Mahasiswa Lampung Peringati Peristiwa “UBL Berdarah”

Puluhan mahasiswa berkumpul di halaman Kampus C Universitas Bandar Lampung (UBL), kemarin (1/10), untuk memperingati peristiwa 28 September 1999 atau sering disebut tragedi “UBL Berdarah”.

Dalam aksinya, mahasiswa yang tergabung dalam “Aliansi UBL Berdarah” ini mendesak pengusutan dugaan pelanggaran HAM dalam kejadian 12 tahun silam tersebut.

Aksi ini diikuti oleh para mahasiswa dari berbagai organisasi, seperti UKPM Teknokra Unila, BEM Unila, UKMBS-Unila, FORKOM Unila, APM Lampung, UKMBS-UBL, UKM Futsal UBL, PMKRI, HMI, GMKI, FMN, IMM dan LMND.

Selain itu, hadir pula orang tua dari korban peristiwa itu, Bpk Sucitpto, ayah dari almarhum Saidatul Fitria, salah satu korban dalam peristiwa itu.

Fatoni Latif, aktivis dari UKPM Teknokra Unila, menganggap peristiwa 28 September sebagai salah satu momen penting dan heroik dalam sejarah perjuangan mahasiswa Indonesia melawan kediktatoran orde baru.

Tetapi, kata Fatoni, pengusutan tentang pelaku pelanggar HAM dalam peristiwa ini belum menemukan titik terang. “Sejak dulu sudah terbentuk Tim Pencari Fakta namun harus berhenti pasrah mengusut tuntas kasus pelanggaran HAM ini karena dihalangi oleh tangan-tangan besi Militerisme warisan Orba,” katanya.

Sementara itu, Isnan Subkhi, aktivis dari LMND Lampung, menegaskan pentingnya mahasiswa sekarang melanjutkan cita-cita para martir dalam peristiwa “UBL Berdarah”.

“Mereka punya cita-cita besar yang belum terwujud sampai sekarang. Adalah tugas generasi penerus untuk mewujudkannya,” ujar Isnan dalam orasinya.

Sementara Bpk Sucipto, yang mewakili keluarga korban, mengajak mahasiswa sekarang untuk memiliki semangat juang dan mental baja dalam memperjuangkan kepentingan rakyat dan bangsa.

“Mahasiswa di negeri ini tidak boleh mudah menyerah, kalian harus terus menempa mental-mental baja, menempa diri dengan ilmu pengetahuan, dan meneruskan perjuangan mahasiswa-mahasiswa pendahulu,” tegasnya.

Peringatan peristiwa “UBL Berdarah” ini juga disuguhi dengan pementasan teatrikal dari UKMBS UBL. Teatrikal itu menggambarkan bagaimana aparat keamanan memperlakukan mahasiswa saat terjadinya peristiwa tersebut.

Selain itu, peringatan “UBL Berdarah” ini juga dimeriahkan oleh penampilan music dari UKMBS Unila yang membawakan lagu “Bongkar” dari Iwan Fals, “Perahu Retak” dari Franky Sahilatua dan juga “Sajak Sebatang Lisong” milik WS Rendra.

Peristiwa “UBL Berdarah” terjadi bersamaan dengan perlawanan mahasiswa di berbagai wilayah di Indonesia menentang pemberlakuan RUU Penanggulangan Keadaan Bahaya (PKB) tahun 1999.

Dalam kejadian tersebut, dua orang aktivis mahasiswa menjadi martir, yaitu Muhammad Yusuf Rizal (aktivis Partai Rakyat Demokratik-PRD ) dan Saidatul Fitria (aktivis Pers Teknokra Unila).

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut