Menggugat Sistem Perkeretaapian Indonesia

Dua bulan yang lalu (06/08), Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementrian Perhubungan Hermanto Dwi Atmanto menyampaikan bahwa statistik kecelakaan Kereta Api mengalami penurunan. Dikatakannya, statistik kecelakaan Kereta Api tahun 2007 sebanyak 159 kejadian, tahun 2008 sebanyak147 kejadian, tahun 2009 sebanyak 90 kejadian dan hingga akhir Juli 2010 hanya ada 32 kejadian.

Akan tetapi, angka statistik tersebut hanya sebuah hiburan sementara, sebab kita kembali tersontak menyaksikan kecelakaan keretapi api yang lebih tragis dan memilukan, dengan dua kecelakaan di waktu yang hampir bersamaan, yaitu di Pemalang dan Solo, Jawa Tengah. Bahkan, kecelakaan Kereta Api di Pemalang adalah kecelakan terbesar kereta api sepanjang 10 tahun terakhir ini, dengan 35 korban tewas dan puluhan luka-luka. Dalam tragedi memilukan ini, orang miskin, yakni orang-orang yang selalu terdiskriminasi dalam hal pelayanan kereta api, kembali menjadi korban dalam kecelakaan ini.

Seolah-olah hendak menghapus dosa, pihak pemerintah buru-buru meminta maaf kepada rakyat, dan sekaligus menjanjikan santunan kepada keluarga korban dan menanggung keseluruhan biaya rumah sakit.

Namun, apakah permohonan maaf dan santunan sudah cukup untuk menghapus duka atas para anggota keluarga karena buruknya sebuah sistim perkereta-apian?

Kereta api merupakan salah satu sarana transportasi utama bagi rakyat. Meskipun begitu, pengelolaan sistim perkereta-apian Indonesia belum akrab dengan rakyat miskin, yang menjadi pelanggan terbesarnya. Buktinya, orang miskin diperlakukan seperti tumpukan barang atau hewan di kereta-kereta ekonomi, dan itu hampir dianggap sebagai hal yang biasa.

Di kereta ekonomi, anda bisa menyaksikan WC pun menjadi tempat tidur yang empuk bagi penumpang kere ini. Badan manusia bisa saling tindih-menindih, sementara para lansia, ibu hamil, orang cacat, dan balita tak mendapatkan perlakuan khusus.

Jika menumpang kereta ekonomi, anda jangan berharap mendapatkan “senyum” yang manis seperti di layanan lainnya, eksekutif dan bisnis. Bukan cuma itu, anda pun harus bersiap dengan situasi-situasi tidak normal seperti pelecehan seksual, kriminalitas, dan lain-lain.

Ini menunjukkan bahwa, diskriminasi yang sudah terjadi sejak lama dan begitu subur di jaman kolonial, masih dilestarikan dalam segala aspek kehidupan masyarakat Indonesia hingga kini, termasuk dalam menjadi penumpang kereta api. Cerita diskriminatif pelayanan kereta api ini pernah direkam oleh Pramoedya Ananta Toer dalam novelnya, yang mengisahkan Minke naik kereta api kelas satu, yaitu kelas putih, nyaman dan longgar. Sementara lawannya adalah kelas hijau, yang penuh sesak dan sangat tidak nyaman.

Pengamat perkertaapian dari Lembaga Ilmu dan Pengetahuan Indonesia (LIPI) Taufik Hidayat mengatakan bahwa mulai dari regulasi, teknis, manajerial, operasional hingga kedisiplinan para pegawainya sudah sangat parah. Hal tersebut bisa dilihat dari analisa kecelakaan yang disebabkan oleh sarana, seperti pengereman tidak bekerja baik, pembebanan tidak merata, kelebihan beban, kurangnya perawatan, tidak memakai suku cadang standar, kerusakan pada as dan roda dll selain kesalahan manusia seperti salah perhitungan hingga kelalaian.

Dengan berbagai kenyataan di atas, pernyataan maaf saja tidak akan cukup untuk menutupi dosa-dosa pemerintah atas berjatuhannya korban dalam pelayanan kereta api. Lebih dari itu, kami menganjurkan pemerintah untuk melakukan perubahan besar-besaran; menghapuskan diskriminasi pelayanan, memperbanyak jumlah kereta api dengan kualitas bagus, memperbaikan dan menambah jumlah rel, memperbaiki fasilitas pendukung, dan jaminan keamanan bagi para penumpang.

Harus ada perombakan sistem secara keseluruhan mulai dari reformasi birokrasi pengelola pengkeretaapian, penambahan sarana dan prasarana kereta api; peremajaan dsb sampai dengan membangun industri pengkeretaapian itu sendiri, agar di masa datang tidak selalu tergantung dengan negara-negara asing.

Rakyat butuh transportasi massal dan murah, tetapi fasilitas dan kualitasnya pelayanannya bersifat modern!

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut