Lima Puluhan Petani Mogok Makan Di Depan Kantor Menteri Kehutanan

Meskipun tidak terlalu panas, tetapi udara di depan kantor Menhut cukup membuat badan berkeringat. Di depan pintu gerbang yang sudah tergembok, lima puluhan petani sudah duduk beralaskan karpet tipis. Mulut mereka sudah ditutup dengan lakban warna hitam.

Itulah suasana aksi mogok makan yang digelar oleh lima puluhan petani di depan Kantor Menteri Kehutanan, siang tadi (25/4). Para petani itu berasal dari Pulau Padang, Kepulauan Meranti, Provinsi Riau. Seluruh petani itu juga adalah anggota Serikat Tani Riau (STR), sebuah organisasi tani lokal yang bernaung di bawah Serikat Tani Nasional (STN).

Bendera STR pun tertancap di sekitar peserta mogok makan, diapit oleh bendera STN dan bendera Partai Rakyat Demokratik (PRD). Selain para petani yang menggelar mogok makan, hadir pula puluhan mahasiswa dari Ikatan Pelajar Mahasiswa Riau (IPMR). “Selamat datang para pejuang masyarakat kepulauan Meranti,” demikian bunyi spanduk kecil yang di pasang oleh mahasiswa.

Tepat di atas pintu gerbang, sebuah baliho berukuran cukup besar sudah terpasang dengan ditopang oleh dua bambu besar. Baliho itu berisikan gambar peta tentang Pulau Padang sebelum kedatangan RAPP dan sesudah kedatangan RAPP.

Cabut SK Menhut terkait ijin HTI di Kepulauan Meranti

Tuntutan utama yang disuarakan petani adalah pencabutan SK Menhut nomor 327 tahun 2009 tentang ijin Hutan Tanaman Industri (HTI) kepada PT. Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP).

“Kalau Menhut tidak mencabut SK tersebut, maka Pulau Padang terancam akan tenggelam secara keseluruhan,” kata Muhamad Riduan, ketua STR kabupaten Kepulauan Meranti.

Menurut Riduan, selain menyebabkan pengrusakan lingkungan dan ancaman tenggelamnya sebuah pulau, kehadiran PT.RAPP juga berpotensi menyebabkan terjadinya perampasan tanah milik rakyat. “PT. RAPP belum punya tapal batas yang jelas sampai sekarang,” katanya.

Meski tidak ada sambutan dari kementerian kehutanan, tetapi para peserta mogok makan tetap bersemangat. Sekjend STN, Wiwid Widyanarko, berusaha memberikan dorongan moral kepada para petani untuk tetap semangat dalam berjuang. “Kita jangan mundur meski diabaikan, tetapi mari melipatgandakan kekuatan untuk membuat mereka mendengar kita,” katan Wiwik saat berorasi.

Aksi mogok makan para petani ini mendapat dukungan langsung dari Serikat Tani Nasional (STN), Partai Rakyat Demokratik, dan Ikatan Pelajar Mahasiswa Riau (IPMR).

Sayang sekali, ketika para petani menggelar aksi mogok makan, Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan justru tidak ada di tempat. “Beliau sedang tidak berada di tempat, sedang berada di pulau Batang,” kata seorang petugas security Kemenhut.

Meski begitu, seorang petugas keamanan sempat memperlihatkan salinan surat panggilan Kemenhut kepada Pemkab Kepulauan Meranti. “Ini sudah dipanggil, jadwalnya hari kamis,” kata petugas keamanan itu.

Hendak dibubarkan polisi

Meskipun aksi ini berjalan secara damai dan tertib, tetapi pihak Kepolisian tetap berkeinginan untuk membubarkan aksi mogok makan ini. “Polisi beralasan bahwa aksi kami tidak disertai surat pemberitahuan,” kata Yudi Budi Wibowo menjelaskan kepada Berdikari Online.

Bahkan, Polisi memberikan ultimatum hingga pukul 18.00 WIB kepada para peserta untuk meninggalkan tempat. Akhirnya, setelah melalui negosiasi panjang dan keras, puluhan massa petani ini diangkut dari lokasi mogok makan ke markas STN.

Meski aksi hari pertama dipaksa bubar, tetapi pihak STN akan tetap menggelar aksi-aksi selanjutnya di tempat ini. “kami akan tetap menggelar aksi besok-besok, apapun yang terjadi. Sampai tuntutan kami dipenuhi,” ujar Riduan.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • abay

    memang kondisi negara masih dipimpin kaum kapitalisme , jd mau gk mau harus tetap berjuang untuk memperlihatkan eksistensi rakyat yang peduli … !!
    merdeka .. !!!!