Libya Setelah Khadafi?

Era rejim khadafi sudah berakhir sekarang. Obama mengatakan itu ketika mendengar pemberontak Libya sudah kuasai Tripoli. Yang berpesta bukan hanya orang-orang di Benghazi, tetapi juga para pemimpin barat dan para bos minyak.

Sebuah pemerintahan sementara telah dibentuk: Dewan Transisi Nasional (TNC). Liga Arab segera mengeluarkan dukungan kepada TNC. Sedangkan para pemimpin Uni-Afrika masih menolak mengakui TNC. Para pemimpin Afrika enggan disetir dan diperalat terus-menerus oleh barat.

Sebetulnya, era Khadafi belum betul-betul berakhir. Di sana sini masih terjadi pertempuran sengit antara aliansi pemberontak-NATO melawan pendukung setia Muammar Khadafi. Bahkan, kalaupun pemberontak mengusai seluruh Libya dan Khadafi ditangkap, perlawanan rakyat Libya tidak secepat itu berakhir. Libya akan menjadi seperti Irak atau Afghanistan sekarang.

Tetapi, barat dan sekutu lokalnya (TNC) sudah berpesta duluan. Mereka segera akan memulai apa yang disebut  ‘transisi politik menuju Libya yang bebas dan demokratis’. Retorika itu juga digunakan saat barat menjatuhkan Saddam Husein di Irak dan menggempur Taliban di Afghanistan.

Siapa Dewan Transisi Nasional (TNC)?

TNC dibentuk pada 17 Februari 2011 lalu. Tujuannya adalah menyatukan seluruh kekuatan pemberontak pada satu goal bersama: mengganti rejim Khadafi. TNC sangat dekat dengan negeri-negeri imperialis, dan kelompok ini pula yang pertama kali menyerukan kepada NATO untuk campur tangan.

Mustafa Abdel Jalil, pimpinan TNC, adalah bekas Menteri Kehakiman era Khadafi. Ia dikenal karena mendukung reformasi Saif Al Islam Khadafi.

Mahmoud Jibril, Kepala Dewan Eksekutif TNC, adalah bekas pemimpin Dewan Nasional dan Badan Pembangunan Ekonomi Nasional pemerintahan Khadafi. Ia dikenal sebagai penganut neoliberal, dan termasuk orang yang berusaha membawa ekonomi Libya ke dalam perangkap neoliberalisme.

Ada juga nama Ali Al Issawi, bekas Menteri Ekonomi era Khadafi, dan sekarang menjabat sebagai perwakilan luar negeri TNC. Ia dikenal sebagai figur pro-barat dan sangat dekat dengan pemimpin-pemimpin barat.

Komposisi TNC lainnya adalah aktivis HAM dan kelompok pengacara. Sebagian besar berasal dan bermukim di Benghazi.

TNC sendiri bukan organisasi yang berakar ke rakyat. Tidak satupun pejabat TNC yang dipilih melalui pemilihan yang melibatkan rakyat Libya. Motivasi utama pembentukan TNC justru datang dari negara-negara barat. Karena lembaga ini memang dipersiapkan sebagai pemerintahan boneka pasca Khadafi.

Perang Berkelanjutan?

TNC memayungi kelompok oposisi yang sangat luas di Libya. Selain kelompok-kelompok sekuler pro-barat, terdapat juga berbagai faksi islam garis keras, terutama Ikhwanul Muslimin dan Al-Qaeda.

Kelompok sekuler pro-barat tentu saja menghendaki Libya pasca Khadafi menjadi santapan enak negeri-negeri imperialis dari barat. Sedangkan kelompok islam garis keras, sekalipun ada keterkaitan dengan intelijen AS, punya misi tersendiri: mendirikan negara islam Libya.

Pertikaian atau bentrokan diantara kubu pemberontak tidak mustahil terjadi. Seperti bulan Juli 2011 lalu, seorang pemimpin militer pemberontak (TNC), Jenderal Abdul Fattah Younis, dibunuh di Benghazi—sarangnya pemberontak.

Ada tuduhan, pelaku pembunuhan Younis adalah kelompok islam garis keras, yang menghendaki kontrol tertinggi terhadap militer di TNC. Sedangkan tudingan lain menyebut bahwa Younis dibunuh loyalis Khadafi yang menyusup.

Menurut Abdel Bari Atwan, editor Al-Quds Al-Arabi—sebuah majalah di London, situasi pasca Khadafi akan lebih sulit ketimbang sebelum kejatuhan Khadafi. Katanya, sebagian besar pemberontak adalah islam garis keras yang menghendaki negara islam Libya, sedangkan NATO/barat dan sekutu lokalnya menghendaki Libya mengikuti demokrasi berstandar barat. Situasi itulah yang akan memicu pergolakan panjang seperti di Afghanistan sekarang.

Perebutan minyak?

Libya adalah pemilik cadangan minyak terbesar di Afrika. Begitu Tripoli diduduki pemberontak, maka harga minyak dunia pun turun. Ini adalah sebuah sinyal: perang itu adalah untuk minyak.

Barat sendiri sudah mengeluarkan begitu banyak dana untuk membiayai perang media dan militer terhadap Khadafi. Bahkan, tanpa bantuan penuh NATO, maka para pemberontak Libya tidak akan membuat kemajuan apa-apa.

Dalam sebuah serangan ke Tawarga dan Zlitan, pasukan asing malah memimpin serangan. Pasukan barat juga mengawal pasukan pemberontak memasuki Tripoli, baik melalui darat maupun laut.

Menurut Michel Chossudovsky, direktur Centre For Research on Globalization, semua campur tangan barat di Libya adalah untuk mengubah negara penghasil minyak itu menjadi neo-kolonial. Dan, dengan begitu, barat bisa mengangkut minyak-minyak Libya tanpa mengeluarkan banyak uang.

*) Raymond Samuel adalah kontributor Berdikari Online.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut