Lula, Presiden Paling Populer Dalam Sejarah Brazil

Dia tiga kali menjadi kandidat presiden, yaitu 1989, 1994, dan 1998, namun semuanya gagal. Itu tidak membuat dirinya dan partainya patah harapan. Pada tanggal 27 Oktober 2002, dia yang dikenal secara luas dengan panggilan “Lula” berhasil menaklukkan kekuasaan politik tertinggi di Brazil.

Luiz Inácio “Lula” da Silva resmi menjadi presiden Brasil pada tanggal 1 januari 2003, setelah mengumpulkan suara sebesar 46,4% suara, dan mengalahkan kandidat dari sayap kanan, José Serra, dari Partai Konservatif Demokrasi Sosial Brasil (PSDB).

Untuk pertama kalinya dalam sejarah politik Brazil, tokoh gerakan sosial Lula Da Silva, yang juga bekas buruh pabrik, sektor sosial yang lama dikeluarkan dalam sistim politik di negeri ini, berhasil masuk dalam pusat kekuasaan politik. Sejarah politik brazil, meminjam istilah Gullermo O Donnel, adalah sejarah “penyingkiran sosial”.

Ketika naik ke kursi presiden, Lula menghadapi sebuah kenyataan-kenyataan yang sulit sekali, seperti utang besar warisan rejim neoliberal sebelumnya, ketergantungan besar terhadap finansial asing, distribusi tanah yang timpang, distribusi pendapatan yang sangat melebar, dan berbagai warisan buruk akibat perampokan berates-ratus oleh imperialis terhadap negeri ini.

Belum lagi, kemenangan electoral memberinya jangkauan politik yang sangat terbatas, terutama dalam melakukan transformasi yang radikal. Karena itu, ada banyak pengamat politik yang menyebut Lula sebagai “sandera” dari sistim politik resmi di Brazil.

Dia pernah menjelaskan situasi di awal pemerintahannya; “Negara tak punya kredit, tidak ada modal kerja, pembiayaan, atau distribusi pendapatan. Kapitalisme macam apa itu? Sebuah kapitalisme tanpa capital. Sehingga saya memutuskan untuk membangun kapitalisme terlebih dahulu, setelah itu menuju sosialisme, dan baru kami mendistribusikan apa yang sudah dihasilkan.”

Tidak mengherankan, Lula akhirnya harus menerima uluran tangan dari lembaga-lembaga imperialis, seperti IMF dan Bank Dunia, serta menjalankan resep mereka dalam ukuran tertentu. Lula banyak dikecam oleh rekan-rekan kirinya di dalam partai sebagai “pemerintahan buruh yang anti-buruh”, juga oleh gerakan-gerakan kiri di berbagai tempat, termasuk analis politik radikal.

Bagi kiri jauh, termasuk dalam hal ini Partai Sosialisme dan kebebasan (PSOL), rejim Lula telah bergeser ke kanan, ketika mengikuti anjuran Dana Moneter Internasional (IMF). Apa yang paling mengejutkan, kata Francisco de Oliveira, yang juga merupakan salah satu pendiri PSOL, bahwa pemerintahan Lula tidak berbeda dengan pemerintahan neoliberal sebelumnya, dan gagal memanfaatkan dukungan dari basis pekerja dan petani tak bertanah (MST) untuk mendorong perubahan radikal, terutama reformasi agraria.

Namun, para pengeritik itu terkadang tidak melihat realitas politik yang mengantarkan lula ke puncak kekuasaan dan tantangan dalam sistim politik Brazil sendiri. Meskipun Lula berhasil memenangkan dukungan dalam pemilu 2002 dengan perolehan suara yang cukup besar, bahkan lebih besar dari perolehan Chavez pada tahun 1998, kita tidak boleh melupakan bahwa kemenangan Lula merupakan produk dari kebijakan aliansi yang lebar, yang dibutuhkan untuk memenangkan kotak suara, yang tanpa itu Lula tidak akan pernah bisa memerintah negeri ini. Kita harus mengingat bahwa Partai Buruh, partainya Lula da Silva, adalah minoritas di parlemen, bahkan kalaupun PT pernah mengontrol sejumlah walikota, keberadaannya tetap minoritas di panggung politik nasional.

Selain itu, seperti dicatat Marta Harnecker, Brazil merupakan salah satu negara Amerika Latin yang paling bergantung pada kapital internasional, sangat berbeda dengan Venezula yang punya pendapatan cukup besar dari minyak. Lebih jauh lagi, Lula tidak menikmati dukungan massif dari angkatan bersenjata, seperti yang dinikmati oleh Chavez dan revolusi Bolivarian. Pendek kata, seperti dikatakan Valter Pomar, Kepala departemen hubungan internasional PT, bahwa “tidak ada korelasi kekuatan, mekanisme institusional dan situasi ekonomi” yang memungkinkan pemerintahan Brasil “untuk beroperasi dengan cara yang menyerupai pemerintahan Venezuela.”

Kendati begitu, prestasi ekonomi Lula tidaklah terlalu buruk, bahkan banyak yang memuji prestasinya semasa dua periode memerintah. seorang koresponden Der Spiegel, Jens Glüsing, “hari ini Brazil (B) telah menjadi bintang bagi bangsa yang disebut BRIC. Brasil saat ini tumbuh lebih cepat dari Rusia dan, tidak seperti India, tidak menderita dari konflik etnis atau sengketa perbatasan. Negara dari 192 juta orang memiliki pasar domestik yang stabil, dengan ekspor – mobil dan pesawat, kedelai dan bijih besi, pulp, gula, kopi dan daging sapi – membuat hanya 13 persen dari PDB.”

William Gonçalves, seorang professor di University of Rio de Janeiro, mengungkapkan, “Lula adalah rakyat. Dia mengerti kebutuhan mereka dan berbicara dengan bahasa mereka.” Menurutnya, Lula mungkin membuat kesalahan, lantaran latar belakang pendidiknya yang hanya SD dan lain-lain, tetapi itu tidak pernah merusak image yang baik di mata rakyat.

Dia berusaha menciptakan program yang menjembatani antara kaum miskin dan kaya, Bolsa Família, yang dilaksanakan segera setelah dia menjabat, dan menurut pemerintah, menjangkau sedikitnya 12,7 juta rumah tangga miskin dengan uang, makanan, perawatan medis dan pendidikan anak-anak.. Program ini memberikan kepada keluarga miskin subsidi bulanan antara 22 dan 200 reais per anak (sekitar US $ 12 sampai $ 117).

Berkat kebijakannya, seperti direlease oleh Center of Social Policy at the Getulio Vargas Foundation (CPS-FGV), sedikitnya 30 juta orang masuk dalam jajaran kelas menengah (middle class) dan 19 juta rakyat berhasil keluar dari kemiskinan.

Selama bertahun-tahun, Brazil selalu dianggap negara yang sangat rentan dengan berbagai penyakit ekonomi, termasuk krisis. Namun, pada tahun 2009, ketika dunia mengalami krisis besar dalam 80 tahun terakhir, Brazil justru berhasil bertahan dan menambahkan lapangan pekerjaan baru.

Selain program Bolsa familia, pemerintahan Lula juga berhasil menaikkan upah minimum dan uang bagi pensiunan.

Di bidang politik, meskipun tidak mengalami benturan apapun dengan AS, namun tidak diragukan lagi bahwa Washington (baik Busuh maupun Obama) sangat terganggu dengan sikap berdaulatan dan kemandirian Lula yang dilakukan Lula saat berhubungan dengan Kuba, mengutuk kudeta militer di Honduras, mendukung perjuangan rakyat Palestina, dan sikapnya soal “nuklir” Iran.

Dan, popularitas Lula di mata rakyatnya tidak sekedar tergambar dalam image ataupun asumsi, tetapi bisa juga dilihat dalam tingkat penerimaan rakyat Brazil terhadap pemerintahannya yang, menurut survei terbaru oleh pengumpul suara Datafolho, mencapai 80% dari keseluruhan populasi.

Survey lainnya, dari CNI-IBOPE, menunjukkan bahwa hanya sedikit sekali warga Brazil yang hendak menentang lula, yaitu kurang lebih 10%. Tentunya, popularitas ini akan menjadi “kredit” menguntungkan bagi kandidat presiden Partai Buruh (PT), Dilma Rousseff, dalam pemilihan mendatang. Semoga! (Rh)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut