5 Fakta tentang Situasi Venezuela Hari Ini

Sudah hampir dua bulan Venezuela jalan-jalan besar di Venezuela jadi palagan kekerasan. Demonstrasi yang dimotori oleh kelompok oposisi sengaja menyulut kekerasan.

Demonstrasi itu sudah memakan 65 korban jiwa dan ratusan lainnya terluka. Banyak fasilitas dan layanan publik, seperti angkutan umum, klinik kesehatan, toko sembako, rambu lalu-lintas, tidak luput dari aksi vandalisme oposisi.

Namun, demonstrasi itu juga menjadi menu paling bergizi bagi media-media arus utama, terutama yang berbasis di Amerika Serikat, Inggris dan Spanyol, untuk membuat pemberitaan tidak berimbang dan mendiskreditkan pemerintah Venezuela.

Mungkin pemerintahan Venezuela punya banyak kesalahan, tetapi tidak seburuk yang digambarkan media-media yang menjadi terompet-terompet imperialis itu.

Berikut ini 5 fakta tentang situasi di Venezuela:

Kekerasan sebagai jalan

Tanggal 14 April 2013, sebulah setelah Hugo Chavez meninggal, Venezuela menggelar pemilu demokratis. Hasilnya, Nicolas Maduro, seorang politisi sosialis pengikut Chavez, memenangkan pemilu dengan perolehan suara 50,66 persen.

Tetapi oposisi tidak terima kekalahan itu. Mereka menggelar aksi protes di seantero negeri. Ironisnya, aksi protes itu disertai penggunaan kekerasan: membakar klinik kesehatan, menjarah dan merusak toko sembako murah, menyerang markas partai berkuasa, merusak angkutan umum, menyerang penduduk sipil, dan lain-lain.

Lebih ironis lagi, rupanya jalan kekerasan itu terus dipakai oleh oposisi. Termasuk dalam protes besar yang meletus pada Februari-Maret 2014. Disamping merusak banyak fasilitas publik, aksi kekerasan oposisi menyebabkan 43 orang tewas dan 800-an lainnya terluka.

Begitu juga dengan aksi protes yang terbaru. Sejak protes tanggal 4 April lalu hingga 26 Mei 2017, sudah ada 65 korban tewas versi venezuanalysis.com dan 71 orang versi teleSUR. Dari jumlah itu, sekitar 17 orang diantaranya adalah orang yang kebetulan berada di sekitar aksi protes. Kemudian ada 14 orang tewas saat aksi penjarahan oleh oposisi dan 8 orang yang tewas karena aksi barikade oleh oposisi. Lalu ada 4 aparat kepolisian dan 6 orang chavista (aktivis pendukung pemerintah). Jadi, sebagian besar korban adalah akibat aksi kekerasan oposisi sendiri.

Demonstran oposisi ini, selain bersenjatakan molotov, ada yang bersenjata api. Bahkan sebuah video menunjukkan oposisi menggunakan senjata laras panjang. Bahkan oposisi punya sniper di atas gedung tinggi yang menyasar aparat keamanan dan aktivis pendukung pemerintah.

Malahan, pada 21 April 2017, kelompok oposisi menyerang sebuah rumah sakit Ibu dan Anak di El Valle, Caracas. Semua pasien, termasuk 28 bayi yang baru lahir, terpaksa dievakuasi dari rumah sakit tersebut.

Sayangnya, media-media barat tidak banyak memotret aksi kekerasan oposisi. Sebaliknya, mereka menampilkan aksi-aksi oposisi yang baik-baik, seperti pawai besar hingga kerumunan oposisi yang ditembaki gas air mata. Beberapa media barat menunjukkan demo oposisi dengan poster “sudahi kediktatoran” dan “keadilan untuk tahanan politik”. Beberapa foto juga memperlihatkan adegan demonstran oposisi menyerahkan bunga ke polisi sambil menangis.

Lebih ironis lagi, media-media barat tidak pernah mengabarkan demo-demo besar pendukung pemerintah.

Muncul pertanyaan, kenapa oposisi ngotot menggunakan jalan kekerasan? Pertama, untuk menciptakan situasi “chaos” sekaligus melemahkan institusi pemerintah. Dan kedua, menciptakan ketidakamanan dan ketakutan untuk menakuti rakyat banyak.

Ujung dari dua target itu adalah kondisi mesin negara yang gagal/tidak berfungsi dan rakyat yang tidak nyaman dalam situasi chaos dan ketakutan. Akhirnya, kondisi itu memberi legitimasi untuk pelengseran pemerintahan Nicolas Maduro.

Protes kaum oligarki

Demonstrasi di Venezuela bernuansa kelas. Mereka yang menggelar aksi protes hari ini berasal dari lapisan kelas menengah dan kelas atas/elit. Sementara lapisan bawah, baik pekerja, kaum miskin perkotaan, dan petani, tetap bekerja dan tidak terseret dalam aksi protes ini.

Ini adalah perlawanan kaum elit, yang dirugikan oleh revolusi Bolivarian yang sudah 18 tahun merombak struktur ekonomi dan politik Venezuela yang tidak demokratis. Mereka-lah yang menguasai ekonomi dan politik negeri kaya minyak itu.

Kaum oposisi Venezuela berasal dari beragam spektrum. Pertama, ada partai Primero Justicia (Keadilan Pertama) yang dipimpin oleh Henrique Capriles Radonski dan Julio Borges. Radonski adalah politisi dari keluarga kaya-raya. Dia pernah menjadi Gubernur Negara Bagian Miranda (2008-sekarang). Dia dua kali maju sebagai Calon Presiden mewakili oposisi, tapi kalah. Pertama dia kalah di pemilu Presiden 2012 oleh Chavez. Lalu kalah lagi di pemilu Presiden tahun 2013 oleh Nicolas Maduro. Di kalangan oposisi, Capriles dianggap tokoh terpenting sekaligus pemersatu.

Kedua, Voluntad Popular (Kehendak Rakyat) yang dipimpin oleh Leopoldo Lopez. Lopez berasal dari keluarga kaya dan aristokrat Venezuela. Dia pernah mengenyam pendidikan di Princenton dan Harvard University. Sebelum revolusi, Lopez sempat bekerja di perusahaan minyak negara, PDVSA. Waktu kudeta terhadap Chavez di tahun 2002, dia terlibat. Tahun 2014, dia memimpin aksi kekerasan untuk menggulingkan Maduro. Aksi itu menyebabkan 43 orang tewas dan 800-an terluka. Lantaran itu, Lopez ditangkap dan dipenjara hingga kini.

Ketiga, Acción Democrática (Aksi Demokrasi), sebuah partai politik kanan tertua yang berdiri sejak 1941. Partai ini bersama dua partai borjuis lainnya, COPEI dan URD, yang silih-berganti memimpin Venezuela sejak 1940-an hingga 1998. Partai ini sekarang dipimpin oleh Henry Ramos Allup, seorang politisi anti-Chavez.

Keempat, Vente Venezuela (Venezuela Tiba), partai kanan-liberal yang dipimpin oleh María Corina Machado. Machado dikenal sangat dekat politisi Partai Republik Amerika Serikat. Dia terlibat dalam kudeta terhadap Chavez di tahun 2002.

Semua partai dan tokoh oposisi itu disatukan di bawah partai payung elektoral bernama Meja Bundar Kesatuan Demokratik/ Democratic Unity Roundtable (MUD). Tahun 2015, MUD menang besar di pemilu parlemen. Lebih dari separuh kursi parlemen Venezuela, yang disebut juga Majelis Nasional, dikuasai oleh politisi MUD.

Sejak itulah parlemen menjadi alat oposisi untuk menggoyang pemerintahan Maduro. Mulai dari menggalang referendum pemakzulan, pengadilan parlemen, hingga melucuti berbagai kebijakan progressif pemerintahan Maduro.

Dosa warisan neoliberalisme

Venezuela memang tengah dirundung kesulitan ekonomi. Minyak, yang menjadi jantung ekonomi negeri berpenduduk 33 juta jiwa itu, tengah jatuh harga di pasar dunia.

Media-media barat, yang selama ini jadi terompet kapitalis global, tidak menyia-nyiakan kesempatan. Mereka berkhotbah bahwa sosialisme telah gagal di Venezuela. Bahwa sosialisme merek baru, Sosialisme Abad 21, sedang bertungkus lumus dalam kebangkrutan ekonomi.

Tetapi khotbah itu tidak sepenuhnya betul. Perkawinan antara warisan kolonialisme dari masa lampau dan neoliberalisme yang mulai massif sejak 1980an berkontribusi besar membuat Venezuela tercekik penyakit ekonomi yang disebut “penyakit Belanda” (Dutch Disease). Istilah yang diperkenalkan oleh majalah The Economist tahun 1977 itu merujuk pada negara yang menggantungkan ekonominya pada sektor tertentu dan mengabaikan sektor lain.

Sejak 1920-an, Negara ini menikmati berkah minyak. Seiring dengan itu, sektor pertaniannya pelan-pelan merosot, sedang industrinya tidak terbangun. Berkah minyak membuat orang-orang berebut ke kota. Ini yang menyebabkan Venezuela menjadi negara paling urban di dunia: hampir 90 persen penduduknya tinggal di kota.

Ini membawa masalah. Sektor pertanian ditinggalkan. Sektor industri juga tidak terbangun. Akibatnya, hampir semua kebutuhan pangan dan barang-barang kebutuhan pokok negeri itu diimpor dari luar.

Waktu Hugo Chavez berkuasa di 1999-2013, dia menyadari hal itu. Karena itu, dia mendorong diversifikasi ekonomi. Pertanian dibenahi kembali melalui reforma agraria. Sektor industri juga mulai dibenahi. Tetapi memang butuh waktu tidak singkat.

Dan pembenahan itu belum usai, harga minyak dunia terjun bebas. Nestapa itu pun datang. Hampir 90 persen penerimaan Venezuela berasal dari minyak. Begitu harga minyak terjun bebas, negara ini kehilangan sumber pendapatan terbesarnya.

Peran Amerika Serikat

Sejak Chavez menggiring politik Venezuela ke kiri, yang mempengaruhi kepentingan Amerika Serikat secara domestik dan regional, negeri Paman Sam mengusung politik permusuhan dengan pemerintahan Bolivarian di Venezuela.

Tahun 2002, AS terlibat dalam kudeta terhadap pemerintahan Chavez. Beruntung, kudeta yang dipimpin oleh pengusaha bernama Pedro Carmona itu berhasil dipatahkan oleh rakyat dan militer yang loyal terhadap Chavez.

Pasca kudeta gagal itu, upaya AS untuk mendorong “regime change” di Venezuela tidak berhenti. Sejak itu AS menggelontorkan dana jutaan dollar untuk mendanai oposisi Venezuela. Dana-dana itu disalurkan melalui lembaga seperti Development Alternatives, Inc DAI (sejak 2002), the Pan-American Development Foundation PADF (sejak 2005), the International Republican Institute IRI (sejak 2002), the National Democratic Institute-NDI (sejak 2002), Freedom House (sejak 2004), USAID (sejak 2002), National Endowment for Democracy (NED) dan the Open Society Institute (sejak 2006).

Seperti yang dibocorkan Wikileaks, USAID menggelontorkan 15 juta USD kepada 300-an organisasi sipil di Venezuela antara 2004-2006, dengan dalih advokasi HAM dan pendidikan.

Eva Golinger, seorang penulis kelahiran AS, menyebut AS menggelontorkan dana sebesar 100 juta USD via USAID dan NED untuk membiayai aksi-aksi oposisi dan mendanai kampanye media yang mendiskreditkan pemerintah Venezuela (Lihat teleSUR).

Dan sekarang ini, Senat AS sedang mendiskusikan sebuah Rancangan Undang-Undang (RUU) yang mengatasnamakan bantuan kemanusiaan dan promosi demokrasi di Venezuela. RUU menyetujui penggunaan anggaran sebesar 20 juta USD untuk mendorong “regime change” di Venezuela.

Dijepit Perang Ekonomi

Media-media arus utama getol mengangkat isu kelangkaan barang-barang kebutuhan pokok sebagai senjata pamungkas untuk memberikan pukulan telak di jantung kegagalan sistim sosialisme di Venezuela.

Tidak jarang, digambarkan bahwa rakyat Venezuela diambang kelaparan massal. Lengkap dengan foto-foto yang menggambarkan antrean panjang orang-orang di depan toko-toko penyedia bahan kebutuhan pokok.

Kami tidak menyangkal bahwa ada persoalan kelangkaan barang pokok di Venezuela. Tetapi apakah ini murni kesalahan dari pemerintahan Bolivarian? Apakah ini murni karena ketidakbecusan sistim ekonomi sosialis?

Pertama, ketergantungan Venezuela terhadap kebutuhan pokok, baik yang dihasilkan oleh industri maupun pertanian, banyak disebabkan oleh warisan ekonomi kolonial dan neoliberal di masa lalu yang bergantung penuh pada ekonomi minyak. Ketika ekonomi bertumpu sepenuhnya ke minyak, sektor lain ditinggalkan, termasuk pertanian dan industri. Akibatnya, sebagian besar kebutuhan pokok rakyat Venezuela diperoleh melalui impor.

Kedua, oposisi Venezuela menjalankan “perang ekonomi” untuk menciptakan situasi ketidakpuasan rakyat banyak, terutama kelas menengah ke bawah, terhadap situasi ekonomi.

Perang ekonomi ini dilakukan, antara lain: pertama, memanipulasi nilai tukar mata uang untuk mendapatkan keuntungan sekaligus memukul mata uang Bolivar; kedua, menciptakan kelangkaan barang kebutuhan pokok melalui aksi penimbunan, penghentian produksi, sabotase, penyelundupan dan lain-lain (lihat laporan teleSUR di sini).

Model “perang ekonomi” ini bukan strategi baru. Ini pernah diterapkan terhadap pemerintahan sosialis Salvador Allende di Chile tahun 1970-an (tonton di sini).

Yang sering diabaikan oleh media arus utama, bahwa untuk memastikan pemenuhan hak dasar rakyat, selama satu dekade lebih pemerintahan Bolivarian menciptakan banyak sekali program sosial, seperti pendidikan gratis, kesehatan gratis, penyediaan pangan bersubsidi, proyek perumahan terjangkau, dan lain-lain.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Muhammad D.A

    Sangat memperhatinkan semoga tidak terjadi pertumpahan yang lebih besar ada solusi terbaik bagi bangsa dan rakyat mulia Venezuela.