Aktivis Mahasiswa Chili Berharap Membongkar Sistem Dari Dalam

Camila Vallejo-Jackson.jpg

Dua tahun yang lalu, Giorgio Jackson merupakan yang terdepan dalam aksi protes terbesar di Chile pasca berakhirnya kediktatoran Pinochet, ketika ratusan ribu pelajar turun ke jalan untuk mendukung hak atas pendidikan gratis.

Sekarang pemuda berusia 26 tahun itu maju dalam pemilihan–satu dari sekelompok aktivis mahasiswa yang berharap bisa membuat lompatan dari garis depan aktivisme jalanan menuju kongres. Pemilu Kongres dan Presiden dijadwalkan berlangsung tanggal 17 November mendatang. Dan jajak pendapat menunjukkan bahwa Jackson, yang maju dari jalur independen melalui slogan “sekarang adalah waktunya!”, kemungkinan akan terpilih.

Dua aktivis lainnya, Camila Vallejo dan Karol Cariola, keduanya maju dari Partai Komunis, juga diharapkan akan terpilih. “Bagi kami yang berjuang dalam waktu yang panjang (untuk pendidikan)….adalah penting untuk menjadi aktor bukan penonton,” kata Jackson.

Dalam usaha mendorong pamor politiknya, banyak kampanye Jackson diarahkan oleh pembuat film Chile yang dinominasikan mendapat Oscar,  Pablo Larraín, yang juga menjadi sutradara film NO, sebuah film yang mendramatisasi kampanye di tahun 1988 untuk menendang Augusto Pinochet keluar dari jabatannya. Tetapi sistem pemilu di Chile menghukum kandidat yang tidak punya afiliasi partai sehingga kandidat seperti Jackson hanya harus berbicara singkat: Ia hanya diberi kesempatan 4 detik untuk muncul di TV.

Jika terpilih, para pemimpin gerakan mahasiswa ini akan menjadi yang terdepan menyambut/menghadapi gerakan sosial yang telah mengguncang panggung politik Chile sejak tiga tahun yang lalu. Bukan hanya mahasiswa, tetapi pemimpin serikat buruh dan aktivis lingkungan juga banyak yang bertarung di pemilihan dan berharap memberikan suara yang baru di kongres yang sudah lama dikuasai  oleh pendukung partai tradisional dan pelobi di belakang pintu.

Walaupun demokrasi sudah dipulihkan sejak tahun 1990, tetapi Undang-Undang pemilu masih terperosok dalam aturan yang diciptakan di bawah Pinochet untuk membantu sayap kanan memelihara pembagian kekuasaan yang tidak seimbang. Diktator ditunjuk sebagai “senator seumur hidup” dan pemimpin terkemuka angkatan bersenjata ‘ditunjuk sebagai senator’, yang memungkinkan keduanya bisa memveto semua reformasi di senat.

Sejumlah aturan pemilu di era Pinochet masih dipertahankan untuk mendistorsi demokrasi dan dipergunakan untuk mempersulit kandidat dari independen dan partai kecil bisa terpilih. Tetapi kekacauan dan pertikaian di dalam sayap kanan telah membuah koalisi Alianza yang memerintah tertatih-tatih sejak tahun lalu, membuka jalan bagi kembalinya sosialis Michelle Bachelet, Presiden perempuan pertama Chile yang memerintah dari tahun 2006 hingga 2010.

Bachelet, dokter penyakit anak yang baru-baru ini menempati jabatan di program perempuan PBB, diperkirakan akan memenangkan pemilihan Presiden dengan mudah dan popularitasnya akan membantu terpilihnya kandidat/caleg progressif yang kurang terkenal di seluruh Chili. “Ini adalah blok politik baru dari berbagai gerakan sosial yang berbeda untuk menjadi Front bersama,” kata Jackson. “Kami punya banyak isu yang bisa menyatukan kami.”

Camila Vallejo, bekas Presiden Federasi Mahasiswa Universitas Chile, mengatakan pemilihan untuk kongres dari mantan pemimpin gerakan mahasiswa “bukan hanya menunjukkan bahwa gerakan sosial harus bisa dan punya perwakilan sendiri di kongres, tapi ini juga memungkinkan….untuk menciptakan ruang politik yang memungkinkan kami membuat perubahan struktural sesuai tuntutan masyarakat kita.”

Dengan cincing perak yang menindik hidungnya dan kutipan berapi-api dari Karl Marx hingga Fidel Castro, Vallejo telah menjadi pahlawan rakyat modern Amerika Latin. Di Ibukota Chili, Santiago, galeri seni menjual lukiasan minyak bergambar dirinya, sementara pesan dukungan untuk dirinya menghiasai jalan-jalan.

Maju dari dari daerah pemilihan di kawasan pemukiman klas buruh La Florida, Vallejo memfokuskan kampanyenya pada reformasi pendidikan dan perombakan konstitusi peninggalan Pinochet. Disahkan pada tahun 1980, dokumen itu dianggap sudah usang dan merupakan bagian dari apa yang ia anggap perlu diubah melalui “revolusi demokratik”–sebuah rencana yang, menurutnya, akan didanai melalui pajak progressif dari korporasi (untuk pendidikan gratis) dan apa yang dikerjakannya masih dalam kerangka demokrasi konstitusional.

Keanggotaan Vallejo dalam partai komunis sudah lama menjadi target kritik dari para politisi dan komentator Chili. Tetapi efektivitasnya sebagai aktivis dan pemimpin gerakan mahasiswa membuatnya dihormati sebagai politisi 25 tahun dan khalayak pendengarnya di twitter mencapai 748,000 follower.

Tapi sayap kanan Chile meragukan Vallejo dan aktivitas politik barunya.

“Ini tipe baru dari kepemimpinan yang buruk bagi negeri,” kata Victor Pérez, seorang senator dari partai sayap kanan UDI (Perhimpunan Demokratik Independen). “Aku yakin bahwa mayoritas rakyat Chili akan menghukum bentuk politik, yang mana aspirasi warga dipermainkan dan kemajukan sosial bukan dijadikan tujuan melainkan hanya proyek personal.”

Jackson mengatakan bahwa mahasiswa berjuang untuk mengubah gaya pendidikan yang diterapkan di era kediktatoran Pinochet dan dipelihara oleh pemimpin sipil. Di bawah rezim militer seluruh subjek dilarang dan perwira senior angkatan darat ditempatkan mengetuai Universitas.

Bahkan setelah demokrasi dipulihkan, pejabat Chile tampak selain sebagai pengusaha pendidikan tinggi, banyak diantara mereka yang menyerupai “diploma pabrik” yang lebih fokus pada keuntungan ketimbang pendidikan.

Jackson berpendapat bahwa gerakan mahasiswa sedang berjuang melawan warisan privatisasi pendidikan yang memahami pendidikan bukan sebagai hak melainkan harus dibeli.

Camila Vallejo mengatakan pemerintah Chili sudah lama memperlakukan pendidikan sebagai komoditi segera mendistorsi tujuan dari pendidikan bukan untuk menghasilkan keuntungan serta menghasilkan segmentasi sosial ekonomi yang brutal. Dengan kata lain, anak-anak yang terlahir sebagai orang miskin akan menerima pendidikan buruk dan akan terus menjadi miskin.

Jonathan Franklin, reporter Guardian di Chile.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut