Mahasiswa Dan Perjuangan Bangsanya

Di bulan Oktober 1933, Mohammad Hatta menulis artikel berjudul “Pemuda Dalam Krisis”. Isinya berusaha menggugah pemuda intelektual, khususnya yang mendapat pendidikan barat, agar kembali kepada asalnya: rakyat dan bangsanya.

Dalam artikel itu, Hatta antara lain mengungkapkan kekagumannya kepada pemuda-pemuda di Rusia saat melawan pemerintahan Tsar. Hatta menunjukkan bagaimana pemuda-pemuda rusia, sekalipun masih duduk di bangku sekolah, tetapi telah memilih untuk bergabung dalam pergerakan dan politik.

Tetapi Hatta memberi apresiasi lebih besar lagi kepada anak-anak keturunan bangsawan yang juga terlibat dalam pergerakan itu. Hatta antara lain menulis:

    “Anak-anak orang baik-baik meninggalkan rumah tangga ibu bapa mereka, menukar kesenangan dengan kesengsaraan, mengganti hidup di dalam villa dan istana dengan hidup di dalam pembuangan.”

Tetapi tidak demikian dengan mahasiswa di Eropa barat, dimana rakyatnya sudah mendapatkan demokrasi, sekalipun demokrasinya belum sempurna. Di sana, kata Hatta, pemuda-pemuda tidak mementingkan soal-soal yang berkaitan dengan nasib rakyat dan politik pemerintahan. Kata Hatta, pemuda di sana hanya mementingkan pelajaran dan sambil “genieten van de jeugd en van het zorgeelosleven—mempergunakan waktu mudanya untuk memuaskan hawa nafsu.”

Lain lagi ketika membahas pemuda Indonesia. Sekalipun mengakui bahwa pemuda Indonesia sangat mudah untuk bangkit karena situasi keterjajahan bangsanya, tetapi Hatta juga sangat menyadari bahwa sebagian besar pemuda Indonesia yang mendapat pendidikan barat adalah anak kaum bangsawan atau golongan atas (priayi). Sudah begitu, mereka mendapat penghidupan dari pemerintah Hindia-belanda.

Sekalipun begitu, kata Hatta, pemuda-pemuda keturunan bangsawan itu tetap melekat di dalam dadanya semangat membela bangsanya. “Ada kejadian si anak dipengaruhi oleh perasaan hendak berkurban, meninggalkan rumah tangga dan bercerai dengan ibu-bapak yang hidup dari pemerintah, untuk membela cita-cita di dalam dada,” katanya.

Dan, memang benar, pemuda-pemuda seperti Sjahrir, Tan Malaka, Soekarno, dan Hatta sendiri adalah anak keturunan bangsawan, tetapi telah memilih kepahitan hidup untuk berjuang demi kemerdekaan bangsanya. Inilah yang disebut oleh Hatta sebagai “pemuda dalam krisis”, yaitu memilih antara tunduk pada pendidikan kolonial dan keadaan orang tuanya ataukah memilih memperjuangkan cita-citanya.

Tetapi, untuk terlibat dalam memperjuangkan bangsa dan nasib rakyat, Hatta menganjurkan agar pemuda mestilah melepaskan pengaruh kolonialisme atau sanggup bertalak dengan perikehidupan hindia-belanda yang memberinya kesenangan. “Lemparkanlah dari punggungmu segala beban burgelijk dan perbedaan kelas da nasal, dan kamu akan sampai ke masyarakat dengan sempurna. Inilah syarat-syarat untuk mencapai jalan pulang,” katanya.

Sekarang, 78 tahun setelah Bung Hatta menulis artikelnya itu, kita hidup di sebuah zaman yang menganggap nasionalisme dan patriotisme sudah tak relevan. Jangankan berbicara soal nasionalisme dan patriotisme, orang menenteng ideologi pun dianggap “jadul” di jaman sekarang ini.

Ini zamannya untuk—meminjam istilah Amrus Natalsya, seorang pelukis Lekra—“masyarakat happy”. Segala sesuatu akan diukur menurut “perhitungan ekonomis” dan “kepuasan personal”. Inilah jaman dimana pemuda hanya punya tujuan untuk dirinya dan paling jauh untuk keluarganya. Hampir tidak ada lagi pemuda yang rela mengambil resiko mati untuk memperjuangkan cita-cita rakyat dan bangsanya.

Padahal, jika menengok kehidupan mayoritas rakyat Indonesia saat ini, maka kita akan menemukan kondisi yang memprihatinkan: kemiskinan, pengangguran, kenaikan harga kebutuhan pokok, korupsi merajalela, dan lain sebagainya. Penyebab pokok dari semua persoalan itu adalah penjajahan kembali (rekolonialisme).

Oleh karena itu, tidak ada pilihan lain, para pemuda harus dibangunkan. Kita harus kembali masuk ke kampus untuk membangunkan pemuda-pemuda yang tertidur itu: (1) menghidupkan kembali panggung-panggung atau mimbar politik di kampus-kampus seperti mimbar bebas, rapat akbar, dan pertemuan-pertemuan mahasiswa, (2) mendorong para pemuda pergerakan untuk merebut kepemimpinan kepengurusan organisasi mahasiswa di tingkat jurusan hingga Universitas termasuk Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), (3) mengefektikan penggunaan media informasi kampus, seperti pers kampus dan radio kampus, untuk kepentingan proganda dan penyebarluasan gagasan-gagasan perjuangan. (4) menghidupkan kembali kelompok diskusi dan kajian di kampus dan kamar-kamar kost untuk membahas berbagai tema sosial, ekonomi, politik, dan kebudayaan, dan (5) mengajak massa mahasiswa di kampus untuk keluar merespon berbagai persoalan rakyat dan bersolidaritas terhadap berbagai persoalan rakyat itu.

Kita kembali ke kampus bukan untuk mengisolasi perjuangan dari massa rakyat. Akan tetapi, saya menegaskan, bahwa kita kembali ke kampus untuk memperbesar barisan kita dan sekaligus melipat-gandakan kekuatan bersama rakyat dalam melawan imperialisme dan kolonialisme.

Arham Tawarrang, Kader Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Sulawesi Selatan dan anggota Partai Rakyat Demokratik (PRD).

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Pranacitra Pekikangkara Anarki

    Gagasan penyerahan tanggung jawab kepada pemuda/kaum muda, sebenarnya masih perlu diperdebatkan mengingat tingginya angka akan kepentingan yang bermain di kelas menengah untuk kontek Indonesia saat ini. salah satunya ialah kita kemudian tidak bisa menutup mata sejarah (ahistoris)berdirinya beberapa universitas yang ada di Indonesia saat ini yang merupakan bagian dari inisiasi Amerika (sebagai perwakilan Kapitalis saat ini), merujuk pada buku Mafia Barkley dan pembunuhan Massal di Indonesia. belum lagi berdirinya organ lintas kampus dahulu yang merupakan inisiasi unsur Militer (KAMI). sebuat pertanyaan besar hari ini berapa besar bentuk tendensi dari tiap-tiap kaum muda terhadap pewujudan kesempurnaan Indonesia menjadi lebih baik, (BTW kalo mau kirim tulisan bisa lewat admin??)

  • muhammad hakim

    lebih baik ajari para mahasiswa itu keterampilan hidup. ajari mereka budi pekerti. soalnya ada aktivis gerakan yang justru hidup dalam hedonisme (miras, narkoba, free sex). ceramahnya hanya melulu perjuangan, tapi hidupnya sendiri tidak menunjukkan apa yang diceramahkannya.
    tema sosial dan politik yang didiskusikan biasanya sudah dirancang sesuai agenda politik titipan dari luar. bukan aspirasi murni mahasiswa.
    mahasiswa kampus diajak keluar, tapi tidak ada tindak lanjutnya, hanya agar bisa di blow up di media massa.
    kalau mau keluar dan bermanfaat, manfaatkan keterampilan dan ilmu pengetahuan yang diperoleh di kampus untuk membantu masyarakat, misalnya memberikan service elektronik gratis, pelatihan keterampilan gratis, menjadi tenaga kerja sukarela periodik seperti acara televisi ‘jika aku menjadi’, dsb.

  • NAN

    @Muhamad: menurut saya, penafsiran anda tentang mahasiswa pergerakan itu salah besar….. merusak citra para aktivis karena saya juga pernah bergabung bersama aktivis. di sana saling belajar pengalaman hidup, dan memecahkan persoalan yang terjadi terkusus prsoalan yang kita sendiri hadapi (karena saya sebenarnya, akan menjadi Pembunuh berdarah dinggi apabila tidak mengenal mahasiswa pergerrakan)…. Jujur, dengan bergabung bersama mereka banyak hal yang kita dapati seperti keterampilan-keterampilan. kita sebagai mahasiswa, sejujurnya Ilmu yang didapatkan dari kampus itu adalah teknologi milik asing yang berusaha di terapkan di Indonesia sedangkan kita orang Indonesia tidak bisa menggali potensi yang ada untuk di kembangkan bagi masyarakat karena kita dipaksa untuk memahami sesuatu yang tidak kita miliki…. saya ingin bertanya kepada anda:”Apakah anda seorang Mahasiswa??? sejujurnya di kampus kebebasan mahasiswa untuk berbicara dibungkam, bahkan mendikte serta menciplak karangan orang lain, untuk diikuti. bahkan Proyek-proyek di kampus merugikan mahasiswa…. seolah-olah kampus adalah ladang bisnis.

  • sejak kapan kampus mampu menjadi ladang yang menumbuhkan “solusi”? sejak kapan germa(gerkan mahasiswa) mampu merekonstruksi krisis kenegaraan? kalo rujukan yang kita pakai soekarno, hatta, tan, sjahrir, dll mereka tidak bergerak di kampus karena mereka sadar kampus adalah sebuah lokus yang menjadi pemisah antara idealism dan realitas, karena itu mereka membuka lokus baru bernama menteng 31 diluar kampus yang mampu menjadi katalis pemahaman antara idealism dan realitas untuk selanjutnya melakukan gerpol ditingkat massa. (baca: nationalism and revolution in indonesia by george mc turnan kahin dan java in a time of revolution, occupation, and resistance 1944-1946 by benedict rog anderson). germa sudah tidak relevan untuk bicara perubahan radikal di indonesia, yang kita pelukan adalah gerakan politik berbasis pemuda yang sadar atas ideology dan terorganisir.

  • Wiwiwn Irawan

    keliru bila kita menganggap bahwa mahasiswa sastu-satunya yang mampu merubah negeri ini. tetapi kita pun akan lebih keliru bila menganggap mahasiswa tidak bisa dilibatkan dalam memperjuangkan perubahan di bangsa ini. mahasiswa adalah salah satu kekuatan yang harus dilibatkan bersama massa rakyat (buruh, tani pemuda, kaum miskin nelayan, dsb)untuk menghancurkan sistem penindas. bila kekuatan ini mampu disatukan yakinlah bahwa revolusi mampu diwujudkan. kawan-kawan, kondisi bangsa ini selalu berdialektika, jadi meskipun soekarno, hatta, sjahri dll membuktikannya dengan merebut kemerdekaan dari tangan penjajah namun, harus dipahami bahwa kondisinya tidak selalu demikian. perjuangan saat ini tidak relevan lagi bilah masih menggunakan metode dimasa penjajahan fisik kolonialisme. harus ada meode baru yang lahir di era skarang dalam merebut kemerdekaan dari penjajahan imperialisme (neoliberalisme). maka, dibutuhkan peran mahasiswa dan massa rakyat yang sadar ketertindasan yang diikta dalam persatuan menuju indonesia baru tanpa penindasan. yang demikianlah yang akan mampu membawa perubahan.

  • Daniel Pratama Silaban

    sebuah pemikiran telah datang hancurkan rongga-rongga kepalsuan
    tak sabar menunggu datang’y kepastian panas d’hati sudah tak tertahankan
    kami muda punya harapan, kami mudah punya tujuan tuk membangun sebuah tatanan keadilan dan keseimbangan

    kami masih muda masih punya banyak cita-cita
    kami masih muda jelang esok penuh pesona