Mahasiswa Bergerak untuk Menangkan Pancasila

Pancasila sebagai penjaga arah bangsa tengah menghadapi banyak tantangan. Tidak hanya pasang politik sektarian yang mengedepankan perbedaan suku, agama dan ras, tetapi juga persoalan kemiskinan, ketimpangan ekonomi, dan konstruksi politik yang makin oligarkis.

Mencermati keadaan itu, Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) tidak tinggal diam. Apalagi, sebagai organisasi mahasiswa berazaskan Pancasila, sudah menjadi kewajiban bagi LMND untuk memperjuangkan tegaknya Pancasila.

Bernaung di bawah Posko Menangkan Pancasila, yang dimotori oleh Partai Rakyat Demokratik (PRD), LMND aktif membangun gerakan “Menangkan Pancasila”.

Mulai digencarkan sejak September 2017 lalu, gerakan ini menginginkan Pancasila diterapkan secara utuh. Tidak sebatas sebagai seruan merawat persatuan, tetapi tutup mata terhadap berbagai persoalan ekonomi, sosial dan politik yang memicu keterbelahan bangsa ini.

Sekretaris Jenderal LMND, Muhammad Asrul, berpandangan, pasang politik sektarian akhir-akhir ini tidak boleh dipisahkan dengan persoalan ekonomi, seperti kemiskinan dan ketimpangan sosial.

“Ada kaitan antara bangkitnya politik sektarian dan kemarahan atas situasi ekonomi yang tidak terespon oleh pemerintah maupun lembaga politik yang ada,” kata Asrul kepada berdikarionline.com, Kamis (18/1/2018).

Menurut alumnus Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar ini, kekecewaan terhadap situasi ekonomi, terutama yang dirugikan atau tidak terakomodasi dalam pembangunan, menjadi ruang terbuka bagi propaganda sektarian

Bahu-membahu bersama Posko Menangkan Pancasila, LMND yang kini hadir di hampir semua Provinsi di Indonesia sedang giat-giatnya mendirikan Posko. Banyak kantor LMND berfungsi sebagai posko.

Selain sebagai ruang diskusi dan konsolidasi, Posko itu juga siap menyingsingkan lengan baju untuk mengadvokasi persoalan-persoalan rakyat.

“Kita ingin menghadirkan Pancasila di tengah mereka yang dirugikan atau terbaikan oleh Negara,” kata Asrul.

Di beberapa tempat, ungkap Asrul, kader-kader LMND terlibat langsung dalam advokasi persoalan rakyat. Di Jakarta, mereka mengadvokasi rakyat miskin yang dirugikan oleh Surat Edaran Dinas Perhubungan DKI Jakarta perihal pemindahan operasional Bus Antar Kota dan Provinsi (AKAP) dari Jawa Tengah dan Jawa Timur ke terminal terpadu Pulogebang.

Begitu juga di tempat lain, seperti di Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, Maluku Utara, dan lain-lain.

“Kami ingin menunjukkan bahwa memenangkan Pancasila itu tidak cukup dengan seruan, seminar-seminar, tetapi perlu menghadirkan Pancasila dalam menyelesaikan persoalan yang dihadapi rakyat,” paparnya.

Tetapi supaya gerakan ini makin bergaung, LMND bersama Posko Nasional Menangkan Pancasila berencana menggelar acara Parade pada akhir Januari ini.

Parade yang dikemas dalam bentuk pawai budaya itu akan mengusung isu besar yang tengah hangat di tengah-tengah rakyat sekarang ini, yakni harga kebutuhan pokok.

“Kita menaruh perhatian terhadap kenaikan harga kebutuhan pokok hari-hari ini, karena itu menyangkut hajat hidup rakyat banyak,” kata Koordinator Nasional Posko Menangkan Pancasila, Ahmad Rifai.

Wakil Sekretaris Jenderal Komite Pimpinan Pusat PRD ini menilai, beberapa kebijakan pemerintah yang melepas tata-niaga barang kebutuhan pokok ke mekanisme pasar, baik komiditas energi maupun pangan, telah memicu lonjakan harga yang sangat tinggi.

Akibatnya, banyak masyarakat berpendapatan menengah ke bawah kesulitan mengakses kebutuhan dasarnya. Seperti terekam oleh survei Indikator Politik Indonesia pada Oktober 2017, bahwa 43 persen respondennya merasa semakin berat untuk memenuhi kebutuhan dasarnya.

Rifai menegaskan, kampanye gencar soal Pancasila akhir-akhir ini, terutama yang dimotori oleh pemerintah, belum menyentuh ke persoalan-persoalan mendasar rakyat.

“Pancasila kembali digaungkan, tapi belum dihadirkan untuk menjawab persoalan rakyat. Jadi terasa hambar,” ujarnya.

Menangkan Pancasila sebagai Platform Gerakan

LMND punya ambisi besar mengembalikan kampus sebagai panggung pergerakan. Seperti dulu, kampus penuh riuh rendah diskusi, pentas budaya, mimbar bebas, nonton film, hingga beradu ketajaman buah pikiran di majalah kampus.

Memang, sejak neoliberalisme merambah kampus, panggung gerakan pelan-pelan meredup. Selain karena faktor internal gerakan mahasiswa yang gagal mengantisipasi perkembangan baru, khususnya neoliberalisme, dengan metode dan teknik-teknik pengorganisiran yang baru. Juga karena dampak langsung dari neoliberalisme itu sendiri, dengan disiplin ala pasarnya, yang membersihkan kampus dari aktivisme politik dan pikiran-pikiran radikal-progressif.

Menghadapi situasi itu, LMND berharap gerakan “Menangkan Pancasila” ini bisa memberi semangat baru bagi pergerakan mahasiswa.

“Setidaknya ini bisa menjadi platform bersama gerakan mahasiswa,” terang Ketua Umum LMND, Indrayani Razak.

Menurut alumnus FISIP Universitas Tadulako Palu ini, salah satu persoalan yang semakin mendisorientasi gerakan mahasiswa yang sekarang ini adalah ketiadaan platform bersama.

Dia berharap, isu “menangkan Pancasila” bisa diterima sebagai platform bersama. Apalagi, seiring dengan menguatnya politik sektarian, kampus dan banyak organisasi mahasiswa yang menggaungkan Pancasila.

“Hanya saja, mereka bicara Pancasila untuk merawat keragaman, tetapi abai terhadap persoalan kemiskinan dan ketimpangan yang menjadi lahan subur bangkitnya politik sektarian itu,” tuturnya.

Karena itu, LMND mulai menghidupkan diskusi-diskusi soal Pancasila di kampus. Selain itu, sejak awal Januari lalu, organisasi yang berdiri pada Juli 1999 ini mulai menggelar aksi-aksi pemanasan untuk parade Menangkan Pancasila.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut