Gelar Doktor Honoris Causa Yang Merendahkan Martabat Bangsa

Pada agustus 2010, seorang dosen Universitas Padjajaran Bandung menolak penghargaan Satya Lencana Karya Satya dari presiden. Yesmil Anwar, nama dosen itu, mengaku kecewa dengan sikap “lembek” presiden SBY terkait pelecehan yang dilakukan pemerintah Malaysia.

Alasan penolakan Yesmil Anwar sangatlah politis. Penolakan itu merupakan sebuah protes dan sekaligus tamparan terhadap politik pemerintah. Bagi Yesmil, sebuah pendirian politik yang teguh lebih berharga dibanding sebuah penghargaan.

Tetapi, sikap dan keteguhan ala Yesmil itu tidak dimiliki oleh rektor Universitas Indonesia (UI), Gumilar Rusliwa Soemantri. Gumilar, tanpa alasan yang jelas, memberikan gelar doktor honoris causa kepada raja Arab Saudi. Anehnya, tindakan memalukan ini dilakukan oleh kampus kebanggan bangsa Indonesia: Universitas Indonesia.

Gelar itu diantarkan langsung oleh rektor UI kepada raja Abdullah di Arab Saudi. Bukan hanya itu, kategori keahlian pemberian gelar itu adalah kemanusiaan dan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Lagi pula, pemberian penghargaan itu hanya berselang dua bulan setelah kerajaan Arab Saudi menghukum pancung seorang tenaga kerja Indonesia: Ruyati. Bagi sebagian orang, pemberian penghargaan itu melecehkan jutaan buruh migran Indonesia yang diperlakukan tidak manusiawi di Arab Saudi. Kemanusiaan apa yang bisa dihargai dari sebuah negara monarki yang tidak menghargai pekerja migran.

Kita tahu, pemberian gelar itu doktor honoris causa memerlukan persyaratan: hanya diberikan kepada orang yang dianggap berjasa atau berkarya luar biasa untuk kepentingan umat manusia. Tidak sembarangan orang yang bisa menerima penghargaan itu.

Raja Arab Saudi bukanlah orang yang berjasa terhadap kemanusiaan. Pada tanggal 1 Maret 2011 lalu, ketika gerakan pro-demokrasi berkembang luas di Bahrain, kerajaan Arab Saudi mengirimkan 30 tank untuk menindas aktivis pro-demokrasi. Arab Saudi juga termasuk negara yang mendukung serbuan NATO ke Libya. Arab Saudi juga mendukung invasi AS ke Irak. Arab Saudi juga diam ketika Palestina digempur habis-habisan oleh Israel.

Kemanusiaan jenis apa yang harus dihargai di kerajaan Arab Saudi. Jangankan bicara kemanusiaan, pengakuan terhadap hak perempuan saja belum ada. Jangankan hak yang lebih luas, seperti hak sosial, ekonomi, dan politik, hak untuk mengemudi mobil saja perempuan Saudi dilarang. Apakah kebudayaan abad pertengahan semacam ini patut dihargai?

Terhadap keputusan rektor UI tersebut, kita perlu tahu sikap Presiden SBY: apakah merestui atau mengecam pemberian penghargaan itu? Kalau ternyata SBY justru merestui, sekalipun dengan alasan normalisasi diplomatik, maka hal itu adalah sebuah pelecehan terhadap martabat bangsa Indonesia dan sekaligus bukti betapa lemahnya posisi negara kita dihadapan negara lain.

Betapa tidak bermatabatnya kita sekarang. Rektor dari kampus terbaik di negeri ini telah bertingkah layaknya “penjilat”; ia mengantarkan penghargaan itu ke Arab Saudi dan, kata Okky Asokawati—seorang anggota DPR, memerikannya dalam posisi raja Arab Saudi sedang duduk. Bukankah ini mental inlander?

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • MS
  • mrbill

    UI mewakili seluruh Indonesia?? alangkah celakanya!!! kita sangat merasa sangat kasihan dengan nasib para TKW yang disiksa di Arab, eh malah sang tuan yang dari akademisi di Indonesia yang dari UI memberikan gelar HC. memalukan…Jual saja bangsa ini kepada raja Arab…

  • penggali kubur

    GAK BISA COMENT .. CUMA TEPOK JIDAT

  • SUSILO YUDO NYOLONG

    GAK APA – APA … LAMJUTKAN SAJA KEHANCURANYA ( SELAMAT JUGA PADA TEMAN2 SYA 1 PARTAI YNG SUDAH MEMPERKAYA DIRI ” INGAT PEMILU TAHUN DEPAN KITA TIDAK BISA LAGI BERKUASA MAKA DARI ITU SEGERALAH MENUMPUK HARTA KITA MASING2 ) .. LANJUTKAN

  • maia

    HAK KAMI WARGA INDONESIA JANGAN DIJADIKAN ALIBI SEBAGAI TINDAK TANDUK YG TIDAK JELAS.