu berjumlah 14 orang. Sementara itu, bantuan dan perhatian dari Pemda maupun Pemkab sama sekali belum nampak sama sekali. Hanya bantuan dari sesama warga Masyarakat yang terus mengalir ke lokasi pengunsian.

Saddam Cahyo, Kontributor BO Lampung

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut